Scaffolding Berdasarkan Gender Siswa dan Usia Tutor pada Pelajaran Cara Meminta Sesuatu dan Berterima Kasih Menggunakan Bahasa Jawa Krama di Kelas Tiga SD
FITRI PAMULATSIH, Prof.Dr.Thomas Dicky Hatjarjo
2016 | Tesis | S2 PsikologiScaffolding Berdasarkan Gender Siswa dan Usia Tutor pada Pelajaran Cara Meminta Sesuatu dan Berterima Kasih Menggunakan Bahasa Jawa Krama di Kelas 3 SD Fitri Pamulatsih sejumlah siswa di kelas 3 yang kurang mahir berbahasa Jawa meningkat, salah satu pemicu adalah kurangnya penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. Skor siswa yang rendah pada tes prestasi bahasa Jawa Krama menunjukkan bahwa mereka tidak menguasai bahasa Jawa Krama. Tujuan pertama dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan kemampuan bahasa Jawa Krama antara siswa laki-laki dan perempuan. Kedua, untuk melihat perbedaan kemampuan siswa yang diberi scaffolding berdasarkan usia tutor. Analisis data diperoleh dari diskusi 4 kelompok yang disimpan dengan perekam. Ada 55 siswa berusia antara 9 sampai 10 tahun yang menjadi subjek, terdiri dari 24 siswa perempuan dan 31 siswa laki-laki. Penulis menerapkan scaffolding yang didasarkan pada teori Vygotsky sebagai alat untuk membantu atau memfasilitasi siswa untuk menguasai Jawa Krama. Scaffolding mengacu pada unsur-unsur proses pengendalian tugas yang berada di luar kemampuan para siswa, sehingga mereka dapat fokus pada tugas yang mereka tidak dapat pahami dengan cepat, kemudian menguasainya. Metode penelitian kuasi eksperimen digunakan dalam penelitian ini. Siswa dibagi menjadi empat kelompok, siswa laki-laki yang dibimbing oleh rekan laki-laki, siswa laki-laki yang dibimbing oleh laki-laki dewasa, siswa perempuan yang dibimbing oleh rekan perempuan, dan siswa perempuan yang dibimbing oleh perempuan dewasa. Hasilnya, pertama tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan Jawa Krama antara anak laki-laki dan perempuan. Kedua, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan Jawa Krama antara anak laki-laki dan perempuan yang dibimbing oleh rekan-rekan dan orang dewasa.
The number of students in 3rd grade who are less proficient in Javanese language is increasing, one of the triggers is the lack of the Javanese language use in everyday communication. The low score in Javanese achievement test showed that they did not master Javanese Krama. The first aim of this research is to see the differences between boys and girls proficiency of Javanese Krama. Second, to look at the proficiency difference students who were given scaffolding based on tutor age. The analysis drew on data from the discussions of 4 groups material that was saved automatically by the recorder. The age of the 55 students ranged from 9 to 10. The girls are 24 and the boys are 31.The authors apply the scaffolding technique which is based on Vigotsky theory as a means to help or facilitate students to master Javanese Krama. Scaffolding refers to the process control task elements that are beyond the capabilities of the students, so that they can focus on the characters of the task that they cannot understand quickly, then master it. Quasi-experiment research method was used in this study. Students were divided into four groups, male students who were mentored by male peer, male students who were mentored by male adult, female students who were mentored by female peer, and female students who were mentored by female adult. As a result, first, there was no significant difference in the ability of Javanese Krama between boys and girls. Second, there was no significant difference in the ability of Javanese Krama between boys and girls who were mentored by peers and adults.
Kata Kunci : Scaffolding, gender siswa, usia tutor, kemampuan bahasa Jawa Krama