Genealogi Pengkajian dan Ilmu Komunikasi di Indonesia
JUSTITO ADIPRASETIO, Prof. Nunung Prajarto. M.A., Ph.D.; Wisnu Martha Adiputra. S.IP.,M.Si.
2016 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiPenelitian ini mengkaji bagaimana komunikasi masuk ke dalam lapangan wacana keilmuan sebagai efek persentuhan masyarakat pribumi dengan pendatang dari negeri Eropa, beserta hasrat kolonialisme, serta perkembangannya pada masa Orde Lama, Orde Baru, hingga menemukan bentuknya sebagai disiplin ilmu seperti sekarang. Dengan menganalisis wacana dan relasi kuasa terkait pengkajian komunikasi, utamanya dalam teks-teks yang kemudian peneliti bagi dalam pembabakan, peneliti berfokus pada satu pertanyaan: bagaimana kuasa/pengetahuan bekerja dalam perkembangan wacana pengkajian dan ilmu komunikasi di Indonesia? Menggunakan genealogi Foucauldian, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat relasi antara pengkajian komunikasi dan praktik pendisiplinan terkait komunikasi oleh negara. Keduanya berjalan dengan berkesinambungan, membahu pada setiap era. Pada momen awal kolonial, komunikasi masuk ke lapangan keilmuan didasarkan pada motif rasionalitas kolonial untuk mengenali subjek inlander, yang pada saat itu memiliki mode komunikasi yang berbeda, mode komunikasi kawula-gusti. Motif pengkajian tersebut berujung pada praktik pendisiplinan terhadap subjek-subjek inlander untuk mengenyam rasionalitas baru terkait praktik komunikasi. Pasca kemerdekaan, saat wacana negara modern Indonesia menjadi tegak, pengkajian komunikasi ternyata tetap pada aras yang sama. Pengkajian komunikasi dilegitimasikan dengan dibentuknya Ilmu Penerangan selanjutnya Ilmu Komunikasi, berjalan sepaket dengan praktik pendisiplinan komunikasi digunakan oleh Orde yang berkuasa (Orde Lama dan Orde Baru) sebagai mesin rekayasa sosial untuk menundukkan subjek-subjek rakyat. Penelitian ini di bagian akhir juga akan menjabarkan bagaimana keterkaitan pengkajian dan ilmu komunikasi dengan aras kapital serta absennya Marxisme dalam kurikulum akibat dari efek diskursif gejolak 1965.
This research examines how communications fit into the field of scientific discourse as contiguity effect indigenous communities with conqueror from European countries, along with the desire of colonialism, as well as its development during the Old Order (Orde Lama), New Order (Orde Baru), to find its form as a scientific discipline as it is now. By analyzing the discourse and power relation related to the study of communication, especially in texts that later researcher for the phases, researcher focused on one question: how the power / knowledge related to development of studies and science of communication discourses in Indonesia. Using Foucauldian genealogy, this study shows that there is a relation between the study of communication, as science, related to disciplinary practices communications by the state. Both were running with close proximity, have mutualism on each era. At the beginning of the colonial moment, communication entry into the field of science was based on the motives of colonial rationality to recognize the inlander subject, which at the time had a different mode of communication, the communication subject mode kawula-gusti. The studies motive led to the disciplinary practices of the subjects inlander to acquire a new rationality related communication practices. Post-independence, and the discourse of the modern state of Indonesia becomes sturdy, communication studies has remained at the same level. Communication studies legitimized with the formation of "Ilmu Penerangan" hereafter "Ilmu Komunikasi", running a package of communications disciplinary practices used by the Order of the ruling (Old Order and New Order) as engines of social engineering to subdue subjects people. This study also outlines how the linkage studies and Communication Science with the capital levels and the absence of Marxism in the curriculum as a effect discursive of turmoil in 1965, and intimacy study of communication and Communication Science with the market.
Kata Kunci : Pengkajian Komunikasi, Ilmu Komunikasi, Analisis Wacana, Foucauldian