OPTIMASI JARAK ANTAR TUMPUAN PADA MENARA TURBIN ANGIN SUMBU HORIZONTAL RANGKA BATANG BAJA TINGGI 30 M
RIZAL AYODYA HAPSORO, Ir. Suprapto Siswosukarto, Ph.D.
2016 | Skripsi | S1 TEKNIK SIPILDi Indonesia masih banyak daerah yang belum terjamah energi listrik karena topografi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Oleh karenanya dibutuhkan pembangunan sumber-sumber energi listrik terpadu untuk daerah-daerah tersebut, seperti turbin angin. Untuk dapat dibangun di pedalaman, turbin angin yang dibangun haruslah sehemat dan seoptimum mungkin. Tipe turbin angin yang paling murah adalah turbin angin menara rangka batang. Namun belum ada pedoman dasar dalam perancangan menara rangka batang yang optimum. Studi telah dilakukan untuk mengoptimasi jarak antar tumpuan menara yang menghasilkan menara rangka batang teringan dan termurah. Menara rangka batang yang direncanakan memiliki tinggi 30 m, dengan rangka bresing tipe K dan profil baja siku tunggal sama kaki. Studi dilakukan dengan mengoptimasi menara rangka dengan variasi jarak antar tumpuan 1,5 m; 2,5 m; 3 m; 3,75 m; 4,5 m; 5 m; dan 6 m yang dimodelkan dengan menggunakan program SAP2000. Dari hasil trial program SAP2000 diketahui bahwa menara yang menghasilkan lendutan terkecil adalah menara dengan jarak antar tumpuan 6 m, namun menghasilkan berat struktur besar. Menara dengan berat struktur teringan adalah menara dengan jarak antar tumpuan 3 m, dengan lendutan yang masih memenuhi persyaratan. Oleh karena itu disimpulkan bahwa menara yang paling optimum adalah menara dengan jarak antar tumpuan 3 m.
In Indonesia there are still many areas that has not reached by electrical network due to the topography of Indonesia as an archipelago. Therefore the development of alternative electric energy resource is needed, such as wind turbines. To be built in such a remote area, wind turbines should be as economical as possible. Nowadays the most inexpensive wind turbine model is a lattice tower wind turbine. But there is still no basic guidelines to design the optimum lattice tower. An experiment is conducted to determine the foundation distance of lattice tower that produces the lightest and cheapest one. The planned lattice tower has a height of 30 m, with K-type bracing and equal angle section properties. Experiment carried out by planned the variation of foundation distance by 1.5 m; 2.5 m; 3 m; 3.75 m; 4.5 m; 5 m; and 6 m that modelled by SAP2000. From the results of the trial it is known that the tower that produces the smallest deflection is tower with foundation distance by 6 m, but produces heavy structures. While the tower with the lightest structure is tower with foundation distance by 3 m, with the deflection which still meet the requirements. So it was concluded that the most optimum tower is a tower with foundation distance by 3 m.
Kata Kunci : optimization, wind turbines, lattice tower