Laporkan Masalah

Institusi Informal: Muncul dan Tertundukkan

ADRIANSYAH DHANI D, Nur Azizah, S.I.P., M.Sc

2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Penelitian ini merupakan penelitian tentang dinamika relasi antara negara dan masyarakat yang terjadi dalam sebuah sistem formal yang cenderung lemah. Ketika negara tidak mampu menampilkan performa efektif dalam pelayanan publik, saat itulah masyarakat dipaksa untuk menciptakan upaya alternatif agar public goods tetap tersalur. Munculnya Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) yang belakangan menjadi tren di persimpangan-persimpangan jalan menunjukkan gambaran relasi tersebut. Secara teoritis, ia hadir sebagai institusi informal yang menjadi antitesa dari kepolisian sebagai representasi negara. Adanya institusi informal dalam ruang publik memang dapat dibaca sebagai sebuah gejala negara lemah (weak state) meskipun tidak bisa dikatakan secara mutlak. Pertanyaan kunci dalam penelitian ini ialah double quote Mengapa Supeltas dapat mengambil alih fungsi Negara dalam pelayanan ketertiban lalu lintas di daerahnya? double quote. Dari pertanyaan tersebut digunakan untuk menjelaskan secara eksploratif pola relasi di antara institusi informal dengan institusi formal serta pertarungan kekuasaan dalam mempertahankan eksistensinya masing-masing. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif studi kasus dikarenakan penelitian kualitatif studi kasus memungkinkan peneliti untuk memusatkan kajian terhadap objek penelitian secara lebih intim serta menghasilkan proses penelitian yang tidak berjarak. Selain itu pula memberikan ruang subjektivitas penulis untuk menganalisa perkembangan fenomena penelitian. Sebagai institusi informal, Supeltas hadir menyuguhkan kelancaran akses jalan di persimpangan padat di mana kepolisian absen. Di satu sisi, sebagai aktor formal, pihak kepolisian tidak serta merta membiarkan wilayah kekuasaannya direbut begitu saja. Sumber kuasa yang dimiliki oleh kepolisian ialah peraturan perundangan yang memiliki legitimasi, maka dari aturan formal pihak kepolisian �menundukkan� Supeltas untuk masuk ke dalam bagiannya. Dinamika relasi antara Supeltas dan kepolisian adalah warna kontestasi kuasa di antara dua aktor. Namun demikian, gejala negara lemah tetap membayangi aktor kepolisian sebagai representasinya. Dalam penelitian ini, pembacaan negara lemah lebih ditekankan dari performa kepolisian dalam melaksanakan tugasnya yang secara tidak efektif sehingga memunculkan aktor informal seperti Supeltas.

This study is about power relation between state and society which happened within weak formal system. By the time state is not able to show its effective performance in providing public goods services, society is forced to create alternative solution in order to gain those public goods properly. Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas / Traffic Control Volunteer) which has been emerged in recent years can be seen as a good example to understand the pattern of state-society relations. Theoretically, Supeltas appeared as an informal institution and considered as an antithesis from police agencies as representation of the state. Therefore, informal institution can be used as a sign for weak state indication, yet this suspicion is not absolute and needs further explanation. Key question in this research is double quote Why could Supeltas take over the state to do traffic control in its region?double quote. That question will be used to examine the relation between informal institution and formal institution and to elaborate power struggles amongst them in order to retain each existences. To answering the question, author used case-study qualitative methods due to possibility to focus only on the research object and produce an intimate research to obtain lots of data from respondents. Furthermore, it provides a space for subjectivity that can be used to analyze the development of phenomenon of the research deeply. As an informal institution, Supeltas contributed to present smooth traffic flow on major highways especially at every junctions where police was absent. On the other hand, police agencies as a formal institution did not allow its legitimacy and power resources were seized by Supeltas easily. Hence, police agencies whom still has power that comes from legislation could subdue Supeltas to be part of its rules. The relations between Supeltas and police agencies can be read as a contestation of power. However, the symptoms of weak state still shadowing the police agencies as representation of the state. In this study, the reading of weak state is emphazised on the performance of the police in carrying out duties that are not effective, so bring informal actors such as Supeltas.

Kata Kunci : Institusi Informal, Negara Lemah, Supeltas

  1. S1-2016-317979-abstract.pdf  
  2. S1-2016-317979-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-317979-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-317979-title.pdf