KEBUTUHAN KONSELING SEKSUALITAS DAN REPRODUKSI PADA SISWA SMA DI YOGYAKARTA
TRI WAHYUNI WIDYASTUTI, Wenny Artanty Nisman, S.Kep., Ns., M.Kes.
2016 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANLatar Belakang: Remaja merupakan populasi yang rentan mengalami masalah seksualitas dan reproduksi karena pengetahuan mereka masih rendah. Hal ini disebabkan kemampuan kognitif remaja yang memang belum sepenuhnya berkembang dan juga faktor orang tua yang masih menganggap bahwa pemberian informasi mengenai seksualitas dan reproduksi kepada remaja merupakan hal yang tabu. Data dari WHO menunjukkan banyak remaja yang terinfeksi HIV dan melakukan aborsi yang tidak aman. Untuk mengatasi masalah ini, WHO merekomendasikan adanya pemberian informasi dan konseling mengenai seksualitas dan reproduksi pada remaja. Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan konseling seksualitas dan reproduksi pada siswa SMA di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah penelitian survei dengan rancangan cross-sectional. Seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel. Setelah dilakukan seleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi, terdapat 66 siswa yang dapat menjadi responden penelitian ini. Instrumen penelitian berupa kuesioner berisi 15 pertanyaan mengenai kebutuhan siswa akan adanya konseling mengenai seksualitas dan reproduksi di sekolah. Hasil: Sebagian besar siswa (89,4%) menyatakan membutuhkan konseling seksualitas dan reproduksi di sekolah. Topik yang paling ingin diketahui adalah penyakit menular seksual. Siswa menyatakan petugas kesehatan adalah orang yang paling tepat untuk menjadi konselor. Siswa paling banyak mengharapkan konseling dilakukan secara individual dan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Mereka juga berharap internet dapat digunakan sebagai media konseling untuk lebih memahami materi konseling yang diberikan. Kesimpulan: Siswa SMA di Yogyakarta membutuhkan pelayanan konseling seksualitas dan reproduksi yang terjaga kerahasiaannya dan dapat dilakukan sewaktu-waktu untuk lebih mengetahui mengenai penyakit menular seksual.
Background: Adolescent is vulnerable population toward sexual and reproductive health problem because their knowledge is still poor. This is because their cognitive haven’t been fully developed and also parents factor who tend to think that giving information about sexuality and reproductive health to their teenager is considered taboo. Data from WHO indicates many adolescents infected by HIV and doing unsafe abortion. To solve this problem, WHO recommends to give informations and counseling about sexuality and reproductive health to the adolescent. Objective: To assess the necessity of sexual and reproductive health counseling among high school students in Yogyakarta. Methods: Survey research with cross-sectional design. All the population members are used as sample. After selection using inclusion and exclusion criterias, there are 66 students that can be respondents. A questionaire consist of 15 questions about the necessity of sexuality and reproductive health counseling in school is used as the research instrument. Results: Most of them (89,4%) stated that they need sexual and reproductive health counseling in school. Sexually transmitted disease (STD) is the topic that they want to know about in the counseling. They stated that health professional is the most suitable counselor. They hope counseling can be done individually at anytime. They also expecting the used of internet access as the counseling media to help them understand more about the material. Conclusion: High school students in Yogyakarta need sexual and reproductive health counseling that keep their confidentiality and can be done at anytime to make them understand more about STD.
Kata Kunci : konseling, remaja, reproduksi, seksualitas