Tingkat Pelayanan Moda Transportasi Massal dalam Skala Perkotaan Bekasi-Jakarta
ANNISA SUKMANINGTYAS, Iwan Suharyanto, S.T., M.Sc.
2015 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTADaya tarik utama dari sebuah kota adalah lapangan kerja. Lapangan kerja memicu terjadinya migrasi dengan salah satu bentuknya yaitu komuter. Jumlah komuter Jabodetabek terbanyak tahun 2012 yaitu komuter Bekasi dan mencapai 57% dari jumlah penduduknya. Komuter Bekasi menggunakan berbagai macam moda transportasi dalam melakukan perjalanan kerja. Permasalahan kemacetan menjadi alasan kebutuhan akan moda transportasi massal berupa bus dan Kereta Commuter Line dengan rute Bekasi Line (KCL Bekasi Line). Kedua moda memiliki perbedaan yang akan dilihat dari peran mereka sebagai transportasi publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan tingkat pelayanan kedua moda tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif dengan unit analisis yaitu tingkat pelayanan fasilitas transportasi publik yang akan dinilai dari 6 variabel. Pengumpulan data dilakukan dengan survei lapangan, wawancara, studi pustaka, dan data sekunder dari instansi terkait. Analisis data dilakukan berdasarkan pedoman penghitungan tingkat pelayanan atau level of service transportasi publik perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pelayanan bus perkotaan Bekasi-Jakarta masuk dalam kelas tingkat pelayanan (LoS) 2 dengan kalkulasi total LoS 16 dan KCL Bekasi Line masuk dalam kelas LoS 3 dengan kalkulasi total LoS 17. Kedua moda seimbang dalam aspek keberadaan moda yang terorganisir dan persentase moda per spesifikasi. Bus unggul dalam aspek ketersediaan, jangkauan, dan tingkat kenyamanan, sementara KCL Bekasi Line unggul dalam aspek rata-rata waktu tunggu penumpang. Secara keseluruhan didapatkan bahwa tingkat pelayanan bus perkotaan Bekasi-Jakarta lebih unggul dibandingkan dengan KCL Bekasi Line.
The pulling force of a city is its jobs. Jobs encourage urbanization which makes commuters. In 2008, 40% of commuters in Indonesia were located in Jabodetabeka. Among Jabodetabek in 2012, Kota Bekasi had the largest number of commuters which amount to 57% of its residents. Commuters from Bekasi use various kinds of modes to go to work. Considering traffic jump has become a problem that rise the need of public transit, the focus is directed to two mass public transits, bus and Kereta Api Commuter Line Bekasi Line (KCL Bekasi Line). Both of those modes have differences that are going to be observed from the urban transport point of view. This research is aimed to identify and to compare level of services of both modes. This research utilized deductive-quantitative approach. The analysis unit of this research was public transport facilities level of service which was divided into 6 variables. Data review was done from field observation and interview, literatures, and secondary data from institutions. The data was analyzed based on manual and theory of urban transport level of service which then classified into 4 levels. The result of this research showed that bus with route Bekasi-Jakarta had service level 2 with calculated level of service 16 while KCL Bekasi Line had service level 3 with calculated level of service 17. Both of the modes were even in presence of organized public transport system aspect and percentage fleet as per mode specification aspect. Bus was better in extent of supply aspect, service coverage aspect, and level of comfort aspect while commuter train was better in average waiting time aspect. Overall it can be said that Bekasi-Jakarta bus' level of service is better than KCL Bekasi Line's.
Kata Kunci : level of service, bus,KRL,transportasi publik perkotaan,komuter,perbandingan