Laporkan Masalah

Relokasi pedagang kaki lima di kawasan Pasar 16 Ilir ke Pasar retail Jakabaring Palembang

QODARIAH, Danila, Dr. Samodra Wibawa

2005 | Tesis | Magister Administrasi Publik

Terbatasnya lapangan pekerjaan dan banyaknya tenaga kerja yang berpendidikan rendah, menyebabkan perkembangan sektor informal dari hari ke hari semakin pesat, begitu juga yang terjadi di Kota Palembang. Pedagang kaki lima ini berpusat di sekitar kawasan Pasar 16 Ilir, yang paling strategis untuk berdagang karena berada di pusat kota dan pusat perdagangan di Kota Palembang. Pedagang kaki lima ini menyebabkan kawasan Pasar 16 Ilir menjadi macet, kotor, bau dan semerawut. Hal ini mendorong pemerintah Kota Palembang untuk merelokasi PKL tersebut ke lokasi baru. Lokasi yang dipersiapkan yaitu Pasar Retail Jakabaring. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program relokasi PKL di kawasan Pasar 16 Ilir ke Pasar Retail Jakabaring Palembang. Analisis terhadap program ini didasarkan pada berbagai teori implementasi kebijakan. Dari pemahaman terhadap proses implementasi kebijakan tersebut, kemudian analisis dilanjutkan untuk mengetahui efektivitas program dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas program. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder.Data primer diperoleh dari wawancara dengan para stakeholders yang terlibat dalam implementasi program relokasi ini dan observasi di lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari surat kabar, dokumen Dinas Pol-PP, BPS Sumatera selatan, Risalah rapat DPRD Kota Palembang, dokumen Koperasi Tunas Baru, dan dokumen Dinas Pasar Kota Palembang. Berdasakan hasil penelitian di lapangan disimpulkan bahwa Implementasi program relokasi PKL di kawasan Pasar 16 Ilir ke Pasar Retail Jakabaring menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi. Ditinjau dari segi tingkat pencapaian tujuan, proses dan waktu yang diperlukan sesuai rencana. Sekalipun terjadi beberapa kali demo dari para PKL, namun secara keseluruhan program ini berjalan dengan efektif. Kelancaran ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, adanya koordinasi yang baik antara instansi yang terkait. Kedua, sikap agen pelaksana yang sangat mendukung pelaksanaan program. Ketiga, tersedianya sumber daya manusia agen pelaksana yang memadai. Keempat, kondisi ekonomi Palembang yang memadai serta adanya bantuan dana dari Kementerian Koperasi. Kekurangan program ini adalah pemerintah Kota Palembang kurang memperhatikan kemampuan ekonomi para PKL untuk membeli petak di Pasar Retail dan sosialisasi dalam rangka mempercepat perkembangan Pasar Retail sehingga pendapatan pedagang kembali normal. Berdasarkan hal tersebut, penulis memberikan rekomendasi yaitu pemerintah harus lebih mempertimbangkan kemampuan ekonomi PKL dan memikirkan kesejahteraan PKL setelah direlokasi sehingga mereka mampu membeli petak, betah berjualan di Pasar Retail dan tidak kembali berdagang di kawasan Pasar 16 Ilir. Sementara untuk kota lain yang juga menghadapi masalah yang sama, penulis merekomendasikan program ini sebagai contoh yang dapat ditiru.

Limited vacancies and many of labors which have low education caused informal sector grew up fast. This problem was also happened in Palembang. The street enterprises existed in the around of Pasar 16 Ilir. This place is the most strategic place for trading because it was in the downtown as well as the trade center in Palembang. This Street Enterprises caused the traffic in Pasar 16 Ilir became stuck and the street was dirty. This problem pushed the Palembang’s government to move this street enterprises to the new place. Pasar Retail Jakabaring was the location chosen by the government to move the street enterprises. If they didn’t want to move to Pasar Retail Jakabaring, they could choose one of 15 traditional markets in Palembang. This research aimed to describe of street enterprises relocation program in Pasar 16 Ilir to the Pasar Retail Jakabaring. This analysis based on many public implementation theories. From the understanding of implementation process, analysis continued to know the program’s effectiveness and factors that influence program’s effectiveness.The research method used qualitative approach by using primary and secondary data. Primary data obtained from interview with all stakeholders involved in implementation of relocation program and from field observation, while secondary data obtained from documents of Dinas Pol-PP, resume of DPRD’s meeting, documents of Koperasi Tunas Baru and documents of Dinas Pasar Kota Palembang. Based on this field investigation, it can be concluded that implementation of relocation program in around of Pasar 16 Ilir to Pasar Retail Jakabaring showed high effectiveness. If it reviewed from goal achievement, the process and the time needed were as well as it planed. Although there were several cloisters merchant’s demonstration, the overall program done effectively. This fluency was achieved because first, there was good coordination between related institutions. Second, executor agency gave good support to this program. Third, human resources were available. Fourth, economic condition of Palembang was good and also there was fund from Ministry of Koperasi. Lacking of this program was the Palembang’s government less paid consideration to the street enterprises’s economic ability to buy place for trading and the socialization of Pasar Retail, so Pasar Retail could expand faster. Based on this, the government should have given more attention to street enterprises economic ability and street enterprises’s prosperity after relocation program so they could buy the place for trading, liked to stay in it and not comeback to the Pasar 16 Ilir. This program can be implemented for the other city which has the same problem.

Kata Kunci : Pedagang Kaki Lima, Implementation, Relocation, Street enterprises

  1. S2-2005-PAS-Danila_Qodariah-Abstract.pdf  
  2. S2-2005-PAS-Danila_Qodariah-Bibliography.pdf  
  3. S2-2005-PAS-Danila_Qodariah-TableofContent.pdf  
  4. S2-2005-PAS-Danila_Qodariah-Title.pdf