Sampek Gepeng Melok Bantheng (Studi tentang Kemenangan Beruntun PDI Perjuangan di Kabupaten Malang tahun 1999-2014)
SYAFRIL NAZIRUDIN, R.B Abdul Gaffar Karim, S.IP., M.A.
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Pemilu seringkali dipandang sebagai proses electoral untuk menentukan pilihan seorang individu berdasarkan kesesuaian ideologi, visi, misi, maupun program kerja suatu partai politik. Namun, pemilu juga dapat dijadikan ajang untuk menghukum partai politik yang tidak dapat menjalankan ideologi maupun program kerja dengan cara tidak dipilih kembali. Kondisi demikian berbeda dengan pemilu yang ada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Terlepas penilaian terhadap baik atau buruk kinerja suatu partai politik, salah satu partai berlogo banteng (PDI Perjuangan) selalu memenangkan kontestasi lima tahunan tersebut. Terbukti sejak pemilu tahun 1999 hingga pemilu tahun 2014, suara terbanyak di Kabupaten Malang selalu diperoleh PDI Perjuangan. Fenomena demikian cukup menarik untuk diteliti yakni terkait konsistensi pilihan pemilih terhadap suatu partai politik. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yakni memberi gambaran sebuah fenomena secara holistik, membuat prediksi, serta mengklasifikasi suatu gejala. Data diperoleh dari para pengurus dan kader PDI Perjuangan di Kabupaten Malang, tokoh atau sesepuh PDI Perjuangan, local strongman, dan masyarakat umum. Dalam penelitian ini menggunakan teori perilaku pemilih sosiologis yakni menekankan faktor karakteristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh cukup penting dalam menentukan perilaku memilih seseorang. Selain itu, teori sosial Cliffort Geertz juga turut membantu dalam menjelaskan varian struktur sosial masyarakat Jawa khususnya masyarakat Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemenangan beruntun PDI Perjuangan disebabkan karena para pemilih cukup setia dan loyal memilih partai tersebut. Hal itu dikarenakan pengaruh faktor karakteristik sosial seperti jenis pekerjaan, pendidikan, agama, wilayah, jenis kelamin, umur dan lain sebagainya. Serta ditambah dengan adanya pengelompokan sosial yaitu pengelompokan formal seperti organisasi keagamaan, organisasi profesi, kelompok okupasi, dan sebagainya yang diikuti, serta pengelompokan informal seperti keluarga, pertemanan, atau kelompok kecil lainnya. Satu hal yang paling menonjol dan membedakan antara pemilih sosiologis di Kabupaten Malang dengan pemilih sosiologis pada umumnya yakni adanya faktor ketokohan Soekarno yang mempengaruhi perilaku pemilih PDI Perjuangan. Kemudian dalam penelitian ini mengungkap hal yang cukup menarik yaitu pemilih sosiologis yang kerap diasumsikan pemilih kelas bawah dengan tingkat pendidikan rendah namun cukup kuat dalam menghadapi gempuran money politics.
Social election is sometimes observed as the electoral process to decide the choice of an individual based on ideological agreement, vision, mission, and the working program of a political party. However, public election can become an occasion to punish the political party which cannot run the ideology or working program by not being chosen for one more time. The condition is different from the public election in Malang Regency, East Java. Despite the assessment towards the good and bad work of a political party, one of the parties whose logo was bull (PDI Perjuangan) always won the five-year contest. It is proven since the 1999 public election to the 2014 one. The phenomenon is interesting enough to be researched; the ne related to the consistency of the voters� choice towards certain political party. The researcher used descriptive qualitative method which was giving description of a phenomenon holistically, making prediction, and classifying a symptom. The data obtained from the committee and cadre of PDI perjuangan in Malang Regency, the actor or senior of PDI perjuangan, local strongman, and public society. This research used the theory of voters� sociological behavior which emphasized on the factor of social characteristics and social grouping that have important influence in deciding the behavior of someone voting. The result of the research showed that the in-row victory of PDI perjuangan was caused by the loyal voters and those who were loyal to the party. This was due to the influence of social characteristics factor such as job, education, religion, and region. In addition, there was a formal grouping like religion organizations, professional organizations, and occupied group, and the informal grouping, like family, friendship, and other small groups. The difference between sociological voters in Malang regency and sociological voters in general is in the factor of Soekarno�s character which influences the behavior of PDI perjuangan voters. Besides that, the sociological voters who keep being assumed as lower class voters with lower education level are not always in negative meaning. This issue is due to the fact that the sociological voters in Malang regency more resistant towards money politics. They put their choice on PDI perjuangan in the middle of money politics from various political parties.
Kata Kunci : Pemilu, PDI Perjuangan, Pemilih Sosiologis, Ketokohan Soekarno