PERAWATAN IBU NIFAS DAN BAYI BARU LAHIR DALAM BUDAYA KAO MAU DI MASYARAKAT DESA WAJOMARA KECAMATAN AESESA SELATAN KABUPATEN NAGEKEO PROPINSI NTT
MARIA LUPITA NENA MEO, Dr. Dra.Sumarni.,DW.,M.kes. ; Dr. Widyawati, S.Kep., M.Kes,
2016 | Tesis | S2 KeperawatanLatar belakang:. Hambatan utama pemenuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak di NTT adalah budaya yang masih dianut oleh masyarakat NTT, salah satunya adalah budaya kao mau yang dijalani oleh ibu nifas di Desa Wajomara. Penelitian ini akan mendeskripsikan perawatan nifas dan bayi selama menjalani budaya kao mao. Metode: Menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi pada 10 informan yang diambil menggunakan teknik purposive sampling di Desa Wajomara. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Data dianalisis menggunakan teknik analisis data menurut Colaizzi. Hasil:Tujuh tema utama yang muncul: (1)Tradisi harus dilestarikan: alasan menjalani budaya kaâo mau; (2) Batasan diet selama menjalani budaya kao mau; (3) Perawatan diri ibu nifas; (4) Pembatasan perilaku selama budaya kao mau; (5) Dukungan lingkungan sosial; (6) Pemberian makan pada bayi; (7) Praktik perawatan tali pusat Kesimpulan: Budaya kao mau merupakan ritual yang penting bagi masyarakat Wajomara. Ibu nifas hanya mengkonsumsi jagung dan menghindari nasi, sayuran, dan ikan/daging, garam, dan makanan pedas. Perawatan diri meliputi mandi dan perawatan perineum menggunakan ramuan. Ibu dilarang melakukan pekerjaan rumah tangga & pantangan berhubungan seksual. Dukungan keluarga dalam bentuk tenaga dan uang. Bayi diberikan ASI selama 6 bulan tapi masih terdapat kebiasaan membuang kolustrum dan perawatan tali pusat menggunakan abu perapian dan bedak.
Background: The main restriction in fulfilling the mother and newborn baby health service was the culture that East Nusa Tenggara people belief, for example kao mau that was still implemented by postpartum mother in Wajomara Village, Nagekeo District. The objective of this research was to describe the postpartum mother and newborn baby care in kao mau tradition. Method: This research used qualitative design with phenomenological approach. Data collection was done using in-depth interview and observation in 10 informants who were taken using purposive sampling technique in Wajomara Village. Data validity examination technique used resource triangulation. Method and data were analyzed using ethnographic data analysis by Fielding. Results:Eminent themesL: (1) Reasons undergo ma'u ka'o culture; (2) Diet and abstinence (3)Personal hygiene; (4) Behavioural precautions; (5) Social support (6) Infant feeding; (7) umbilical cord care practices Conclusion: Culture ka'o ma'u is a ritual of public importance Wajomara. Puerperal women only consume corn and avoid rice, vegetables, and fish / meat, salt, and spicy foods. Self-care in kao mau involved taking a bath and perineum care using traditional concoctions. The mother needed to avoid household activities and sexual activity. Family support in the form of manpower and money. Family support was shown in form of power and money. Newborn baby care in kao mau consisted of colostrums disposal and baby cord care using traditional concoctio
Kata Kunci : Kao mau tradition, postpartum care, newborn baby, East Nusa Tenggara Province