Laporkan Masalah

Sekolah Alam di Klaten Penerapan Pengembangan Kemampuan Kognitif dan Motorik pada Elemen Bangunan

FAKHRIYYAH KHAIRUNNIDA`, Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D.

2016 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Adanya sekolah alam di Indonesia dilatarbelakangi oleh digalakkannya pendidikan berkarakter untuk anak. Sekolah alam menggunakan alam sebagai media untuk melatih anak lebih menghargai, bertanggung jawab dan menjaga alam di sekitarnya. Kurikulum sekolah alam juga mengaitkan satu tema dari alam yang kemudian penerapannya berkaitan dengan semua ilmu pengetahuan yang diajarkan sehingga satu ilmu dengan yang lain dapat saling terkait dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah alam juga menanamkan perilaku-perilaku luhur yang tidak terdapat di sekolah formal, yaitu kembali ke alam. Sekolah Alam Harapan Kita merupakan pionir sekolah alam di Kabupaten Klaten. Peminat Sekolah Alam Harapan Kita ini meningkat setiap tahunnya, namun sayangnya peningkatan peminat tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas fungsi dan luasan ruang karena lahan yang terbatas. Letaknya yang berada di tengah kota membuat sekolah alam ini keluar dari konsep sekolah alam pada umumnya yang berada di pedesaan. Walaupun begitu, sekolah alam ini justru malah dapat menjadi percontohan pendidikan berkarakter di perkotaan, namun tetap membutuhkan treatment tersendiri untuk tetap mengangkat konsep alam. Redesain Sekolah Alam Harapan Kita ini difokuskan pada komponen motorik dan kognitif baik di area indoor maupun outdoor. Hal ini disebabkan oleh kegiatan kognitif dan motorik di sekolah tersebut masih terpisah. Kegiatan kognitif anak berada di indoor sedangkan motorik seluruhnya berada di outdoor. Pemisahan atau pembatasan ruang tersebut membuat terbatasnya ruang gerak anak dan terkadang membuat anak melakukan perbuatan yang dianggap menyimpang atau tidak sopan, misalnya memanjat railing, menaiki meja dan sebagainya, padahal mereka hanya ingin mengekspresikan diri mereka. Konsep, sirkulasi, tata bangunan, massa, dan elemen perancangan lainnya didasarkan pada analisis tapak eksisting dan komponen kognitif dan motorik anak yang dikategorikan berdasarkan jenjang usia. Karena keterbatasan lahan, komponen-komponen tersebut diterapkan pada elemen-elemen bangunan sehingga anak dapat berkembang baik dari segi kognitif maupun motoriknya tanpa perlu menambah luasan lahan.

Green school in Indonesia was created to encourage character education for children. Green school uses nature as a medium to teach children to respect, to be responsible and to take care of the surroundings. Curriculum of green school is also connecting one subject to another so the knowledge that the children get won�¢ï¿½ï¿½t be standing alone and the application in the daily life will be easier. Green school also embeds a kind and good attitude to children which is not provided in formal school. Harapan Kita Green School is the pioneer of green school in Klaten. Harapan Kita Green School has an increasing amount of children applying every years, but unfortunately the administrator hasn�¢ï¿½ï¿½t able to make any enhancement in the facility and room capacity while the area of the green school itself is limited. Harapan Kita Green School is located in the center of town, this makes Harapan Kita Green School excluded from the concept of green school itself, because green school is commonly placed in countryside. But the good thing is this green school can even become an example of character education in the city with a special treatment to hold the real concept of nature indeed. The redesigning of Harapan Kita Green School is focusing on motoric and cognitive component whether it�¢ï¿½ï¿½s indoor or outdoor because cognitive and motoric activities in this school is separated, cognitive activities happen indoor while motoric activities occur outdoor and there�¢ï¿½ï¿½s no integration among them. This causes limited latitude for children to move and sometimes the children seem doing something wrong or impolite, for example climbing railing, standing on the table and etc., although they just want to express themselves. The concept, circulation pattern, massing and another design elements are based on an existing site analysis and cognitive and motoric component that will be categorized by age. Because of a limited area, these components are applied on bulding elements so the children can be developed whether from their cognitive aspects or motoric aspects without adding land area.

Kata Kunci : sekolah alam, green school, motorik dan kognitif, bangunan tropis