ONE-STOP CULINARY TOURISM CENTRE DI KAWASAN WISATA PANTAI PADANG DENGAN PENDEKATAN PSIKOGRAFIS WISATAWAN : GASTRONOMIC EXPO

Penulis

Cita Najmi Aulianisa

Pembimbing: Kurnia Widiastuti ST., MT.


Makanan dan Minuman merupakan kebutuhan dasar manusia. Seiring perkembangan zaman aktivitas kuliner tidak hanya menjadi kebutuhan pokok tetapi juga menjadi salah satu tujuan dalam pariwisata. Kegiatan kuliner kini merupakan hal penting dalam pariwisata. Kuliner disetiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing, termasuk kuliner Minangkabau yang sudah terkenal hingga mancanegara. Namun di Kota Padang sendiri belum ada fasilitas sebagai pusat aneka kuliner khas Minangkabau. Kota Padang terkenal dengan pariwisatanya, salah satunya adalah kawasan Wisata Pantai Padang yang merupakan objek wisata unggulan di pusat Kota Padang. Meningkatnya jumlah wisatawan dari tahun ke tahun menjadi alasan Pemerintah Kota Padang untuk mengembangan kawasan Wisata Pantai Padang. Sesuai RTRW Kota Padang tahun 2010-2030 dilakukan penataan berupa pembangunan taman pedestrian di sepanjang bibir pantai di Kawasan Wisata Pantai Padang. Pembangunan ini berdampak pada aktivitas PKL pantai yang kehilangan tempat berjualan. Dikhawatirkan juga dapat menghilangkan aktivitas kuliner yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan Pantai Padang. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan sebuah solusi untuk menampung relokasi PKL pantai sekaligus sebagai tujuan wisata kuliner yang menyediakan dan memperkenalkan keragaman kuliner khas MInangkabau, berupa sarana Pusat Wisata Kuliner di kawasan Wisata Pantai Padang. Aktivitas wisata kuliner yang semula berada di bibir pantai kemudian direlokasi ke sebuah Pusat Wisata Kuliner di kawasan Wisata Pantai Padang memerlukan sebuah strategi untuk mendatangkan wisatawan. Maka digunakanlah salah satu teori Psikologi Pariwisata yaitu Psikografis Wisatawan yang mengkaji sifat kepribadian dan kebiasaan wisatawan dalam berwisata. Dengan ini maka didapatkan bentuk kebutuhan-kebutuhan tertentu yang diinginkan wisatawan terhadap suatu objek wisata, salah satunya adalah kebutuhan edukasi. Beberapa masalah utama yang ditemukan dalam perancangan Pusat Wisata Kuliner ini adalah (1) Bagaimana Pusat Wisata Kuliner mewadahi sarana edukasi rekreatif sekaligus memfasilitasi PKL, yang terintegrasi dengan pantai?, (2) Bagaimana menciptakan pengalaman ruang yang menonjolkan pengenalan kekhasan kuliner Minangkabau?, (3) Bagaimana memenuhi kebutuhan Wisatawan Alosentris dibalik kebutuhan Wisatawan Psikosentris?. Dari permasalahan tersebut maka dipilih konsep Gastronomic Expo sebagai solusi desain dengan transformasi desain : (1) Program Edukasi Rekreatif sebagai Pengantar Kegiatan Kuliner, (2) Atraksi Pertunjukan Kuliner sebagai Pengalaman Ruang Makan yang Unik, (3) Suasana Ruang yang Ber-Atmosfer Pantai, (4) Level Karakter Ruang Kuliner Berdasarkan Kepribadian Wisatawan, (5) Ruang Terbuka Hijau Sebagai Taman PKL yang Rekreatif.

Food and Beverage is a human basic need. Along with the development of the era, culinary not only become basic necessities but also become one of the goals in tourism. Culinary activities are now an important thing in tourism. Culinary in each region has its own characteristics, including Minangkabau culinary that has been well known to foreign countries. But in Padang city there are no facilities as a center for typical culinary of Minangkabau. Padang City is famous for its tourism, one of that is the Padang Beach Tourism area which is a leading tourist attraction in the center of Padang City. The increasing of number of tourists from year to year is the reason for the City of Padang Government to develop Padang Beach Tourism area. Based on the Padang City Spatial Plan for 2010-2030, a structuring of pedestrian parks was carried out along the coastline in the Padang Beach Tourism Area. This development had an impact to the activities of shoreline street vendors who lost their place to trading. It is feared that it can also eliminate shoreline culinary activities that have become main tourists destinations in Padang Beach. Based on this issues, a solution is needed to accommodate the relocation of shoreline street vendors as well as a culinary tourist destination that provides and introduces the typical culinary of MInangkabau, that is a One-Stop Culinary Tourism Center in the Padang Beach Tourism area. Culinary tourism activities that were originally located on the shoreline then relocated to a Culinary Tourism Center in Padang Beach Tourism area requires a strategy to attract tourists. Then, one of the theories of Tourism Psychology is used, that is Tourist Psychographics which examines the personality traits and habits of tourists in traveling. With this, the certain needs is desired by tourists to a tourist attraction, one of them is the need of education. Some of the main problems found in designing this Culinary Center are (1) How does the Culinary Tourism Center accommodate recreational educational facilities while facilitating street vendors, which are integrated with the beach? (2) How to create a space experience that highlights the introduction of Minangkabau culinary specialties?, (3) How to meet the needs of Alocentric Travelers behind the needs of Psychocentric Travelers? From these problems, the Gastronomic Expo concept was chosen as a design solution with some design transformations : (1) The Recreational Education Program as an Introduction to Culinary Activities, (2) Culinary Show Attractions as a Unique Dining Room Experience, (3) Space Atmosphere with Beach Atmosphere, (4) Character Level of Culinary Space Based on Tourist Personality, (5) Green Open Space as a Recreational Street Vendor Park.

Kata kunci Wisata, Kuliner, Minangkabau, Psikografis, Pantai Padang, Gastronomic Expo
Program Studi S1 ARSITEKTUR UGM
No Inventaris
Deskripsi
Bahasa Indonesia
Jenis Skripsi
Penerbit [Yogyakarta] : Universitas Gadjah Mada, 2019
Lokasi Perpustakaan Pusat UGM
File
  • Anda dapat mengecek ketersediaan versi cetak dari penelitian ini melalui petugas kami dengan mencatat nomor inventaris di atas (apabila ada)
  • Ketentuan Layanan:
    1. Pemustaka diperkenankan mengkopi cover, abstrak, daftar isi, bab pendahuluan, bab penutup/ kesimpulan, daftar pusatak
    2. Tidak diperbolehkan mengkopi Bab Tinjauan Pustaka, Bab Pembahasan dan Lampiran (data perusahaan/ lembaga tempat penelitian)
    3. Mengisi surat pernyataan, menyertakakan FC kartu identitas yang berlaku

<< kembali