Gejala Depresi Pada Remaja Awal Dan Hubungannya Dengan Citra Tubuh (Analisis Data GEAS Indonesia Tahun 2018)
SUCI GUSTIA SAPUTRI, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.OG(K) ; Althaf Setyawan, S.Si., MPH
2022 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATLatar Belakang: Depresi merupakan salah satu burden of disease penyakit jiwa di Indonesia. Depresi pada remaja adalah masalah kesehatan serius karena tidak hanya mengalami perasaan stress dan sedih namun, remaja akan mengalami kehilangan minat secara terus-menerus bahkan menetap jika tidak adanya penanganan yang serius. Citra tubuh menjadi salah satu dari faktor yang menyebabkan depresi pada remaja. Hal ini dikarenakan remaja memiliki fokus yang tinggi terhadap tubuh dan penampilannya. Mereka akan membentuk standar tubuh ideal dan membandingkan tubuhnya dengan orang lain. Kegagalan dalam menghadapi ini akan menyebabkan remaja menarik diri dan terjadinya depresi. Tujuan Penelitian: Mengetahui remaja awal yang memiliki gejala depresi dihubungkan dengan citra tubuh (Study GEAS 2018). Metode Penelitian: Analisis cross sectional menggunakan data GEAS Indonesia tahun 2018 (n=3.903 responden). Data diperoleh dari remaja yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data akan dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik. Keseluruhan tes menggunakan confidence interval (CI) 95% dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Remaja awal mengalami gejala depresi sebanyak 10%. Diantara dua aspek citra tubuh, body satisfaction negatif merupakan faktor yang paling berpengaruh dibandingkan dengan body perception negatif. Body satisfaction negatif memiliki hampir 2 kali lebih tinggi (OR=1.90, 95% CI= 1.52-2.38) dan body perception negatif memiliki 1,4 kali lebih tinggi ditemukan pada remaja dengan gejala depresi (OR=1.41, 95% CI= 1.01-1.95). Selanjutnya gejala depresi pada remaja awal lebih banyak ditemukan pada remaja laki-laki, usia diatas 12 tahun, status ekonomi rendah, prestasi yang lebih buruk, durasi media yang rendah, pengalaman ACEs, korban bullying, domisili, dan pernah mengkonsumsi NAPZA, sedangkan struktur orang tua dan hubungan orang tua tidak ada hubungan dengan gejala depresi. Kesimpulan: Setelah mengontrol variabel kovariat lain body satisfaction tetap menjadi faktor yang berhubungan dengan gejala depresi pada remaja. Hal ini berbeda dengan body perception setelah mempertimbangkan domisili body perception secara statistic tidak berhubungan dengan gejala depresi namun secara praktis meningkatkan kemungkinan gejala depresi pada remaja awal. Penelitian ini tidak dapat menentukan kausalitas antara citra tubuh dengan gejala depresi namun dapat memberikan dasar dalam membangun program pencegahan yang lebih baik pada remaja awal.
Background: Depression is one of the burdens of mental illness in Indonesia. Depression in adolescents is a serious health problem because they experience feelings of stress, sadness, and adolescents will experience a loss of interest continuously and even permanently if there is no serious treatment. Body image is one of the factors causing depression in adolescents. This is because teenagers have a high focus on their body and appearance. They will establish ideal body standards and compare their bodies with others. Failure to deal with this will cause adolescents to withdraw and depression. Research Objectives: To find out that early adolescents who have symptoms of depression are associated with body image (Study GEAS 2018). Research Methods: Cross sectional analysis using GEAS Indonesia data in 2018 (n = 3,903 respondents). Data were obtained from adolescents who met the inclusion and exclusion criteria. The data will be analyzed by chi-square test and logistic regression. All tests used a 95% confidence interval (CI) with a significance level of p<0.05. Results: 10% of early adolescents with depression symptoms. Among the two aspects of body image, negative body satisfaction is the most influential factor compared to negative body perception. Negative body satisfaction was almost 2 times higher (OR=1.90, 95% CI= 1.52-2.38) and negative body perception was 1.4 times higher in adolescents with depressive symptoms (OR=1.41, 95% CI= 1.01-1.95). Furthermore, symptoms of depression in early adolescence were more commonly found in boys, aged over 12 years, low economy, poorer achievement, low media duration, experience with ACEs, victims of bullying, domicile, and had used drugs, while the structure and relationship of parents no association with depressive symptoms. Conclusion: After controlling for other covariates, body satisfaction remains a factor associated with depressive symptoms in adolescents. This is different from body perception after considering domicile, which is not statistically associated with depressive symptoms but practically increases the likelihood of depressive symptoms in early adolescence. This study cannot determine causality between body image and depressive symptoms but can provide a basis for building better prevention programs in early adolescence.
Kata Kunci : Body Image, body satisfaction, body perception, Gejala Depresi