Translation Errors and the Strategies to overcome them: A Case Study of Captions in Museum Displays in Yogyakarta
ZAKIA EL MUARRIFA, Dr. Aris Munandar, M. Hum.
2016 | Skripsi | S1 SASTRA INGGRISMuseum mempunyai peranan penting untuk sebuah daerah, terutama bagi Yogyakarta, tidak hanya untuk menyimpan artefak-artefak yang berhubungan dengan sejarah, ilmu pengetahuan atau seni, tapi juga sebagai tempat tujuan wisata. Turis dari dalam dan luar negeri dating ke museum-museum di Yogyakarta untuk mempelajari tentang Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar dan Kota Budaya. Namun, pengunjung asing mungkin saja bingung dengan terjemahan dari keterangan pada koleksi-koleksi di museum karena banyak kesalahan yang ditemukan. Objektif dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengklasifikasikan kesalahan penerjemahan yang berbasis makna di Museum Sonobudoyo dan Museum Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengetahui kesalahan yang paling banyak terjadi. Metode pengumpulan data menggunakan observasi pada keterangan di museum. Analisis data menggunakan teori Larson (1988) yaitu penerjemahan berbasis makna. Setelah identifikasi dan klasifikasi serta membuat pembetulan dari kesalahan penerjemahan tersebut, saya menggunakan teori strategi penerjemahan oleh Newmark (1988), yang disebut prosedur penerjemahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada lima tipe kesalahan dalam penerjemahan keterangan pada museum, yaitu; 1) Peminjaman istilah SL yang tidak familiar dalam TL, 2) Penggunaan kata majemuk yang mengandung SL dan TL, 3) Penerjemahan kata dan frasa serapan, 4) Penggunaan kata yang terlalu general, 5) Pemilihan diksi yang tidak tepat. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan yang paling banyak terjadi adalah pada pemilihan diksi yang tidak tepat (82 kesalahan, 67%), disusul dengan peminjaman istilah SL yang tidak familiar dalam TL (26 kesalahan, 21%), penggunaan kata yang terlalu general (7 kesalahan, 6%), penggunaan kata majemuk yang mengandung SL dan TL (5 kesalahan, 4%), dan yang paling sedikit adalah penerjemahan kata dan frasa serapan (3 kesalahan, 2%). Untuk mengatasai masalah tersebut, saya menggunakan strategi penerjemahan atau prosedur penerjemahan dari Newmark (1988) yang saya gunakan untuk membuat pembetulan dari kesalahan penerjemahan, dan prosedur yang dipakai adalah; 1) memberikan note atau informasi tambahan (33 istilah, 26.8%), 2) menggunakan istilah yang setara dalam kebudayaan SL dan TL (7 istilah, 5.69%), 3) menggunakan sinonimi (5 istilah, 4.1%), 4) menggunakan terjemahan langsung (50 istilah, 40.65%), dan 5) menggunakan parafrase (28 istilah, 22.76%)
Museums play an important role to an area, especially in Yogyakarta, not only as a place where they keep historical, scientific, or artistic artefacts, but also as a tourism destination. Tourists from inside as well as outside of Indonesia come to these museums to educate themselves about Yogyakarta, which is famous as a student city and cultural city. However, visitors from overseas may get confused with the translation provided since many translation errors are found in the captions of museum displays. The objectives of this study is to identify, analyze and classify the translation errors which occur in the captions of the museum displays, to find the most suitable translation strategies to overcome the errors and to provide the corrected translation of the texts of the captions in Museum Sonobudoyo and Museum Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat to find out what most common mistakes the translators make are. The method of data collection is by observing the museum captions. The analysis is using the theory of meaning based translation by Larson (1998). After identifying and classifying the errors as well as providing the corrected translation, the paper will move onto how to the strategies tackle the cultural-specific concept errors using the translation procedures by Newmark (1988). This research found that there are five types of translation errors in the captions of the museums which are; 1) Borrowing SL terms which are unfamiliar to TL, 2) Having both SL and TL in compound words, 3) Translating loan words and phrases, 4) Using too-general words, and 5) Incorrect choice of diction. The study shows that the most frequent errors occurring in the captions are Incorrect Choice of Diction (82 errors - 67%), followed by Borrowing Unfamiliar SL Words to TL (26 errors - 21%), Using too General Words (7 errors - 6%), Having both SL and TL in Compound Words (5 errors - 4%) and the least happens in Translating Loan Words and Phrases (3 errors - 2%). To overcome those problems, I apply the most suitable translation strategies which are some of the procedures by Newmark (1988) that I used in corrected TL. They are; 1) giving note or additional information (33 terms, 26.8%), 2) using cultural equivalent (7 terms, 5.69%), 3) using synonymy (5 terms, 4.1%), 4) using through-translation (50 terms, 40.65%), and 5) using paraphrase (28 terms, 22.76%).
Kata Kunci : translation, museum, captions of museum displays, translation errors, translation strategies, translation procedure