Laporkan Masalah

Kualitas Hidup Pasien Meningioma Orbitokranial Pasca Pembedahan Berdasarkan Jenis Operasi dan Lokasi Tumor

Hasiholan Tigor Aditya Hasibuan, Agus Supartoto; Suhardjo

2016 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Penyakit Mata

Pendahuluan: Meningioma merupakan tumor jaringan meninges yang bersifat jinak tetapi dapat bersifat invasif ke selaput saraf kranial II yang berfungsi untuk proses penglihatan. Dengan insidensi 2-7 per 100.000 penduduk pada usia reproduktif maka dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai kualitas hidup yang terkait fungsi visual pada pasien meningioma orbitokranial pasca pembedahan. Tujuan penelitian: Menilai kualitas hidup pasien meningioma orbitokranial yang mengalami terapi pembedahan berdasarkan jenis operasi dan lokasi tumor. Rancangan penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan studi potong lintang dengan jumlah sampel penelitian 36 pasien penderita meningioma pasca pembedahan pengangkatan massa tumor. Cara penelitian: Subyek penelitian adalah seluruh pasien meningioma yang datang ke RSUP Dr. Sardjito antara Januari 2011 ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ Desember 2014 dan sudah dilakukan pembedahan pengangkatan massa tumor dengan analisa Patologi anatomi menunjukan tumor yang berasal dari jaringan meningens. Subyek penelitian dalam penelitian setelah menandatangani lembar persetujuan penelitian, dilakukan wawancara mendalam mengenai kualitas hidup dengan menggunakan kuisioner NEI VFQ-25 yang meliputi kualitas visus pasca operasi yang mempengaruhi aktivitas fisik dan sosial ekonomi pasien. Untuk kebermaknaan digunakan interval kepercayaan 95% dan nilai p<0,05. Hasil: Penderita yang dilakukan operasi orbitotomi lateral 17 orang dan kraniotomi 19 orang, dan berdasarkan lokasi tumor pada sampel penelitan didapatkan 4 lokasi tumor terbanyak, enplaque (22%), sphenoid-suprasellar (22%), temporoparietal (19,4%) dan lain ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ lain (36,1%). Berdasarkan jenis operasi didapatkan perbedaan kualitas hidup yang bermakna dalam hal aktivitas penglihatan jauh (p=0,006), fungsi sosial (p=0,004), kesehatan mental (p=0,045), kesulitan peran (p=0,006), ketergantungan (p=0,019), penglihatan warna (p=0,012) dan penglihatan perifer (p=0,009). Berdasarkan lokasi tumor, lokasi di sphenoid paling bermakna dalam hal aktivitas penglihatan jauh (p=0,045) dan mengemudi (p=0,019), sedangkan lokasi lain ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ lain dinilai bermakna dalam hal kesulitan peran (p=0,009). Kesimpulan: Kualitas hidup yang terkait dengan fungsi visual pada sampel penelitian yang mengalami pembedahan orbitotomi lateral lebih baik dibandingkan dengan kraniotomi, selain itu kualitas hidup juga turut dipengaruhi oleh lokasi tumor meningioma.

Objective: To assess the quality of life among patients with orbitocranial meningioma who had undergone surgical treatment based on type of surgery and tumor location. Method: This is a cross-sectional study with 36 meningioma subjects who had undergone surgical tumor removal. Research subject was all orbitocranial meningioma patients who visited Dr. Sardjito General Hospital between January 2011 ���¢�¯�¿�½�¯�¿�½ December 2014 and had the tumor removal surgery done with anatomical pathology analysis showing tumor originating from the meninges, then an in-depth interview was performed regarding the quality of life with a questionnaire taken from NEI VFQ-25 which covered post-operative visual acuity affecting physical activities and socioeconomical aspect of the patients. Results: The amount of patients who had the tumor removed by lateral orbitotomy surgery was 17 subjects and those by craniotomy was 19 subjects, and based on tumor location we found 4 most common origin: enplaque (22%), sphenoid-suprasellar (22%), temporoparietal (19,4%) and others (36,1%). Based on surgical treatment, we found significant quality of life difference in distant visual acuity (p=0,006), social function (p=0,004), mental health (p=0,045), role difficulties (p=0,006), dependency (p=0,019), color vision (p=0,012) and peripheral vision (p=0,009). Based on tumor location, sphenoidal origin was the most significant in distant visual acuity (p=0,045) and driving activity (p=0,019), whereas other locations were significant in role difficulties (p=0,009). Conclusion: The quality of life regarding visual function among subjects who had the tumor removed by lateral orbitotomy was better than those by craniotomy, moreover quality of life was also determined by tumor location.

Kata Kunci : meningioma orbitokranial, kualitas hidup, pembedahan, letak tumor, gangguan visus , Orbitocranial meningioma, quality of life, surgery, tumor location, visual disturbance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.