KONFLIK KEBIJAKAN PENATAAN PEDAGANG MINGGU PAGI (Studi Kasus di Kampus UGM)
ADWIN SANITA, TADJUDDIN NOER EFFENDI, Prof. Dr., M.A.
2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIPenataan merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk menata kota agar lebih teratur. Pedagang yang seringkali berjualan di trotoar jalan menjadi sasaran utama karena seringkali mengganggu kenyamanan pejalan kaki dan penyebab kemacetan. Keberhasilan penataan pedagang tergantung pada beberapa hal, seperti terjadinya kata sepakat antara pembuat dengan penerima kebijakan penataan, lokasi baru yang telah dipersiapkan dengan matang, dilengkapi berbagai fasilitas, kondisi tempat yang bersih, nyaman dan aman bagi para penjual dan pembeli, dan sebagainya. Apabila beberapa hal tersebut telah tercukupi maka tidak akan menimbulkan masalah dan penataan berhasil dilaksanakan. Namun hal berbeda terjadi ketika UGM menetapkan kebijakan penataan pedagang minggu pagi dari sepanjang Jl. Notonagoro sampai Jl. Olahraga menuju Jl. Lingkar Timur. Realisasi penataan pedagang mengalami kendala karena diwarnai oleh konflik dan berakibat pada kegagalan penataan. Skripsi ini menjawab masalah mengenai mengapa kebijakan penataan pedagang minggu pagi memunculkan konflik antara UGM dengan pedagang dan bagaimana perkembangan konflik kebijakan didalamnya. Tujuan yang hendak dicapai ialah memahami latar belakang munculnya konflik kebijakan penataan pedagang minggu pagi antara UGM dengan pedagang dan perkembangan konflik selama 2 tahun sejak munculnya kebijakan pada bulan September 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dimana penelitian ini menempatkan sebuah kasus sebagai fokus dari penelitian. Lokasi penelitian berada di sepanjang Jl. Notonagoro sampai Jl. Olahraga. Informan utama terdiri dari pihak UGM dan pedagang minggu pagi. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman mulai dari reduksi data, penyajian data, hingga penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil yang diperoleh yaitu konflik antara UGM dengan pedagang dilatarbelakangi oleh kebijakan penataan pedagang minggu pagi yang ditetapkan oleh UGM. Awalnya, terjadi berbagai pertemuan untuk mengatasi konflik agar tidak semakin besar. Kesepakatan antara UGM dengan pedagang atas kepindahan pedagang juga sempat terjadi pada 31 Desember 2013. Akan tetapi, kepindahan tersebut membuat pedagang mendapatkan berbagai masalah baru. Akibatnya, pedagang memutuskan kembali ke tempat semula dan konflik dengan UGM kembali berlanjut. Tidak lagi hanya sebatas pertemuan, melainkan muncul berbagai aksi dari masing-masing pihak untuk mendesak kepentingannya. Setelah aksi tersebut berlalu, konflik antara kedua belah pihak mulai meredup. Dengan demikian, kebijakan penataan telah gagal diterapkan. Pihak UGM memilih diam untuk menghindari konflik terbuka yang bisa semakin memperparah keadaan.
The arrangement is one of the ways that is done by the Government to organize the city to be more organised. Traders often sell on the sidewalk road becomes the main target because it's often interfere with the comfort of pedestrians and the cause of the bottleneck. Traders arrangement success depends on several things, such as the occurrence of words agreed between makers with recipient arrangement policy, a new location that has been prepared, equipped with a various fasilities, condition of the place is clean, comfortable and safe for the sellers and buyers, and so on. If some things would be sure that it will not cause problems and arrangement successfully implemented. But, different things happen when the Gadjah Mada University set planning arrangement policy of traders sunday morning along Jl. Notonagoro - Jl. Olahraga towards Jl. Lingkar Timur. Realization of structuring traders experienced constraints due to colored by the conflict and result in failure of the arrangement. This thesis answers the problem as to why policies structuring traders sunday morning gave rise to conflict between the Gadjah Mada University with traders and how development policy conflict within. The goal is to understand the background of the conflict planning policies traders sunday morning between UGM with traders and development of the conflict during the 2 years since the advent of the policy in September 2013. The research method used was qualitative approach of case studies where this research puts a case as a focus of the research. The research location is along Jl. Notonagoro until Jl. Olahraga. Key informant consists of Gadjah Mada University and traders sunday morning. The collection of data by observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis of data using models Miles and Huberman started from the reduction of the data, the presentation of data, up to the withdrawal and verification conclusion. The results obtained, namely the conflict between the Gadjah Mada University with the traders effected by arrangement policy of traders sunday morning established by the University. Originally, there was a range of meetings to resolve the conflict to keep it from getting bigger. The agreement between Gadjah Mada University with traders had also occurred on December 31, 2013. However, the move made traders get a variety of new problems. As a result, traders decided to return to the original place and conflict with Gadjah Mada University back continues. No longer only as a function, but emerged a variety of action from each side for the urgent interests. After the action is passed, the conflict between the two sides started began to fade. Thus, applied the arrangement policies has failed. Gadjah Mada University choose to remain silent to avoid open conflict that could futhur aggravate the situation.
Kata Kunci : kebijakan, konflik, pedagang minggu pagi, penataan, UGM.