TRANSFORMASI SOSIAL PADA UPACARA RAMBU SOLO DIRAPAI DI RANTEPAO TORAJA UTARA
RAHLEDA, PROF. DR. SUYOTO USMAN
2016 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang pergeseran upacara rambu solo dirapai bersamaan dengan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Toraja. Kajian ini meliputi bentuk-bentuk komodifikasi yang terjadi dalam upacara, interpendensi dan relasi sosial, serta bentuk figurasi dan habitus sebagai komponen pendukung terjadinya pergeseran dalam upacara rambu solo dirapai. Penelitian ini dilakukan di Rantepao Toraja Utara, menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Dalam hal ini peneliti mencari informan yang mengetahui banyak tentang upacara rambu solo dirapai dan pihak pihak yang mendukung. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui wewancara, observasi dan pengumpulan dokumen yang yang terkait dengan tema penelitian. Hasil yang diperoleh melaui penelitian ini menunjukkan; pertama, melalui proses komodifikasi upacara rambu solo dirapai di manfaatkan untuk event budaya guna untuk menarik perhatian wisatawan ke Toraja. Hal tersebut disebabkan oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah guna mengembangkan Toraja sebagai tujuan pariwisata. Kedua, Aktor yang trelibat secara langsung seperti masyarakat, tokoh adat dan pemerintah saling melengkapi membentuk ikatan yang saling bergantung sama lain (interpendence)guna untuk mendukung upacara rambu solo. Ketiga, melalui interpendensi dan proses sosial masyarakat Toraja membentuk suatu figurasi dengan didukung oleh habitus masyarakat sebagai upaya untuk mengembangakan upacara rambu solo dirapai menjadi icon pariwisata tingkat internasional. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah upacara rambu solo dirapai mengalami pergeseran makna dan nilai sosial dalam masyarakat, dulu dilaksanakan guna untuk adat prosesi pemakaman mayat kaum bangsawan, sekarang dijadikan sarana untuk memperoleh eksistensi dalam masyarakat dan juga telah dijadikan komoditas untuk kepentingan pariwisata, sehingga upacara rambu solo dirapai yang tadinya sifatnya sakral sekarang menjadi profan. Pada elit lokal pun terjadi perubahan struktur, yang dulunya hubungan yang terjadi adalah antara tokoh adat dan masayarakat sekarang terjadi relasi kuasa baru yaitu dipengaruhi oleh pemerintah sebagai relasi kuasa baru dengan menjadikan upacara rambu solo dirapai sebagai daya tarik pariwisata di Toraja. Pada pergeseran tersebut antara tokoh adat dan pemerintah sebagai relasi kuasa baru tercipta hubungan kekuasaan yang seimbang sehingga tidak terjadi pertentangan dalam pelaksanaan upacara rambu solo dirapai sebagai adat dan sebagai komoditas pariwisata.
This study aims to assess the shift in ceremony of rambu solo dirapai coincide with the social changes that occurred in the Torajanese. This study covers the forms of commodification which happening in the ceremony, interpendensi and social relations, as well as forms of figuration and habitus as a supporting component of a shift in the ceremonyrambu solo dirapai. This research was conducted in Rantepao, using descriptive qualitative research. In this case the researcher is looking for informants who know a lot about the rambu solo dirapai ceremonyand the parties that support it. The technique of collecting data is through interview, observation and collection of documents related to the research theme. The results obtained through this study show; first, through the process of commodification the rambu solo dirapai ceremonyutilized for cultural events in order to attract the attention of tourists to come in Toraja. This was caused by policies made by the government to develop Toraja as a tourism place. Second, the actors who concern directly are such as community, traditional leaders and government which are complementary, interdependent form bonds to each other (interpendence) in order to support the ceremony rambu solo. Third, through interpendensi and Torajanese social processes form a figuration supported by the public as an attempt to develop the ceremony rambu solo an icon international level tourism. The conclusion of this study is the ceremonial of rambu solo shifting meanings and social values in society, first carried out in order to customary funeral procession of bodies of the nobility, now used as a means to obtain the existence in society and also have been used as a commodity for the benefit of tourism, so the ceremony rambu solo whichwas sacred andnow become profane. At the local elite also changes the structure, which was once the relationship which happening is between traditional leaders and communities and now is going to a new power relationship that is influenced by the government as the new power relations by making the ceremony rambu solo as tourism attraction in Toraja. In the shift between traditional leaders and the government as the new power relations created a balanced power relationship so there is no contradiction in the ceremony rambu solodirapai as indigenous and as a tourism commodity.
Kata Kunci : Kata kunci: upacara rambu solo dirapai, transformasi sosial, figurasi