Penataam Kawasan Pesisir Widuri dan Pesisir Tanjungsari, Kabupaten Pemalang dengan Konsep Community Based Ecotourism
M YUSUF ZAKY A, Doddy Aditya Iskandar, S.T., MCP., Ph.D.
2020 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPengembangan kawasan pesisir terutama di kawasan perkotaan memiliki tantangan yang cukup berbeda dan lebih sulit dibandingkan dengan pengembangan kawasan pesisir di pedesaan. Faktor pembedanya antara lain ketersediaan ruang dan jumlah penduduk. Salah satu kota kecil-sedang yang memiliki kawasan pesisir perkotaan namun cukup padat adalah Kabupaten Pemalang. Kawasan pesisir perkotaan yang ada di Kabupaten Pemalang yaitu Kawasan Pesisir Widuri-Tanjungsari. Selain menjadi kawasan wisata, terdapat permukiman nelayan di kawasan ini. Pada kawasan pariwisata, terdapat beberapa objek wisata yang tidak terintegrasi. Selain itu, banyak dijumpai industri pengolahan ikan asin yang berada di kawasan wisata Pantai Widuri yang menimbulkan bau tidak sedap sehingga mengganggu wisatawan. Pada kawasan permukiman Pesisir Tanjungsari, masih banyak ditemui masalah terutama infrastruktur seperti masalah limbah dan sampah yang tidak terkelola. Ditambah, saat ini kampung nelayan harus berhadapan dengan ancaman bencana yang sedang mengintai pesisir utara jawa yaitu abrasi dan banjir rob. Maka, perlu adanya perencanaan kawasan Pesisir Widuri-Tanjungsari Pemalang agar penataan ruang yang multisektor dapat terintegrasi dengan baik serta kerentanan terhadap bencana banjir rob dapat diminimalisir sehingga kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan di kawasan Pesisir Widuri-Tanjungsari dapat meningkat.
The development of coastal areas, especially in urban areas, has quite different challenges and is more difficult than the development of coastal areas in rural areas. The distinguishing factors are the availabillity of space and population. A small-medium city that has an urban coastal area but is quite dense is Pemalang. The urban coastal area in Pemalang is Widuri-Tanjungsari Coastal Area. In addition to being a tourist area, there are fishing village in this area. In the tourism area, there are several attractions that are not integrated. There are also many salted fish processing industries in the tourist area of Widuri Beach that cause unpleasant smell that disturb tourists. In the Tanjungsari coastal area, there are still many problems, especially infrastructure, such as waste and waste that are not well-managed. Plus, now the fishing village has to deal with the threat of disaster that is lurking in the north coast of Java, namely abrasion and tidal floods. Therefore, it is necessary to plan the Widuri-Tanjungsari Coastal area in Pemalang so that the multi-sector spatial planning can be well integrated and the vulnerability to the abrasion and tidal floods can be minimized so that the socio-economic and environmental conditions in the Widuri-Tanjungsari Coastal area can be increased.
Kata Kunci : Ekowisata, Pariwisata Berbasis Komunitas, Integrasi Wisata, Banjir Rob, Abrasi