Laporkan Masalah

IDENTIFIKASI BEHAVIORAL RISK FACTOR PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DI DAERAH RAWAN BENCANA GUNUNG MERAPI

DWI PUSPITASARI, Heru Subekti, S.Kep., Ns., M.P.H

2016 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATAN

Latar Belakang: Kabupaten Sleman merupakan daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang paling berisiko terkena bencana akibat gunung api. Kecamatan Cangkringan merupakan wilayah di Kabupaten Sleman yang termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi. Saat terjadi bencana, muncul masalah kesehatan yang berasal dari kelompok rentan seperti penyakit tidak menular (PTM) yang diderita oleh lansia. Tujuan Penelitian: Mengidentifikasi behavioral risk factor pada lansia dengan PTM di daerah rawan bencana Desa Umbulharjo. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan rancangan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan September 2015-Januari 2016. Penelitian ini melibatkan 137 lansia yang mengikuti posbindu di wilayah Desa Umbulharjo sebagai responden. Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi merokok, konsumsi alkohol, konsumsi serat, aktivitas fisik yang diukur menggunakan kuesioner STEPwise 1.4, sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah lansia dengan penyakit tidak menular (PTM) yang diketahui melalui diagnosa medis. GPS digunakan untuk mengambil titik koordinat tempat tinggal lansia, puskesmas, dan titik kumpul. Penelitian ini menggunakan analisis spasial untuk mengolah data spasial berupa titik koordinat. Selain itu, analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi behavioral risk factor pada lansia, kemudian hubungan behavioral risk factor dengan kejadian PTM dianalisis menggunakan analisis bivariat dengan uji Chi square dan uji Fisher's exact test. Hasil: Perilaku responden sebagian besar tidak merokok (84,7%), tidak mengkonsumsi alkohol (98,5%), kurang mengkonsumsi serat (79,6%), aktivitas fisik cukup (78,8%). Terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan kejadian PTM (p=0,016) dan aktivitas fisik dengan kejadian PTM (p=0,009). Tidak terdapat hubungan antara konsumsi alkohol dengan kejadian PTM (p=0,678) dan konsumsi serat dengan kejadian PTM (p=0,980). Semua (100%) responden memiliki tempat tinggal yang berjarak <1km dari titik kumpul evakuasi. Persebaran lansia di Desa Umbulharjo membentuk pola mengumpul (z score = -13,282256). Sejumlah 12,41% lansia dengan PTM dan 14,60% lansia yang tidak sakit belum terjangkau Puskesmas Induk Kecamatan Cangkringan maupun Puskesmas Pembantu Desa Umbulharjo. Kesimpulan: Perilaku responden sebagian besar tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, kurang mengkonsumsi serat, aktivitas fisik cukup. Merokok berhubungan dengan kejadian PTM, aktivitas fisik berhubungan dengan PTM. Semua responden memiliki tempat tinggal yang berjarak <1 km dari titik kumpul evakuasi. Persebaran lansia di Desa Umbulharjo memiliki pola mengumpul. Beberapa lansia dengan PTM dan lansia yang tidak sakit belum terjangkau Puskesmas Induk Kecamatan Cangkringan maupun Puskesmas Pembantu Desa Umbulharjo.

Background: Sleman is a district area in Yogyakarta with the highest risk affected disasters caused by volcanoes. Cangkringan is located in Sleman district which is included in Merapi Disaster-Prone Areas (KRB). Health problems will appear in vulnerable groups when disaster strikes such as non-communicable diseases (NCDs) in the elderly. Objective: To identify behavioral risk factors of NCDs in elderly in disaster-prone areas, Umbulharjo Village. Methods: This study used a survey approach with cross sectional design that was conducted on September 2015-January 2016. There were 137 of � 60 years old respondents that participating in posbindu lansia. The independent variables in this study such as smoking behavior, alcohol consumption, fiber consumption, and physical activity were measured using a questionnaire STEPwise 1.4, while the dependent variable in this study were elderly people with non-communicable diseases (NCDs) diagnosed by medical diagnosis. GPS was used to retrieve the coordinates of house belong to elderly, health centers, and the rallying point. This study used spatial analysis to process spatial data (coordinates). In addition, univariate analysis used to determine the distribution of the frequency of behavioral risk factors in elderly, then the correlation of behavioral risk factors with incidence of NCDs was analyzed using Chi-square test and Fisher's exact test. Results: Most of respondents had smoking behavior (84,7%), no alcohol consumption (98,5%), less fiber consumption (79,6%), and sufficient physical activity (78,8%). There was significant correlation between smoking behavior with the incidence of NCDs (p=0,016) and physical activity with the incidence of NCDs (p=0,009). There was no correlation between alcohol consumption with the incidence of NCDs (p=0,678) and fiber consumption with the incidence of NCDs (p=0,980). All (100%) of respondents have house within <1 km from the rallying point of evacuation. Distribution of the elderly in the village of Umbulharjo had clustered pattern (z score = -13.282256). 12,41% elderly with NCDs and 14,60% healthy elderly were not reached by Puskesmas Induk Kecamatan Cangkringan and Puskesmas Pembantu Desa Umbulharjo. Conclusion: Most of respondents had smoking behavior, no alcohol consumption, less fiber consumption, and sufficient physical activity. There was correlation between smoking with the incidence of NCDs, and physical activity correlated with NCDs in elderly. All respondents had house within <1 km from the rallying point evacuation. Distribution of the elderly in the village of Umbulharjo had clustered pattern. Some of elderly with NCDs and healthy elderly were not reached by Puskesmas Induk Kecamatan Cangkringan and Puskesmas Pembantu Desa Umbulharjo.

Kata Kunci : daerah rawan bencana, dm tipe 2, faktor risiko, hipertensi, penyakit tidak menular