Laporkan Masalah

Komunitas Rumahutan Suaka Budaya & Pengetahuan Desa

ANDREAS JANU SAKTYO, Dr. Ing. Ir. E. Pradipto

2016 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Alam yang pada masanya diyakini sebagai ibu bumi-ibu pertiwi sekarang tak lebih hanya menjadi sumber daya alam, hanya sebagai bahan pemasok penggerak industri-komersialisasi berbagai kebutuh-inginan kepentingan banyak pihak. Hasil produksi tidak berhubungan atau dihubungkan dengan pembuat atau penciptanya dan material bahan penyusunnya sehingga tidak ada rasa keterikatan antara pengguna atau konsumen dengan para produsen terlebih pada materialnya. Dalam suatu komunitas desa, mereka yang memiliki keragaman kebudayaan kultural dan keilmuan secara spesifik masih menyisakan sisa-sisa artefak kehidupannya, entah itu desa adat yang masih mengurung diri dari kehidupan luar atau desa di tepian perkotaan yang keduanya sama-sama sedikit banyak tersentuh oleh arus globalisasi yang masih memiliki keaslian budayanya. Disini diperlukan usaha untuk mengembalikan kesadaran, semangat mental, pola pikir dan tata laku yang ada di perdesaan dengan pemahaman lokal (dimensi kesetempatan) yang bersifat relatif dan universal (dimensi kesemestaan) yang bersifat konstan, bukan berarti kembali ke kehidupan lampau. Dengan demikian maka terjadi keseimbangan antara masyarakat perdesaan dengan masyarakat alam yang menyatu dalam kesatuan untuk mencapai perbaikan kualitas hidup. Oleh karena itu diperlukan penghadiran ruang yaitu Komunitas Rumahutan sebagai suaka budaya dan pengetahuan desa yang mewujud dalam keberlangsung-lanjutan generasi muda.

Nature, once considered to be the mother earth and nation, is now nothing but a resource and a supplier of industrial driven-commercialization of a variety of needs and desires of many parties. The production is not related to the creators and material constituent materials so there is no sense of belonging among users, consumers and producers prior to the material. In a rural community, those who have diversity specifically in cultural and scientific aspects still leave remnants of artifacts of his life, whether it is the traditional village or rural area that is still locked away from the outside which are both equally affected by globalization with its cultural authenticity. Here the necessary efforts to restore consciousness, mental spirit, mindset and local conduct that exist in rural areas with local knowledge is constantly relative and universal, not a return to the past. Thus, there is a balance between the rural populations and natural communities that blend in unity to achieve improvement in quality of life. It is therefore necessary to create Community Rumahutan as a sanctuary for local culture and values embodied in sustainability-advanced younger generation.

Kata Kunci : komunitas, sekolah alam, suaka, budaya, desa

  1. S1-2016-319719-abstract.pdf  
  2. S1-2016-319719-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-319719-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-319719-title.pdf