TINDAK TUTUR MEMINTA DALAM BAHASA INGGRIS OLEH PENUTUR BAHASA INDONESIA DAN PENUTUR ASLI BAHASA INGGRIS AUSTRALIA: KAJIAN PRAGMATIK ANTARBAHASA
TUTY HANDAYANI, Prof. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.
2016 | Tesis | S2 Ilmu LinguistikPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi tindak tutur meminta dalam bahasa Inggris oleh penutur bahasa Indonesia (PBI) dan penutur asli bahasa Inggris Australia (PBIA). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan bentuk dan strategi yang dihasilkan oleh kedua penutur serta menjelaskan faktor yang menyebabkannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode sadap yaitu dengan teknik kuisioner (TMW) dan wawancara. TMW dibagikan kepada 30 responden yang terdiri dari 15 responden dari PBI dan 15 responden dari PBIA, sehingga terkumpul 346 data berupa tuturan meminta dalam berbagai konteks. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan metode padan pragmatis untuk menjelaskan bentuk dan strategi permintaan, serta perbedaan dan faktor penyebabnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa realisasi tuturan permintaan yang dihasilkan oleh PBI dan PBIA secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu bentuk tuturan dan strategi tutur. Bentuk tuturan terbagi menjadi dua bagian yaitu (1) struktur tutur yang melihat kehadiran tindakan pokok dan tindakan pendukung dan (2) variasi tutur yang melihat penggunaan ragam formal dan informal. Adapun strategi yang digunakan oleh PBI dan PBIA dibagi menjadi tiga bagian yaitu (1) modus kalimat, (2) cara permintaan dan (3) tipe tuturan. Perbedaan tuturan permintaan oleh PBI dan PBIA dapat dilihat dari empat hal, yaitu (1) perbedaan bentuk tuturan, di mana PBI lebih banyak menggunakan struktur tindakan pokok diikuti tindakan pendukung dibandingkan PBIA; (2) perbedaan strategi tutur, dimana PBI menghasilkan 22 cara sedangkan PBIA menghasilkan 21 cara; (3) perbedaan penggunaan formula semantik yang dibagi lagi menjadi empat, yaitu (1) perbedaan ucapan salam, (2) perbedaan bentuk sapaan, (3) perbedaan kata penarik perhatian, dan (4) perbedaan penggunaan diksi; dan (4) perbedaan tanggapan terhadap situasi yang diberikan dalam TMW. Ditemukan sekurang-kurangnya dua faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut yaitu faktor linguistik dan faktor nonlinguistik;. Faktor linguistik disebabkan oleh (1) perbedaan pemahaman pragmatik dan (2) keterbatasan penguasaan kosa kata. Adapun faktor nonlinguistik disebabkan oleh (1) perbedaan sistem budaya dan (2) lingkungan pembelajaran.
This study is aimed at describing the forms and the strategies of the request speech act in English by Indonesian speakers and Australian English native speakers. It is also intended to portray the differences of the request forms and strategies by both speech communities as well as its causative factors. This study applies descriptive qualitative method. To collect the data, questionnaires are distributed to 30 respondents consisting of 15 Indonesian speakers and 15 Australian English native speakers, thus, it collects 346 request utterances in various contexts. The study reveals that the request speech acts by Indonesian and Australian English native speakers are classified based on its forms and strategies. The forms consist of (1) structures (the presence of head act and supporting moves) and (2) variations (the use of formal and informal patterns). The strategies are divided into three parts, (1) modes, (2) manners and (3) types of utterances. The differences of request speech act by both speech communities are found in (1) request forms (Indonesian speakers produce more structures containing head act followed by supportive moves than Australian English native speakers); (2) strategies (Indonesian speakers produce 22 strategies and Australian speakers produce 21); (3) semantics formula (the difference expressions of greeting, addressing, attracting and the word choices); and (4) attitude toward the situations given in DCT. These differences arise as the consequence of both linguistic and nonlinguistic factors. The linguistic factors are due to (1) the differences of pragmatic understanding and (2) the inadequate vocabulary mastery by Indonesian. While, the nonlinguistic ones are the consequences of (1) differences of cultural systems and (2) English learning system in Indonesia.
Kata Kunci : Pragmatik Antarbahasa, Meminta, Indonesia, Australia