VARIASI GENETIK DAN ESTIMASI PARAMETER REPRODUKSI PADA PERMUDAAN ALAM CENDANA (Santalum album Linn.) DI PILANGREJO, NGLIPAR, GUNUNGKIDUL
FERRIEREN C ARFENDA, Dr. Sapto Indrioko, S.Hut., M.P. ; Dr. Noor Khomsah Kartikawati, S.Hut., M.P.
2016 | Tesis | S2 Ilmu KehutananPerubahan iklim meningkatkan resiko kepunahan jenis asli di Indonesia, salah satunya adalah cendana (Santalum album Linn.). Status vulnerable cendana yang diberikan oleh IUCN disebabkan mulai hilangnya habitat alami cendana di NTT. Di luar habitat alaminya, Gunungkidul, cendana ditemukan hidup dan beregenerasi dengan baik yaitu di Nglanggeran (Patuk), Bejiharjo (Karangmojo), Bleberan (Playen), Petir dan Botodayakan (Rongkop). Populasi cendana juga ditemukan di Pilangrejo (Nglipar) yang diduga merupakan populasi yang lebih awal karena ditemukan pada tahun 1960 dan sebelumnya belum pernah diteliti keragaman genetiknya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi permudaan alam cendana, keragaman genetik serta mengestimasi parameter reproduksi cendana di Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul. Metode penelitian terbagi menjadi tiga tahap. Tahapan petama adalah perhitungan potensi permudaan alam cendana dengan teknik line plot sampling (intensitas sampling 1%). Tahap kedua adalah perhitungan variasi genetik dengan dengan teknik purposive sampling berbasis penanda isozim. Tahapan ketiga adalah mengestimasi parameter reproduksi berupa sinkroni pembungaan, efisiensi penyerbukan, keberhasilan reproduksi dan potensi reproduksi cendana yang dilakukan pada tiap kuadran di seluruh populasi. Populasi cendana di Pilangrejo mempunyai potensi permudaan alam yang tinggi (frekuensi : 88,5% dan kerapatan : 1 individu/m2) dengan persebaran yang merata. Individu fase reproduktif paling banyak ditemukan daripada individu fase juvenil maupun semai. Permudaan alam secara vegetatif (root sucker) lebih banyak daripada permudaan secara generatif. Variasi genetik cendana di Pilangrejo sangat tinggi (HO : 0,317 - 0,416; HE : 0,308 - 0,348) dengan sistem perkawinan random mating (FIS : 0,057 sampai -0,026). Namun populasi ini mempunyai kemampuan reproduksi yang rendah (EP : 0 – 24,03%; RS : 0 – 19,38%; potensi reproduksi 15,76%) dengan sinkroni pembungaan selama 5 minggu (minggu ke-4 Desember 2015 - minggu ke-4 Januari 2016) pada 2 kuadran. Karakteristik yang khas pada Pilangrejo serta diduga merupakan populasi cendana yang lebih awal, menjadikan populasi ini sangat penting untuk dikonservasi. Beberapa usaha perlu dilakukan untuk mempertahankan variasi genetik dan meningkatkan kemampuan reproduksinya yaitu dengan pembudidayaan secara vegetatif dan pemberian perlakuan hormon untuk individu yang tidak berbunga serta penyelamatan alel langka.
Climate change increases the risk of extinction of native species in Indonesia, included sandalwood (Santalum album Linn.). Vulnerable status given by the IUCN due to habitat lost on natural poulation in NTT. Outside its habitat range Gunungkidul, sandalwood grew and regenerated well in Nglanggeran (Patuk), Bejiharjo (Karangmojo), Bleberan (Playen), Petir and Botodayakan (Rongkop). Sandalwood populations are also found in Pilangrejo (Nglipar) possibly be early population because it was found in 1960 and no research has been condected in genetic diversity. The aim of this research was to determine the potential of sandalwood natural regeneration, genetic diversity and estimate reproductive parameters in Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul. The research was consist in three part. Part one was evaluating natural regenation of sandalwood in a line plot sampling techniques (1% sampling intensity). Part two was analizing genetic variation with the purposive sampling technique based on isozyme markers. Part three was estimating the reproductive parameters namely flowering synchrony, efficiency of pollination, reproductive success and reproductive potential conducted in each quadrant in the entire population. The result showed that sandalwood population in Pilangrejo have high potential for natural regeneration (frequency: 88.5% and density: 1 individual / m2) with a evenly distribution. Individuals in reproductive phase were much than juvenile or seedlings phases. Vegetative natural regeneration (root sucker) more common than generative regeneration. Genetic variation of sandalwood in Pilangrejo was very high (HO: 0,317 to 0,416; HE: 0,308 to 0,348) with random mating (FIS: 0,057 to -0,026). However, this population has a low reproductive ability (EP: 0 -24,03%; RS: 0 – 19,38%; reproductive potential 15,76%) with flowering synchrony in 5 weeks (4th week December 2015 – 4th week January 2016) in the second quadrant. Specific character of sandalwood in Pilangrejo and suspected be early population, makes this population very important to conserve. . Some effort should be done to maintain genetic variation and improve the reproductive ability. By vegetative cultivation and hormone treatment for individuals which are not flowering as well as the rescue of rare alleles.
Kata Kunci : potensi permudaan alam, variasi genetik, kemampuan reproduksi, cendana, Pilangrejo / potential of natural regeneration, genetic diversity, reproductive ability, sandalwood, Pilangrejo