KONSEP SINTUVU MASYARAKAT KAILI SULAWESI TENGAH DALAM TINJAUAN FILSAFAT KEBUDAYAAN CORNELIS ANTHONIE VAN PEURSEN DAN RELEVANSI DENGAN PENGUATAN BUDAYA NASIONAL
DWI SEPTIWIHARTI, Dr. Septiana Dwiputri Maharani; Dr. Rizal Mustansyir
2020 | Disertasi | DOKTOR FILSAFATPenelitian ini berjudul Konsep Sintuvu Masyarakat Kaili Sulawesi Tengah dalam Tinjauan Filsafat Kebudayaan Cornelis Anthonie van Peursen dan Relevansi dengan Penguatan Budaya Nasional. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat dewasa ini yang rentan dengan konflik akibat terpinggirkannya nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini dianggap bersifat idealis utopis jauh dari jangkauan praktis. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan dan menganalisis secara kritis hakikat budaya sintuvu, perkembangan budaya sintuvu, serta relevansi sintuvu masyarakat Kaili dengan penguatan budaya nasional menggunakan teori filsafat kebudayaan Cornelis Anthonie van Peursen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif bidang filsafat dengan model penelitian mengenai Pandangan Filosofis di Lapangan. Objek material penelitian adalah budaya sintuvu masyarakat Kaili dan objek formal penelitian adalah filsafat kebudayaan Cornelis Anthonie van Peursen. Metode pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah kepustakaan didukung dengan wawancara lapangan. Narasumber penelitian terdiri dari budayawan, sejarawan, dan tokohtokoh adat Kaili Sulawesi Tengah. Analisis penelitian menggunakan metode hermeneutik filsafat dengan menerapkan unsur-unsur metodis yaitu interpretasi, kesinambungan historis, idealisasi, heuristika, dan deskripsi. Hasil penelitian menunujukkan pertama, budaya sintuvu adalah simbol persatuan masyarakat Kaili yang dibangun atas nilai dasar humanis-sosial-religius yang termanifestasi dalam komponen nilai harmoni, kekeluargaan, semangat berbagi, solidaritas, musyawarah mufakat, tanggung jawab, dan keterbukaan; bersumber dari realitas konkret kehidupan masyarakat Kaili sepanjang sejarah. Kedua, bahwa nilai humanis-sosial-religius yang mendasari budaya sintuvu ditemukan dalam setiap tahap perkembangan budaya sintuvu yakni tahap mitis, ontologis, dan fungsional; sebagai acuan normatif dalam kehidupan sosial masyarakat Kaili. Namun, perkembangan budaya sintuvu tahap mitis, ontologis, dan fungsional menampilkan ciri yang berbeda dalam mengaktualisasikan nilainilai sintuvu tersebut. Sintuvu tahap mitis menghadirkan pemahaman nilai kebersamaan sebagai nilai ketaatan dan penghargaan kepada leluhur yang disimbolkan melalui upacara-upacara tradisi berunsur mitis dan magis. Sintuvu tahap ontologis menghadirkan pemahaman nilai kebersamaan dalam bentuk kesadaran identitas kelompok etnik. Sintuvu tahap fungsional menghadirkan pemahaman nilai kebersamaan sebagai kesadaran kultural operatif, yakni kesadaran hidup bersama berdasarkan tatanan nilai budaya sintuvu yang diwujudkan dalam bentuk tindakan praktis tanpa membedakan latar belakang SARA. Ketiga, relevansi budaya sintuvu masyarakat Kaili dengan penguatan budaya nasional ditunjukkan melalui beberapa peran sintuvu yakni sintuvu sebagai simbol persatuan, simbol empati, simbol demokrasi, dan simbol kesetaraan dalam kehidupan bersama. Kesimpulan penelitian menununjukkan bahwa budaya sintuvu masyarakat Kaili layak untuk dipertahankan dan dikembangkan bagi keberlangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagaimana diamanahkan dalam Pancasila khususnya sila Persatuan Indonesia.
This research is entitled The Sintuvu Concept of the Kaili Community in Central Sulawesi based on Cornelis Anthonie van Peursen's Cultural Philosophy and Its Relevance to National Cultural Strengthening. The background of this research is motivated by the condition of today's society that is vulnerable to conflict due to the marginalization of local wisdom values that have been considered to be idealistic utopian far from practical reach. The purposes of this research are critically finding and analyzing the nature of sintuvu culture, the development of sintuvu culture, and the relevance of Kaili community's sintuvu culture in conjunction with strengthening national culture using Cornelis Anthonie van Peursen's cultural philosophy theory. This research is a type of qualitative research in philosophy with a research model on Philosophical Views in the Field. The object of the research material is the sintuvu culture of the Kaili community and the formal object of research is the cultural philosophy of Cornelis Anthonie van Peursen. The research data collection method used is literature supported by field interviews. The informants of the research are the prominent figures in Kaili community's culture, history, and tradition. The analysis of research uses the hermeneutic method of philosophy by applying methodical elements namely interpretation, historical continuity, idealization, heuristics, and description. The results of the research found that first, the sintuvu culture is a unifying symbol of the Kaili community, built on basic humanistic-social-religious values that manifest in the components of harmony, kinship, the spirit of sharing, solidarity, deliberation, consensus, responsibility and openness; sourced from the concrete reality of Kaili's life throughout history. Second, the humanistic-social religious values that underlie in the sintuvu culture are found in every stage of the sintuvu cultural development namely the mythic, ontological, and functional stages; as a normative reference in the Kaili community's social life. However, the sintuvu cultural development of the mythic, ontological, and functional stages displays different characteristics in actualizing these values. The mythic stage of sintuvu presents an understanding of the togetherness value as the values obedience and respect for the ancestors, which is symbolized through the mythic and magical rituals. The ontological stage of sintuvu presents an understanding of the togetherness value in the form of ethnic group identity awareness. The functional stage of sintuvu presents an understanding of togetherness value as operative cultural awareness, namely the awareness of shared lives based on the arrangement of the values of sintuvu culture, realized in the form of practical actions without differentiating the ethnicity, religion, and race. Third, the relevance of Kaili community's sintuvu culture to national cultural strengthening is shown through several roles of sintuvu, namely sintuvu as the symbols of unity, empathy, democracy, and equality in shared lives. The conclusion of the research shows that Kaili community's sintuvu culture deserves to be maintained and developed for the survival of the community, nation, and state as mandated in the Pancasila, especially the unity of Indonesia principle.
Kata Kunci : filsafat kebudayaan, sintuvu, kaili, persatuan, humanis-sosial-religius, cultural philosophy, unity,