Memetakan Jaringan Pondok Pesantren Waria Al Fatah, Yogyakarta
INDA LESTARI, Derajad Sulistyo Wedhyarto, S.Sos, M.Si
2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIWaria dalam pandangan masyarakat masih dipandang sebagai tindakan menyimpang dan melanggar norma. Penolakan masyarakat ini yang menjadikan mereka sebagai kelompok termarjinalkan. Tidak hanya ditolak oleh masyarakat, waria pun seringkali ditolak oleh keluarga. Tidak jarang mereka lari dari keluarga tanpa membawa apapun seperti KTP dan ijazah. Hal ini tentu membuat waria sulit mendapat pekerjaan. Maka waria pun atas nasib termarjinalkannya tersebut melakukan perkumpulan dan membentuk organisasi waria. Tujuannya adalah kesejahteraan bagi waria seperti untuk mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara lainnya. Saat ini setidaknya ada tiga organisasi besar waria di DIY yaitu IWAYO yang bergerak dibidang kesehatan, KEBAYA dibidang advokasi. Serta satu lagi organisai yang berbeda yaitu Pondok Pesantren Waria Al Fatah dibidang keagamaan. Jika selama ini waria termarjinalkan karena ajaran agama yang menolak keberadaan waria maka pondok pesantren ini merupakan gerakan baru. Dikarenakan perbedaannya dari gerakan lain maka organisasi ini memiliki jaringan yang berbeda. Kekuatan jaringan dan dampak jaringan bagi waria yang termarjinalkan menarik untuk dilihat. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Yakni digunakan penjelasan deskriptif untuk menggambarkan jaringan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Waria Al Fatah. Untuk menjelaskan dan menganalisa penelitian ini digunakan teori dari Granovetter mengenai keterlekatan dan teori jaringannya. Dikarenakan gerakan ini tidak hanya sebatas distribusi ekonomi maka digunakan pula teori Nancy Fraser tentang rekognis yakni perjuangan pengakuan identitas waria. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jaringan dimiliki oleh Pondok Pesantren Waria Al Fatah sangat luas. Dimulai dari jaringan lokal (DIY), nasional, hingga internasional. Jaringan tersebut juga berasal dari berbagai kalangan mulai dari LSM, organisasi, tokoh masyarakat, akademis hingga pemerintah. Namun sempat terjadi gerakan radikal oleh Front Jihad Islam (FJI) yang ingin menutup pondok pesantren. Hal ini menjadi ujian bagi jaringan yang dimiliki. Atas kejadian tersebut terlihat bahwa hanya beberapa pihak saja yang memberikan bantuan seperti LBH dan UNISNU dan kelompok pro LGBT. Selain dari pihak tersebut beberapa pihak jaringan tidak memberikan tanggapan, sikap dan bantuan terhadap kejadian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Waria Al Fatah merupakan subjek bagi pihak jaringan tersebut. Selama tidak ada kepentingan dan tujuan kerjasama hanya sebatas yang sudah ada dan tidak ada keikutsertaan pada penanganan kasus dengan kelompok fundamentalis ini.
In Indonesia people perceive waria as a deviation and and think they are violating norms. The rejection from people make waria marginalized. Many waria are not only rejected by people but also by their family. Usually, when waria run away from their family, they don't bring anything like id card and graduate certificate. This is why it is difficult for waria to find a job. Because they are marginalized, waria decided to form an organization. The purpose of the organization is welfare fo waria with the purpose of getting the same rights as other citizens. Nowadays, there are three big waria organization in Yogyakarta. The first one is IWAYO that focuses on health. The second one is KEBAYA that focuses on advocacy. The last one is the Pondok Pesantren Waria Al Fatah that focuses on religion. Because of the different concerns of the organizations, each organization has different networks. The strenghts and impacts of these waria networks contain great sociological interest. This research uses qualitative methods to describe in detail the network of Pondok Pesantren Waria Al Fatah. Garnovetter�s theory about embeddednes and network is used to explain and analyse the waria networks. Besides the theory of Garnovetter about embeddednes network theory is also used in this research. Because this movement is not only about redistributional economics but also about recognition, Nancy Fraser�s theory about the recognition of identity is used in this research as well. The result of this research shows that the Pondok Pesantren Waria Al Fatah has large networks, there are lokal or DIY, nation and international networks. Networks contain many elements. There are NGOs, organizations, prominent figures, academics and the goverment. But, there is also the radical movement of the Front Jihad Islam (FJI). They want to close the Pondok Pesantren Waria Al Fatah. This became a test for the strenght of networking. There was some help from some networks. including LBH, UNISNU and another group who give support for LGBT. But there are other networks who do not give their support and response about this case. It shows that the Pondok Pesantren Waria Al Fatah is just part of some of the networks. If they do not benefit from each other, there is no support nor any response to solve the case with the fundamentalist group.
Kata Kunci : pondok pesantren, keterlekatan, jaringan, waria