Evaluasi Kualitas Permukiman Kawasan Aerocity Kota Banjarbaru (Kasus: Kelurahan Guntung Payung)
LUTHFIA DEKA PRASTIWI, Ir. Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM.
2022 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKota Banjarbaru merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan dan sebagai perkotaan inti dari Wilayah Metropolitan BANJARBAKULA dengan status sebagai PKN yang melayani Pulau Kalimantan Bagian Selatan. Sebagai pusat pertumbuhan potensial, Kota banjarbaru menjadi tujuan pengembangan proyek proyek strategis baik tingkat Provinsi maupun Nasional. Salah satu rencana strategis tersebut adalah pengembangan pusat pertumbuhan baru berupa kota bandara atau yang dikenal dengan konsep pengembangan Aerocity. Selain menjadi pusat pertumbuhan baru, Kawasan Aerocity ini juga direncanakan menjadi pusat permukiman baru dengan kepadatan sedang hingga tinggi. Beberapa isu terkait permukiman disekitar bandara seperti isu kebisingan serta isu keselamatan yang tentunya mempengaruhi kenyamanan penduduk yang bermukim disekitar bandara. Disisi lain belum diketahui kondisi fisik permukiman dan ketersediaan sarana, prasarana, serta utilitas lingkungan permukiman yang akan menjadi pusat permukiman baru ini. Perlunya evaluasi kualitas permukiman disekitar bandara sebagai bahan pertimbangan rencana pengembangan Aerocity di Kota Banjarbaru kedepannya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas permukiman sekitar Bandara Syamsudin Noor yang rencananya akan dikembangkan dengan konsep Aerocity khususnya di Kelurahan Guntung Payung dimana kelurahan ini yang paling dekat dengan landasan pacu pesawat, masuk kedalam kategori zona bahaya kecelakaan dalam KKOP, serta dilalui oleh lalu lintas pesawat tiap harinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deduktif kuantitatif-kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi, penyebaran kuisioner dan wawancara terhadap masyarakat, sedangkan data sekunder diperoleh dari pihak terkait yang berwenang. Dalam proses analisis, dilakukan penilaian terhadap kualitas fisik lingkungan, sarana prasarana, dan penilaian terhadap kebisingan serta ancaman keselamatan yang menjadi isu pengembangan permukiman di sekitar bandara. Penilaian kualitas permukiman kawasan rencana Aerocity ini menggunakan 10 variabel utama yang didapatkan dari hasil deduksi teori-teori penelitian yang telah dilakukan sebelumnya serta literatur berkaitan. Dalam proses penilaian, dilakukan perbandingan antara hasil yang didapatkan di lapangan dengan standar indikator yang telah ditetapkan. Berdasarkan analisis dan evaluasi yang telah dilakukan, 19 dari total 23 indikator menunjukkan hasil baik kecuali 4 indikator yaitu ketersediaan layanan pengangkutan sampah, ketersediaan sarana pendidikan, ketersediaan sarana ruang publik, dan tingkat kebisingan terukur. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan secara keseluruhan kualitas permukiman di Kelurahan Guntung Payung sebagai kawasan rencana pengembangan Aerocity adalah baik.
Banjarbaru City is the capital of South Kalimantan Province and the core urban area of the BANJARBAKULA Metropolitan Area, which has the status of PKN and serves the island of Southern Kalimantan. Banjarbaru, as a potential growth center, has become a destination for developing strategic projects at the provincial and national levels. One of the strategic plans is to build a new growth center in the form of an airport city, known as the Aerocity development concept. In addition to being a new growth center, the Aerocity area is planned to become a new medium to high-density residential center. Several issues related to airport settlements, such as noise and safety concerns, impact airport residents' comfort. However, the physical conditions of the settlements, as well as the availability of facilities, infrastructure, and utilities for the residential environment that will become the center of this new settlement, are unknown. As part of the future, Aerocity development plan in Banjarbaru City, the quality of settlements surrounding the airport must be evaluated. This study aims to assess the quality of settlements surrounding Syamsudin Noor Airport, which is planned to be developed using the Aerocity concept, particularly in Guntung Payung Village, which is closest to the aircraft runway and is classified as an accident hazard zone in the KKOP and is traversed by aircraft traffic every year. The quantitative-qualitative deductive research method is used in this study, along with descriptive analysis techniques. Primary data was gathered through observation, questionnaire distribution, and community interviews, while secondary data was obtained from the appropriate authorities. An assessment of the physical quality of the environment, facilities, and infrastructure, as well as an assessment of noise and safety threats that are issued for the development of settlements around the airport, are carried out during the analysis process. The assessment of the quality of settlements in the Aerocity planned area uses 10 main variables derived from previous research theories and related literature. During the assessment process, the results obtained in the field are compared to the standard indicators that have been established. Based on the analysis and evaluation, 19 of the total 23 indicators produced positive results, except for four indicators: the availability of waste transportation services, the availability of educational facilities, the availability of public space facilities, and the measured noise level. Based on these findings, it is possible to conclude that the overall quality of the settlements in Guntung Payung Village, which serves as the Aerocity development plan area, is satisfactory.
Kata Kunci : Aerocity, Evaluasi, Guntung Payung, Kota Banjarbaru, Kualitas Permukiman.