Laporkan Masalah

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL LIMA KLON TEBU (Saccharum officinarum L.) ASAL BIBIT MATA TUNAS TUNGGAL DI LAHAN KERING ALFISOL

LATIFUL MUTTAQIN, Dr. Ir. Taryono, M.Sc.; Dody Kastono, S.P., M.P.

2016 | Skripsi | S1 AGRONOMI

Perluasan area penanaman tebu saat ini dilakukan di lahan kering akibat persaingan dengan komoditi lain di lahan sawah. Pemilihan klon tebu yang sesuai ditanam pada lahan kering tertentu sangat penting, mengingat adanya perbedaan sifat genetik klon tebu. Selain itu, penggunaan bibit mata tunas tunggal sebagai bahan tanam juga mulai dikembangkan karena kemampuannya dalam pertumbuhan tunas, pembentukan anakan yang serempak dan seragam, serta kemudahan dalam pengaturan jarak tanam di lapangan yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas tebu. Informasi pengaturan jarak tanam dan pemilihan klon tebu sangat bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tebu supaya lebih optimal khususnya di lahan kering alfisol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak tanam optimal dan klon terbaik pada sistem pindah tanam bibit tebu di lahan kering alfisol. Penelitian menggunakan empat jarak tanam (30, 40, 60 dan 75 cm) dan lima klon tebu (PS881, PS864, VMC, Kidang Kencana dan Bululawang). Penelitian dilaksanakan di desa Bendungan, kecamatan Karangmojo, kabupaten Gunung Kidul, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 4 blok sebagai ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian dengan uji lanjutan Uji Jarak Berganda Duncan pada α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebu cenderung lebih baik pada jarak tanam lebar dibandingkan jarak tanam rapat. Jarak tanam dalam baris 60 cm adalah jarak yang paling optimal, sedangkan klon PS864 dinilai paling baik untuk ditanam di lahan kering alfisol.

The expansion of sugarcane planting area is currently done on dry land due to competition with other commodities in wetlands. Sugarcane clones selection that is suitable on certain types of dry land is very important, given the differences in the nature of genetic clones of sugarcane. In addition, the use of single bud seeds as planting materials was also began to be developed because of its ability in the shoots growth, synchronous and uniform tillering, also easy field spacing encouragement for improving productivity of sugarcane. Information of spacing and sugarcane clones selection is very useful to support the growth of sugarcane more optimally, especially in Alfisol dry land. This study aims to determine the optimum plant spacing and the best clones on the transplanting seedlings of sugarcane in Alfisol dry land. Four plant spacing used (30, 40, 60 and 75 cm) and five clones of sugarcane (PS881, PS864, VMC, Kidang Kencana and Bululawang) choosed as factors. The research conducted in the Bendungan village, district Karangmojo, Gunung Kidul city, using a randomized complete block design with 4 blocks as replicates. The data were analyzed using analysis of variance with advanced test Duncan's Multiple Range Test at α = 5%. The results showed that the growth of the sugar cane crop is better at wide row spacing than densely spaced planting. Sugarcane planting with a spacing of 60 cm is the most optimal distance and PS864 is considered as the most suitable clones to be planted in dry land Alfisol.

Kata Kunci : clone cane, dry land, growth, plant spacing

  1. S1-2016-300071-abstract.pdf  
  2. S1-2016-300071-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-300071-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-300071-title.pdf