Penguatan Toleransi Agama Dalam Komunikasi Pembangunan Agama (Studi Kasus Pemerintah Kota Bogor Dan Yogyakarta
HASAN SAZALI, Promotor Budi Guntoro,S.Pt.,M.Sc.,Ph.D. Ko-Promotor Subejo,SP.,M.Sc.,Ph.D. Prof.Dr.Partini, SU.
2016 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi PembangunanPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pemerintah Kota Bogor dan Yogyakarta, beserta seluruh pemangku kepentingan dalam melakukan penguatan toleransi agama. Penguatan yang dilakukan dianalisis melalui pendekatan struktural dan kultural. Pendekatan struktural, yaitu pendekatan biokratisasi pemerintah dari berbagai institusi kelembagaan pemerintah yang terkait dengan pembangunan agama, khususnya pada aspek toleransi agama. Begitu juga dengan aspek model sistem komunkasi pembangunan agama yang ditawarkan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi tawaran konsep dalam membangun sistem komunikasi pembangunan agama. Pendekatan kultural merupakan suatu pendekatan yang dibangun dari basis masyarakat dengan menganalisis optimalisasi nilai budaya dan kearifan lokal yang ada pada masyarakat, sekaligus melihat seberapa besar kearifan lokal dan budaya yang ada dalam masyarakat berperan dalam proses penguatan toleransi agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis kritis. Untuk melengkapi data supaya komprehensif pada beberapa karakteristik dilakukan kuantifikasi prespektif statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Bogor maupun Yogyakarta perannya realtif lemah dalam penguatan toleransi agama. Peranan ini banyak diambil alih oleh para tokoh agama yang tergabung dalam lembaga yang diinisiasi oleh masyarakat. Akan tetapi secara kelembagaan tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Secara kultur pada dasarnya inisiatif masyarakat Kota Yogyakarta relatif kuat dalam membangun toleransi agama. Masyarakat Kota Bogor relatif lemah disebabkan masih ada pemahaman agama yang dipengaruhi oleh romatisme DI/TII pada masa lalu. Nilai kearifan lokal dan budaya menjadi suatu basis penguatan yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam proses pembangunan, ketika pemerintah mampu melakukan optimalisasi basis penguatan tersebut. Namun pada kenyataanya terjadi komersialisasi nilai kearifan lokal dan budaya dalam sistem kehidupan masyarakat.
This research aims to analyze the role of the Bogor and Yogyakarta Government, along with all apparatuses in strengthening religious tolerance. The strengthening analyzed through structural and cultural approach. Structural approach, such as the government bureaucratization approach from various institutions related to the religion development, especially in the aspect of religious tolerance. Also with the communication system of the religion development aspect. This research is expects to offer concept in building the communication system of the religion development. Cultural approach is an approach that built from the base of the society by analyzing the cultural value and local wisdom optimization in the society, as well as see how the local wisdom and culture that exists in the communities play its role in strengthening religious tolerance. This research uses qualitative approach, with critical analysis. In order to complement the data comprehensively, quantification statistics perspective on some characteristics conducted. The results of the study showed that the role of Government both in Bogor and Yogyakarta is weak. This role mostly taken over by the religious leaders who have joined in the institution that is initiated by the society. Yet the institution did not get significant support from the government. In principle, culturally the community initiatives in Yogyakarta has been relatively strong in developing the religious tolerance. Whereas, community in Bogor City has been relatively weak because to some extent there is still influence by the ideology of DI/TII in the past. The culture value and the local wisdom become a basic potency for strengthening the development process. In fact commercialization of local wisdom and cultural values in the system of public life has been being happen.
Kata Kunci : Strengthening religious tolerance, Religion Development Communication