Laporkan Masalah

Praktek Komunikasi Interpersonal Perempuan Salafi dengan Masyarakat di Luar Komunitasnya di Kampung Sawo Bantul

RIVGA AGUSTA, Novi Kurnia, M. Si., M. A., Ph. D.; Wisnu Martha Adiputra, S.IP.,M.Si

2016 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktek komunikasi interpersonal perempuan Salafi yang terjalin dengan masyarakat Kampung Sawo Bantul di luar komunitasnya dan meninjau peranan komunikasi interpersonal yang dilakukan perempuan Salafi dalam menegosiasikan 'muka' mereka. Praktek komunikasi interpersonal ditinjau berdasar pesan verbal dan nonverbal yang ada dalam aspek efektivitas komunikasi interpersonal DeVito (1997) yang meliputi keterbukaan, empati, sikap positif, dukungan, dan kesetaraan. Sedangkan strategi face negotiation (Griffin, 2006) dalam komunikasi interpersonal dianalisis berdasar elemen facework, tipe penjagaan diri, dan gaya konflik. Data penelitian diperoleh melalui metode etnografi komunikasi dengan melakukan observasi partisipatif selama tiga bulan dengan diikuti wawancara mendalam serta dokumentasi kepada tiga perempuan Salafi yang memiliki latar belakang pekerjaan berbeda. Dokumentasi gambar dalam penelitian ini tidak selalu menggunakan dokumentasi foto eletronik tetapi juga dengan membuat sketsa gambar karena keterbatasan informan penelitian yang tidak memperkenankan untuk difoto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Salafi di Kampung Sawo masih terbuka dalam melakukan komunikasi interpersonal kepada masyarakat umum, karena mereka masih memegang nilai-nilai adat Jawa yang dibawa dari tempat tinggal asal dan keluarga mereka. Strategi facework yang mendominasi adalah tact facework dan solidarity facework yang menunjukkan jika ada upaya-upaya dalam sikap komunikasi perempuan Salafi dalam membangun solidaritas dan rasa hormat atas otonomi yang dimiliki orang-orang nonsubkultur Salafi untuk memenuhi kebutuhan 'muka' positif. Kecenderungan tipe penjagaan diri yang dilakukan perempuan Salafi di Kampung Sawo adalah mutual face maintenance kepada perempuan nonsubkultur dan kombinasi antara mutual face maintenance dan self-face maintenance dengan melakukan face restoration atau pemulihan citra diri terhadap laki-laki nonsubkultur. Dua gaya konflik avoiding (menghindar) dan compromising (berkompromi) menunjukkan perempuan Salafi cenderung meminimalisir adanya konflik meskipun terdapat adanya perbedaan pandangan atas suatu hal dan perbedaan tata cara dalam berkomunikasi. Strategi-strategi face negotiation inilah yang membuat perempuan Salafi di Kampung Sawo dapat hidup berdampingan dengan masyarakat umum di luar komunitasnya.

This research is aimed to describe the interpersonal communication practice between Salafi women and the people in Kampung Sawo Bantul, which are outside their community, and to view the roles of the interpersonal communication in negotiating their 'faces'. Interpersonal communication is viewed based on the verbal and non-verbal message according to DeVito's (1997) interpersonal communication effectiveness aspects, such as openness, empathy, positiveness, supportiveness, and equality. In interpersonal communication, face negotiation strategy (Griffin, 2006) is analyzed based on facework element, type of face maintenance, and conflict style. The research data is collected with ethnography of communication method by doing a three-months-participant-observation followed by deep-interview and documentation to three different Salafi women, all of them have different job background. The picture documentation in this research is not only in electric photo documentation but also in sketch because of the personal reason from the informants, some of them were not keen to be photographed. The result of the research shows that Salafi women in Kampung Sawo still share the openness in making interpersonal communication to general residence. This is because they still hold the Javanese cultural values which are derived from their origins and families. Two most dominant facework strategies are tact facework and solidarity facework. These things reflect the efforts from Salafi women to build solidarity and respect based on the autonomy owned by non-subculture-Salafi-people to fulfill their positive 'face' needs. The types of maintenance tendency employed by Salafi women in Kampung Sawo are mutual face maintenance to non-subculture women and the combination between mutual face maintenance and self-face maintenance by doing face restoration or restoring self image to non-subculture men. By avoiding and compromising, Salafi women tend to minimize the potential conflict although the view and the custom were different when it comes to communication. These face negotiation strategies have made Salafi women in Kampung Sawo can live together with the society outside their community.

Kata Kunci : Komunikasi interpersonal, face negotitation, perempuan Salafi/interpersonal communication, face negotiation, Salafi women

  1. S2-2016-359481-abstract.pdf  
  2. S2-2016-359481-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-359481-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-359481-title.pdf