Low-cost airline in Southeast Asia :: Can the Low-cost airline concept be applied into Southeast Asian Market
INDRAPRASETYO, R. Sidharta, Dr. Kees van Veen
2002 | Tesis | Magister ManajemenSalah satu dampak yang cukup signifikan dari deregulasi industri penerbangan di Eropa adalah munculnya yang disebut low-cost airline (penerbangan dengan biaya rendah), seperti RyanAir dan EasyJet. Hal ini menguntungkan penumpang karena menawarkan mereka penerbangan murah, di samping meningkatkan kompetisi, tidak hanya antar penerbangan berbiaya rendah tersebut tapi juga penerbangan “tradisionalâ€. Strategi yang digunakan oleh perusahaan berbiaya rendah tersebut untuk menekan biaya (yang juga membedakan dari strategi yang dipakai perusahaan penerbangan “tradisionalâ€) adalah dengan mengurangi peran dari agen perjalanan sebagai penjual tiket dan menggantikannya dengan penjualan secara online, tidak menawarkan makanan gratis di pesawat, hanya memiliki satu kelas bagi penumpangnya, pegawai dalam jumlah minimal, penggunaan satu tipe pesawat, operasi di rute jarak dekat, dan lebih banyak menggunakan lapangan terbang “kelas duaâ€. Sementara itu, persaingan di pasar Asia Tenggara juga cukup ketat. Namun, belum ada yang beroperasi dengan strategi yang sama digunakan oleh penerbangan berbiaya rendah seperti halnya di Eropa tersebut. Jika dibandingkan, tiket penerbangan yang ditawarkan dengan biaya rendahpun (dengan diskon) masih lebih mahal bila dibandingkan dengan tiket yang ditawarkan oleh penerbangan berbiaya rendah di Eropa. Di lain pihak, adanya krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara sejak tahun 1997 membuat konsumen lebih sensitif terhadap harga. Dengan pendekatan Porter’s fiveforces model, kita bisa menemukan bahwa konsep penergangan berbiaya rendah bisa diaplikasikan di pasar Asia Tenggara. Namun, adanya kenyataan bahwa di Asia Tenggara sendiri transaksi secara online dan kepemilikan kartu kredit masih rendah, membuat kami merekomendasikan untuk menunda pengimplementasian konsep penerbangan berbiaya rendah tersebut secara total, yaitu dengan cara tetap mengurangi peran dari Internet dan masih membutuhkan peran dari agen perjalanan dalam ha1 penjualan tiket.
One of significant impact of the deregulation of airline industry in Europe is the growth of low-cost airlines, such as RyanAir and EasyJet. The entrance of these low-cost airlines benefits passengers to have more options of lower fare flights and lets the competition, not only among low-cost providers but also the “traditional†airlines, increase. The major approaches used by low-cost carriers to achieve the cost-advantages, which also distinguish from “traditional†airlines, are that the low-cost airlines eliminate the role of travel agent and replace it with online transaction, do not offer free food on the plane, do not have different classes of passengers, employ minimum number of staffs, use only one type of aircraft in order to lower the maintenance costs and maximise the efficiency in recruitment and training of the staffs, operate in short-haul routes, and use “second class†airports. The competition in Southeast Asia is also high. However, there is an absence of low-cost airlines. Low-fare tickets offered by some companies seem to be more expensive compared with European low-cost airlines’ fares. On the other hand, the customers’ price sensitiveness is high, especially after the crisis in 1997. Meanwhile, the power from substitute products seems to be weak. Based on those reasons, the low-cost concept has potential to be applied in the future. The low online transaction in B2C segment in Southeast Asia and low credit card ownership (which is mostly used for online transaction make us recommend to postpone the implementation of the whole concept by reducing the use of Internet as the main distributor and keep the role of travel agent.
Kata Kunci : Strategi Perusahaan,Persaingan,Perusahaan Penerbangan, Low-cost Airline Concept, “Traditional†Airline, Cost Advantages, Competition, European Market, Southeast Asian Market