Laporkan Masalah

Pengaruh Konsentrasi BAP dan IBA terhadap Kultur Embrio Tiga Klon Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze)

MUTHI`ATUN, Rani Agustina Wulandari, S.P., M.P., Ph.D.; Dody Kastono, S.P., M.P.

2016 | Skripsi | S1 AGRONOMI

Salah satu upaya peningkatan produksi dan mutu teh yaitu penyediaan bibit unggul melalui persilangan. Persilangan interspesifik sering mengalami keguguran embrio. Masalah tersebut dapat diatasi melalui kultur embrio yang merupakan tehnik isolasi dan menumbuhkan embrio secara aseptik untuk mendapatkan tanaman utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tiga klon teh terhadap pemberian konsentrasi BAP pada kultur embrio dan mengetahui konsentrasi BAP yang tepat untuk multiplikasi tunas. Selain itu, juga bertujuan untuk mengetahui konsentrasi IBA terbaik untuk menginduksi akar dari tunas hasil kultur embrio. Penelitian ini dilaksanakan melalui dua tahap yaitu tahap multiplikasi tunas dan tahap perakaran. Multiplikasi tunas disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 2 faktorial, yaitu faktor klon (Cinyiruan 143, Malabar 2, dan Kiara 8) dan faktor konsentrasi BAP (0, 2, 4, dan 6 mg/l). Kemudian tunas hasil multiplikasi disubkultur pada media perakaran menggunakan RAL pada konsentrasi IBA (0, 0,5, 1, dan 1,5 mg/l). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Varian (ANOVA) pada alfa 5 %, kemudian apabila ada beda nyata diuji lanjut menggunakan DMRT. Hasil analisis menunjukkan ketiga klon yang digunakan tidak mempengaruhi multiplikasi. Multiplikasi tunas dipengaruhi oleh konsentrasi BAP. BAP konsentrasi 6 mg/l secara nyata mampu menghasilkan jumlah tunas terbanyak, namun memberikan pengaruh yang berkebalikan pada variabel jumlah daun dan panjang akar. Jumlah daun terbanyak dihasilkan pada BAP 2 mg/l, sedangkan panjang akar terpanjang dihasilkan pada BAP 0 mg/l. Pada tahap perakaran berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi IBA yang digunakan belum mampu mempengaruhi pertumbuhan akar yang dihasilkan.

One of the efforts to increase production and quality of tea is by supplying superior plant through hybridization. Embryo abortion often occurs in interspecific hybridization. This problem may be overcome through embryo culture which is a technique to isolate and grow the embryo aseptically to get a whole plant. The purpose of this research was to know the response of three tea clones towards BAP concentration on embryo culture, and the best BAP concentration for shoot multiplication. The best IBA concentration for root induction was observed from shoot that was obtained at multiplication. This research was conducted with two steps, shoot multiplication step and rooting step. Shoot multiplication step arranged with Completely Randomized Design (CRD) 2 factors, clones factor (Cinyiruan 143, Malabar 2, and Kiara 8) and BAP concentration factor (0, 2, 4, and 6 mg/l). Then shoots multiplication results subcultured on rooting medium using CRD at IBA concentration (0, 0,5, 1, and 1,5 mg/l). Data analysis was analyzed by Analysis of Varian (ANOVA) alfa 5 % and continued using Duncan's Multiple Range Tests if significantly different. The results showed that three tea clones was not influence to shoot multiplication. Shoot multiplication effected by BAP concentration. BAP 6 mg/l was performed the best shoot number significantly, but gave the opposite effect on leaves number and root length. BAP 2 mg/l resulted the highest leaves number, while the longest root generated on BAP 0 mg/l. On the rooting step, IBA concentration was not effect to root growth significantly.

Kata Kunci : kultur embrio, multiplikasi tunas, BAP, induksi akar, IBA/ embyo culture, shoot multiplication, BAP, rooting, IBA

  1. S1-2016-318063-abstract.pdf  
  2. S1-2016-318063-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-318063-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-318063-title.pdf