Laporkan Masalah

INTEGRASI SPASIAL PERTAMBANGAN BATUBARA ANTARA LAHAN BEKAS TAMBANG DAN KAWASAN BUDIDAYA KECAMATAN LAWANG KIDUL

FRE CHILIA KARLINA, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D

2016 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Ruang merupakan wadah aktivitas dan obyek pemanfaatan bagi manusia dan makhluk hidup yang hidup didalamnya. Ruang di Kabupaten Muara Enim memiliki potensi ruang yang berbeda dengan ruang dikabupaten lain. Potensi tersebut adalah adanya kandungan batubara yang tersebar di Kabupaten Muara Enim khususnya di Kecamatan Lawang Kidul. Potensi ini, memunculkan adanya kegiatan penambangan batubara yang dinaungi oleh satu Badan Usaha Milik Negara. Kegiatan Penambangan merupakan salah satu bentuk kegiatan budidaya yang tercantum dalam Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang. Kegiatan pertambangan yang memanfaatkan ruang yang ada, mengakibatkan adanya suatu fenomena ruang yang unik yaitu adanya asumsi keterhubungan dan keterikatan antara kawasan pertambangan dan kawasan budidaya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan mengenai kondisi yang terjadi antara lahan bekas tambang dan kawasan budidiya yang terkait dengan integrasi spasial keduanya. Identifikasi ini dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan olah data sekunder. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode induktif kualitatif fenomenologi. Dari hasil penelitian ini, didapatkan kesimpulan bahwa kondisi yang terjadi terhadap kaitan antara lahan bekas tambang dan kawasan budidaya adalah adanya integrasi spasial pertambangan batubara antara lahan beksa tambang dan kawasan budidaya. Integrasi spasial muncul karena adanya keterhubungan dan keterkaitan antara lahan bekas tambang dan kawasan budidaya. selain itu, integrasi spasial dapat terjadi karena adanya faktor-faktor pendukung didalamnya. Melalui penelitian ini, penemuan fenomena integrasi spasial dapat menjadi bahan pertimbangan dan acuan bagi kegiatan pertambangan yang ada di Indonesia.

Space is a place for human activities and the exploiting object for human and creatures that lived on it. Space in Muara Enim Regency has the potential of different space with other regency. That potential is the existence of coal deposits spread over in Muara Enim Regency especially in Lawang Kidul District. This potency rise up the coal mining shaded by State-Owned Enterprises. Mining activity is one form of cultivation activities referred to Spatial Planning Act No. 26 of 2007 on Spatial Planning. Mining activities resulting an unique phenomenon that is assumptiom of connectedness and attachment between the mining area and cultivation area. This study aimed to identify and describe the conditions that occur between mined land and cultivation area associated with spatial integration. this identification is done through observation, interviews and secondary data processing. Therefore, this study used a qualitative inductive method of phenomenology. From these result, it was concluded that the condition occur between mined land and cultivative areas is spatial integration of coal mining between the mined lands and cultivation area. Spatial integration appear for connectedness and relatedness between mined lands and cultivation area. This spatial integration can occur because of supporting factors. Through this research, the discovery of the phenomenon of spatial integration be taken into consideration and reference for mining activities in Indonesia.

Kata Kunci : Spatial Integration, Mined Lands, Cultivation Area

  1. S1-2016-330115-abstract.pdf  
  2. S1-2016-330115-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-330115-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-330115-title.pdf