Laporkan Masalah

NGURI-NGURI BANYU UDAN Turning Spirituality of Rainwater in the Southeast Flank of Mt. Merapi

YOGA KHOIRI ALI, Dr.Zainal Abidin Bagir

2016 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian ini membahas tentang spiritualitas air hujan di antara warga desa di sisi tenggara Gunung Merapi, yaitu, Desa Bunder Jarakan. Sejak dahulu kala, mereka telah lebih tergantung pada air hujan daripada air tanah. Hal ini dikarenakan tidak pernah ditemukan sumber mata air di desa ini. Peneliti melihat bahwa masyarakat sudah memiliki ikatan yang sangat dekat sekali dengan air hujan, baik untuk konsumsi, sosial, budaya, dan ritual keagamaan. Masalahnya yaitu, setidaknya setelah pembangunan desa sejak tahun 1975 hingga 2013, air hujan itu didiskriminasi oleh peminum tanah dan air mineral, terutama oleh para tamu dari kota yang berkunjung atau ketika bertemu di ruang publik. Konsumsi air hujan oleh masyarakat Bunder Jarakan berpengaruh terhadap identitas mereka di ruang sosial. Oleh karena itu, pemilihan air di ruang publik tidak hanya kebutuhan tetapi juga dipengaruhi oleh pilihan yang (ter)dipaksa dimana masyarakat Bunder Jarakan dalam ruang sosial berharap mendapatkan modal sosial dan ekonomi. Meskipun demikian, masyarakat tidak begitu saja menerima diskriminasi atas air hujan, mereka melakukan negosiasi dan bahkan resistensi untuk mempertahankan air hujan. Pelan tapi pasti, habitus masyarakat mengkonsumsi air hujan mulai berubah. Di satu sisi, masyarakat merasa terangkat derajat identitasnya, modal sosial dan modal ekonominya karena sudah mampu mengkonsumsi dan menyuguhkan air mineral bagi para tamu. Namun di sisi lain, mereka mulai kehilangan hubungan dengan air hujan, paling tidak, mereka merasa enggan dan malu atau bahkan rendah diri mengkonsumsi maupun menyuguhkan air hujan. Selanjutnya, mereka mulai mereproduksi untuk membiasakan diri dengan produk-produk, baik air maupun obat-obatan yang terlihat modern. Dengan kata lain, air hujan mulai ditinggalkan dan mulai diganti oleh air minum mineral yang diproduksi oleh para Kapitalis. Melihat kasus di atas maka, beberapa agen berupaya untuk mengadvokasi air hujan sekaligus masyarakat Bunder Jarakan. Para agen berlomba untuk memenangkan wacana atas air melalu gerakan nguri-nguri Banyu Udan (NnBU); peduli dan melestarikan air hujan untuk mencapai hidupkan spiritualitas air hujan. Dari fenomena tersebut, peneliti fokus mempertanyakan bagaimana spiritualitas air hujan dibangun dan bagaimana tindak lanjutnya. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan beberapa teori Bourdieu seperti habitus, modal dan lapangan, praktik, dan secara umum juga menyentuh pada sejarah, produksi budaya, kekuasaan, lembaga, dominan, budaya sewenang-wenang, doxa, hexis, body, kekerasan bahasa simbol, kekuatan bahasa, dan kelas. Dengan menggunakan teori Bourdiue maka, peneliti berpendapat bahwa, para agen yang mendomnasi permainan air hujan mereproduksi atau mengubah modal seluruh budaya yang dimiliki oleh masyarakat dan para agen agar fokus untuk mengangkat air hujan, atau bahasa peneliti, spiritualitas air hujan melalui NnBU. Para agen mendekonstruksi wacana-wacana untuk mengubah setiap individu yang terlibat sebagai subjektif dari permainan agar mengambil bagian dalam permainan sehingga mereka percaya diri memiliki air hujan. Beberapa praktek yang dilakukan yaitu, ritual, pentas seni, diskusi, pembuatan alat elektrolisa air, uji kualitas air baik secara mandiri, kelompok menggunakan TDS dan PH tester maupun melalui uji laboratorium mengikuti standard WHO. Hasilnya, secara umum , kegiatan yang terus dilakukan ini mampu mengangkat derajat air hujan atau spiritualitas air hujan sekaligus mengembalikan kepercayaan dan identitas diri masyarakat lokal sebagai anak banyu udan. Spiritualtas air hujan adalah habitus baru yang dimiliki oleh masyarakat Bunder Jarakan. Selanjutnya, setelah habitus baru dan produksi budaya memperkuat NnBU maka, para agen dan masyarakat Bunder Jarakan tidak bermain di lapangan yang terlihat terstruktur seperti yang dianggap oleh Bourdieu. Namun melainkan, menurut peneliti, mereka menggunakan NNBU sebagai kendaraan melawan di beberapa trek yang tidak legal dan tidak terstruktur. Mereka melawan segala macam dominasi dan diskriminasi atas air hujan melalui berbagai strategi seperti karya seni dan budaya, ritual, media, penelitian ilmiah, produksi gen lembaga baru. Paling tidak, setiap subjektif dari NnBU melawan di berbagai trek yang tidak dikuasai oleh siapapun dan tidak terstruktur seperti dalam trek pengetahuan wacana, simbol dan bahasa, kesehatan, pendidikan, ekonomi, kebijakan, sosial, dan budaya.

This research discusses about the spirituality of rainwater among villagers in the southeast flank of Mt. Merapi, namely, village of Bunder Jarakan. They had been more depending on rainwater rather than ground water because this village never found spring. The problem is that, at least, after village development since at 1975 until 2013, rainwater was discriminated by drinkers of ground and mineral water. Selection of water in public spaces is not only a necessity but also influenced by the forced choice of society in social space to gain social and economic capital. In one hand, villagers changed their habitus, their social and economic capital, but on the other hand lose their habitus and capital on rainwater culturally because felt reluctant to show off their rainwater. However, some agents contest to triumph the discourses on water during operation as society calls it as the movement of Nguri-Nguri Banyu Udan (NnBU); care and conserve on rainwater to reach then turn spirituality of rainwater. Base on those phenomenon, the researcher focused in questioning how is spirituality of rainwater constructed and how is scaled up. This research was analyzed by applying several Bourdieus theories such as habitus, capital and field, practice, and in general also touched on the history, cultural production, power, agencies, dominant, arbitrary culture, doxa, hexis, body, symbolic violence of language, the power of language, class. Through NnBU, the agencies reproduced or transformed the whole cultural capital with a focus on rainwater. Competition of some discourses was deconstructed by agencies to change each individual who was involved in subjective sense of the game and took part in the game in order to show off rainwater through some practices; ritual, art performances, discussion, scientific research etc. As the result, they raise the degree of rainwater and local peoples habitus; spirituality of rainwater. Further, the researcher argues that, after new habitus and cultural production reinforced NnBU, it is not engaged in the field, but in several unauthorized and unstructured tracks. Using a variety of strategies such as work of art and culture, ritual, media, scientific research, production gen new agency, every subjective of NnBU battles in several unauthorized and unstructured tracks such in discourse knowledge, symbols and language, health, education, economy, policy, social, and culture.

Kata Kunci : rainwater, agency, NnBU, and spirituality