Tinjauan aspek keuangan pada transaksi PPAK-BPPN tahun 2002
ASLAM, Chairul, Dr. Jogiyanto Hartono, MBA
2003 | Tesis | Magister ManajemenProgram Penjualan Aset Kredit (PPAK) yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) di pertengahan tahun 2002 bertujuan untuk mengembalikan kredit ke dunia perbankan dan sekaligus mengurangi jumlah obligasi rekap pemerintah di bank-bank melalui mekanisme Bonds to Asset Swup. Teori penilaian perusahaan yang didasarkan atas arus kas yang didiskonto mempunyai kesamaan dengan konsep evaluasi kredit yang ada di perbankan yang keduanya menekankan kepada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap nilai sebuah perusahaan (value drivers). Analisis kinerja masa lampau, evaluasi prospek usaha dan memperkirakan kinerja masa depan serta penilaian aset perusahaan merupakan suatu keharusan dan sangat penting baik di dalam penilaian perusahaan maupun di dalain evaluasi resiko kredit. Berdasarkan studi kasus pada PT Hotel Bali, maka realisasi harga beli aset kredit hanya sebesar seperempat dari keseluruhan hutang pokok dan nilai tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai perusahaan bila dihitung dengan metode diskonto arus kas bebas, bahkan untuk skenario yang pesimistis. Namun demikian, tingkat pengembalian (recovery rate) yang diperoleh dari program PPAK-BPPN ini menurut beberapa pengamat ekonomi dianggap cukup dengan mempehimbangkan bahwa mata uang Rupiah telah terdepresiasi terhadap mata uang US$ hingga mencapai seperempat selama masa krisis moneter. Sementara itu isu mengenai benturan kepentingan dan etika bisnis terasa cukup kental di dalam proses PPAK yang diindikasikan dengan bocornya harga dasar aset kredit yang dilelang yang seharusnya bersifat tertutup dana rahasia.
Credit Assets Sale Program (Program Penjualan Aset Kredit) conducted by Indonesian Banking Restructuring Agency (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) in the middle of year 2002 was aimed at returning the credits to the banking system as well as decreasing the outstanding of the government bonds (recapitalization bonds) through Bonds to Asset (Credit) Swap. The theory of company valuation based on discounted cash flow has similarity with the concept of credit evaluation in the banking industry which emphasizes on evaluation of the value drivers. Past performance analysis, business prospect evaluation and future performance estimation as well as assets appraisal are mandatory and crucial in both company valuation and credit risk evaluation. Based on the PT Hotel Bali case the purchased price of credit sales was only a quarter of the total principle obligation which was much lower compared to the value of the company calculated with discounted cash flow method even at the pessimistic scenario. However, this recovery rate of the PPAK according to some economics analysts was considered fair enough as Rupiah currency was depreciated up to one fourth against US$ currency during the monetary crisis. Meanwhile, issues of conflict of interest and business ethics were quite apparent in the process of PPAK which indicated by the dissemination of the floor price of the offered credit assets which was to be confidential.
Kata Kunci : Manajemen Perusahaan,Penilaian,Analisis Kredit, valuation, discounted cash flow, credit analysis