Identifikasi Gangguan Hutan Dan Strategi Menuju Hutan Normal di Bagian Hutan Ngarengan KPH Pati Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah
FITRI INDAH P, Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, M.Agr.Sc.;Dr. Ir Nunuk Supriyatno, M.Sc
2016 | Tesis | S2 Ilmu KehutananKawasan hutan Perum Perhutani bagian hutan Ngarengan KPH Pati merupakan salah satu kawasan hutan dengan tingkat interaksi masyarakat yang tinggi. Kerusakan hutan telah terjadi di bagian hutan Ngarengan dan mengakibatkan struktur hutan menjadi tidak normal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis gangguan keamanan hutan, merancang pengaturan hasil hutan, dan merancang strategi pembenahan. Penelitian ini dilakukan bulan Agustus - Desember 2015 di bagian hutan Ngarengan KPH Pati yang terdiri dari Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngarengan dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Regaloh. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung terhadap 33 responden yang terdiri dari Perhutani, perangkat desa, dan masyarakat. Data sekunder yang digunakan antara lain data evaluasi potensi BH Ngarengan tahun 2014, data kerawanan hutan, data rekapitulasi penggarapan tidak sah, dan data inventarisasi tanaman ketela. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif, simulasi Monte Carlo, dan analisis medan kekuatan atau force field analysis (FFA). Pendekatan deskriptif untuk menjelaskan ganguan-ganguan terhadap hutan jati, simulasi Monte Carlo membantu untuk membuat pengaturan hasil hutan jati dan mengestimasi pendapatan dari hasil simulasi yang telah diperoleh, analisis medan kekuatan digunakan untuk merancang strategi pembenahan hutan di BH Ngarengan menjadi normal kembali. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa gangguan hutan yang berpengaruh terhadap kerusakan hutan jati di bagian hutan Ngarengan adalah pencurian kayu yang dipengaruhi adanya kebutuhan kayu pertukangan yang tinggi, perencekan liar yang dipengaruhi kebutuhan kayu bakar dan pakan ternak, pertanian ketela pohon illegal yang dipengaruhi adanya pemodal dari industri tepung tapioka, dan bencana alam yang dikarenakan faktor alam. Ada empat skenario yang digunakan dalam simulasi Monte Carlo. Skenario I unggul dari segi pendapatan namun lemah untuk kestabilan tebangan dari waktu ke waktu, skenario II mempunyai tebangan lebih baik dari skenario I namun untuk pendapatan paling rendah dibanding skenario yang lainnya, skenario III unggul dari segi tebangan namun dari pendapatan masih dibawah skenario I, skenario IV nilai tebangan paling baik dan stabil tapi untuk pendapatan masih dibawah skenario I dan III. Pengaturan hasil alternatif yang dipilih yaitu skenario IV untuk daur 30 tahun. Pemilihan skenario alternatif tidak hanya dilihat dari segi finansial saja tetapi juga mempertimbangkan manfaat hutan secara keseluruhan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Strategi Pembenahan berdasarkan analisis medan kekuatan adalah diversifikasi pemanfaatan hasil hutan dan membentuk karakter SDM yang berwawasan lingkungan. Program kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan strategi tersebut antara lain: mengatur pola tanam, melakukan pengembangan jenis multidaur, memberikan pelatihan dan pendampingan SDM, melakukan sosialisasi dan dialog otentik antar stakeholder, peningkatan kelembagaan masyarakat
Ngarengan forest management section (BKPH) is part of the PatiForest Management Area/FMA (KPH). This forest area is known as one of the intractable forest due the human activities. Human (people) making their interaction to the forest for such reasons especially economy. The interaction to the forest were impact to the degradation of forest itself and it shown from the forest structure. The purposes of this study are to analyze such forest disturbances, to establish the forest yield arrangement and to establish strategy of forest reconstruction. The study has implemented during August � September 2015 in Pati�s FMA. This FMA divided into Ngarengan forest management section and Regaloh forest management section area. Data of the study have compiled primary and secondary. Primary data obtained through interview of 33 respondents, consisting of Perhutani members, village officer and local community. While secondary data obtained from such literatures and reviewing of related data i.e., data of the potential forest area in Ngaregan management section (2014), the vulnerability of forest data and inventory data of unauthorized cassava cultivation. Descriptive analysis technique has determined to analyze all data, combined with Monte Carlo Simulation and Force Field Analysis (FFA). This approach has determined to explained such Teak-forest disturbances, while Monte Carlo Simulation has developed to establish forest yield arrangement and income estimating from simulation result that have been obtained. The FFA yield analysis then use to establish the reconstruction strategies of Ngarengan forest area. The results of analysis showed that timber theft becomes the most action of forest degradation in Ngarengan. It happens due the high demand of timber whether for fuel and fodder. Another result showed that unauthorized cassava cultivation inside forest area has also contributed to the forest degradation since the tapioca demand raise. Others is caused by natural disaster. Monte Carlo Simulation have four scenarios with specific character. Scenario I is exceeding in term of revenue but it weak for stability of harvest periods. Scenario II is exceeding in timber harvesting than scenario I but lowest income compared to other. Scenario III is dominant in term of harvesting the revenue is lower than scenario I, while scenario IV is the greatest and the most stable in harvesting but the revenue lower than I and III. Therefore, the scenario IV have selected for 30-year cycle. The selection of scenario was not seen based on financial aspect only but it also considers to the overall benefit forest, economically, social and environment. The suggested revamping strategies of the force field analysis is diversification forest products utilization and forming the character of human resources with of environmentally sound. To accelerate the strategies is need to be supported with related programs i.e., crops pattern adjustment, develop multiyear type of commodities, providing training and mentoring of human resource, conducting socialization and authentic dialogue among stakeholders and increasing the community institutions
Kata Kunci : Gangguan Hutan, Pembenahan, Hutan Normal