FACTORS CONTRIBUTE TO THE IMPLEMENTATION OF GREEN CITY DEVELOPMENT PROGRAM, CASE STUDIES: SALATIGA CITY, BLITAR CITY AND PROBOLINGGO CITY
RAHINDRO, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.
2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahProgram Pengembangan Kota Hijau diinisiasi dan dimulai pada tahun 2011 oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan melalui pelaksanaan konsep kota hijau dan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah sekaligus meningkatkan partisipasi public dalam melaksanakan agenda perkotaan. Program ini meliputi 8 atribut, akan tetapi dalam penelitian ini hanya akan dibahas 3 atribut, yaitu green planning and design, green open space and green community. Program ini pada awalnya diikuti oleh 60 peserta pada tahun 2011 dan pada tahun 2013 diikuti oleh 112 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Dalam pelaksanaannya, program ini telah dievaluasi dan hasilnya ada ada peserta yang dikategorikan baik, cukup dan kurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program pengembangan kota hijau di Kota Salatiga, Kota Blitar dan Kota Probolinggo yang mewakili peserta dengan kategori baik, cukup dan kurang dan juga untuk mengukur pencapaian kinerja ke 3 kota tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif adalah proses penyelidikan untuk memahami fenomena social berdasarkan gambaran menyeluruh dari kata-kata, detail dan pengamatan yang didesain dalam latar belakang ilmiah. Sedangkan metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah dengan mendeskripsikan kondisi subjek/objek penelitian berdasarkan fakta dan menjelaskan hubungan antara fakta-fakta tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, factor yang mempengaruhi pelaksanaan program pengembangan kota hijau di ke 3 kota tersebut adalah factor sumber daya yang terdiri dari sumber daya manusia dan ketersediaan lahan. Selanjutnya, juga ditemukan persoalan terkait masalah administrasi dan ketidakpuasan terhadap kinerja tenaga kontrak individual. Akan tetapi, hasil yang berbeda diperoleh ketika evaluasi terhadap output dilakukan dengan mengukur 4 indikator kinerja. Berdasarkan hal tersebut, Kota Salatiga memperoleh kinerja tertinggi diikuti oleh Kota Blitar dana Kota Probolinggo. Kemudian, ditemukan juga bahwa factorfaktor yang mempengaruhi hasil tersebut adalah penambahan luasan RTH dan alokasi APBD untuk mendukung program pengembangan kota hijau.
Green City Development Program (GCDP) was initiated and started in 2011 by Directorate General of Spatial Planning, the Ministry of Public Works. Objectives of the program are to improve urban space quality particularly through the implementation of green city and local regulation on spatial planning (Perda RTRW) as well as to improve public participation in implementing urban agenda. The program covers 8 attributes of green city, however in this research there are only 3 of them will be discussed (green planning and design, green open space and green community). The program was initially followed by 60 participants in 2011 and in 2013 there were 112 regencies and cities all over Indonesia. During its implementation and evaluation, there are participants who are categorized as good, moderate and poor. The main purpose of this research is to identify and determine factors contribute to the successful or unsuccessful of the program in Salatiga city, Probolinggo city and Blitar City who represent good, moderate and poor as well as measure to their achievement based on 4 performance indicators. This research is using qualitative approach with descriptive method. Qualitative approach is an investigative process to understand social or human issues based on creation of holistic picture derived from words, detail observation and designed in a scientific background. While, descriptive method is a problem solving procedure by describing the condition of research subject/object based on facts and describing relation among those facts. Based on empirical results, the research shows that resources comprise human resources and land availability as factors that distinguish performance of the 3 cities. Moreover, there is also an issue regarding administrative process (SPJ) and individual contract where interviewees from the 3 cities were dissatisfied with their performance. However, the evaluation result is different when output of the program is measured. According to the output evaluation, Salatiga has the highest score followed by Blitar and Probolinggo. It also found that green open space improvement and budget allocation are the 2 factors that distinguish the 3 cities.
Kata Kunci : kota hijau, program pengembangan kota hijau , evaluasi program, dan implementasi program, green city, green city development program, program evaluation, program implementation