DINAMIKA PERTUMBUHAN TEGAKAN TINGGAL DAN PENGATURAN HASIL PADA HUTAN BEKAS TEBANGAN DI BEBERAPA UNIT PENGUSAHAAN HUTAN DI PAPUA
RELAWAN KUSWANDI, Dr. Ir. Ronggo Sadono
2016 | Disertasi | S3 Ilmu KehutananKarakteristik hutan alam memiliki keragaman sangat tinggi, maka pengelolaan hutan menuntut adanya penyesuaian terhadap karakteristik hutan alam tersebut. Penetapan jatah tebang tahunan sebagai implikasi dari pangaturan hasil yang dilakukan secara umum untuk semua kondisi hutan dan hanya berdasarkan standing stock akan berpengaruh terhadap kelestarian dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika pertumbuhan tegakan tinggal dan pengaturan hasil dengan fokus pada hasil produk kayu dalam pengelolaan hutan di Papua dengan melihat karakterisitik ekologi dan keterlibatan masyarakat pemilik hak ulayat. Penelitian ini dilaksanakan pada areal bekas tebangan di 3 (tiga) pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) yaitu PT Tunas Timber Lestari (TTL), PT Wapoga Mutiara Timber Unit II (WMT-II) dan PT Manokwari Mandiri Lestari (MML) Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengumpulan data pertumbuhan pohon (growth) dan data struktur tegakan tinggal dilakukan pada Petak Ukur Permanen (PUP) ketiga pemegang IUPHHK. Untuk mengetahui pengelolaan hutan oleh masyarakat, dilakukan dengan wawancara terhadap pemilik hak ulayat dan kelompok penebang. Pengaturan hasil dilakukan dengan simulasi berdasarkan siklus dan intensitas tebang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik ekologi berbeda pada setiap IUPHHK sehingga dalam penerapan sistem silvikulturnya harusnya berbeda pula. Model dinamika pertumbuhan yang dihasilkan cukup handal dalam menggambarkan dinamika pertumbuhan tegakan pada IUPHHK PT TTL, sedang pada PT MML dan PT WMT-II belum cukup handal. Hasil yang berbeda diberikan dari beberapa simulasi pengaturan hasil. Siklus tebang 25 tahun dapat digunakan secara terbatas dalam pengaturan hasil pada IUPHHK PT MML, sedangkan siklus 30 dan 35 tahun layak digunakan untuk IUPHHK PT TTL dan PT MML. Siklus tebang 25, 30 dan 35 tahun belum layak digunakan dalam pengaturan hasil pada IUPHHK PT WMT-II. Intensitas tebang maksimal yang diperkenankan adalah 80% dari potensi pohon diameter lebih dari 40 cm dengan perbandingan komposisi diameter tebang 40 cm dan > 50 cm adalah 0 : 80; 20 : 60 dan 40 : 40. Model pengelolaan hutan oleh masyarakat pemilik ulayat sangat sederhana (konvensional) dan alternatif lain adalah pemberian 5% dari jatah produksi tebang untuk dikelola oleh masyarakat pemilik hak ulayat
Natural forest is characterized as high diversity in biotic and abiotic factors. Consequently, to manage this forest it is necessary to pay an attention to its features including timber product. Thus, Annual Allowable Cut (AAC) is an implementation of yield regulation, which is still obtained from forest in general and only based on standing stock. This would lead to bias in sustainable forest management (SFM). Therefore, this research was set to examine dynamics of residual stands and yield regulation in Papua through ecological approach considering Communal property rights. This research was conducted in three locations of natural forest logging concessions (IUPHHK- Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu), namely, PT Tunas Timber Lestari (TTL), PT Wapoga Mutiara Timber Unit II (WMT-II) dan PT Manokwari Mandiri Lestari (MML). Descriptive method was applied by collecting tree growth in permanent sample plots (PSPs), while interview was carried out to acquire social data. Then, yield regulations were modelled and simulated by taking into account logging cycle and logging intensity. Results showed that ecological condition varied among three locations. Hence, silviculture guideline should be set differently. Model of dynamic growth for PT TTL was more valid than for PT MML dan PT WMT-II. Logging cycle for PT MML is 25 years which is applied as limited yield regulation whereby 30 years and 35 years are suitable for PT TTL and PT MML. Logging cycles of 25, 30 and 35 years were inappropriate to be implemented in PT WMT-II. Harvest intensity was set for 80 % of standing stock of diameter > 40 cm with the comparison of cutting diameter 40 cm and > 50 cm is 0: 80; 20: 60 and 40: 40. Local people harvest timber conventionally and another alternative option is that they should be allowed to log 5 % of AAC
Kata Kunci : Tegakan tinggal, siklus tebang, intensitas tebang, kelestarian hasil, dinamika pertumbuhan