Laporkan Masalah

KAJIAN KINERJA IPAL KOMUNAL DAN PERAN SERTA MASYARAKAT PADA PEMBANGUNAN IPAL SANIMAS USRI

YUNI AHMAT ERIVIANTO, Dr.Ir.Budi Kamulyan,M.Eng ; Dr.Ir.Sri Puji Saraswati, DIC.,M.sc

2015 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Pembangunan IPAL komunal di Kabupaten Sleman melalui program USRI yang menggunakan sistem Anaerobic Baffled Reactor (ABR) sudah dilaksanakan mulai tahun 2011. Selama ini belum pernah dilakukan evaluasi pembangunan IPAL komunal, sehingga dibutuhkan suatu evaluasi kinerja guna tercipta pembangunan yang berkelanjutan dan tepat sasaran. Penilaian evaluasi kinerja dibagi menjadi 2 (dua), yaitu penilaian dari aspek teknik dan aspek peran serta masyarakat. Aspek teknik dilakukan melalui observasi lapangan, pengukuran debit air limbah eksisting dan uji laboratorium terhadap kualitas influent dan effluent dengan parameter pH, COD, BOD5 dan TSS yang diambil selama 1 (satu) hari dalam 3 (tiga) kali pengambilan yaitu pagi, siang dan sore hari, kemudian dilakukan analisis kualitas influent dan effluent limbah terhadap baku mutu limbah yang berlaku, evaluasi efisiensi pengolahan yang terjadi pada masing-masing IPAL komunal, evaluasi kelayakan konstruksi yaitu menggunakan laju beban organic/organic loading rate (OLR), kecepatan aliran permukaan (Vup) dan Hydraulic Retention Time (HRT). Aspek peran serta masyarakat dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode acak sederhana, penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Taro Yamane, dan data yang diperoleh dianalisa dengan program Microsoft Excel. Hasil penelitian aspek teknis menunjukkan bahwa nilai pH pada seluruh unit pengolahan berada pada rentang nilai optimum yaitu antara 7-8,5. Kadar COD dan BOD5 effluent sudah memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan dari Peraturan Gubernur DIY No.7 tahun 2010. Removal efisiensi BOD5 ketiga IPAL antara 25-48%, COD antara 45-73% masih relatif kecil dibawah kriteria desain yang digunakan, untuk BOD5 antara 70%-90% dan untuk COD antara 65%-90%. Organic Loading Rate (OLR) eksisting pada ketiga IPAL antara 0,01-0,1 kg. BOD5/m3/hari masih dibawah OLR yang direncanakan yaitu 0,1-0,4 kg. BOD5/m3/hari. Rata-rata rasio BOD5/COD effluent ketiga IPAL antara 0,3-0,75 masih memenuhi batas nilai rasio BOD5/COD 0,3-0,8. Vup dan HRT juga memenuhi kriteria desain, Vup ketiga IPAL antara 0,13-0,51 m/jam tidak melebihi kriteria desain 2 m/jam dan HRT ketiga IPAL antara 14-51 jam tidak kurang dari kriteria desain 8 jam. Aspek peran serta masyarakat diklasifikasikan menurut nilai skor penjumlahan tahap perencanaan sampai evaluasi, partisipasi rendah antara 0-32, sedang 33-65, tinggi 66-98. IPAL Beteng Sehat Sleman 35,56% jumlah KK tergolong partisipasi tinggi. IPAL Mina Sehat Ngaglik 38,71% jumlah KK tergolong partisipasi tinggi. IPAL Rukun Makmur Gamping 48,48% jumlah KK tergolong partisipasi tinggi. Tingginya tingkat partisipasi secara umum belum tentu menjamin kinerja IPAL secara teknik menjadi baik dikarenakan menurut penelitian tingginya partisipasi masyarakat di tahap perencanaan yang menentukan baik buruknya kinerja IPAL secara teknis.

The construction of communal Wastewater Treatment Plant (WWTP) in Sleman Regency through USRI program using Anaerobic Baffled Reactor (ABR) system started in 2011. There hasnot been any evaluation of communal WWTP construction, so there should be a performance evaluation to have sustainable and effective construction. Performance evaluation was classified into 2 (two), i.e. technical evaluation and community participation evaluation. Technical evaluation was performed by field observation, measurement of existing wastewater discharge and laboratory test on the quality of influent and effluent with pH, COD, BOD5, and TSS as parameters, taken for 1 (one) day in 3 (three) measurements in the morning, noon and afternoon, the quality of wastewater influent and effluent were analyzed using wastewater quality standard in effect, management efficiency evaluation in each communal WWTP, construction feasibility evaluation by organic loading rate (OLR), runoff speed (Vup) and Hydraulic Retention Time (HRT). Community participation evaluation was performed by distributing questionnaire. The sampling technique was simple random sampling. Total sample was determined by Taro Yamane formula, and the data was analyzed by Microsoft Excel. The result of technical study showed that the pH value in all processing unit was in optimum range of 7-8.5. COD and BOD5 levels of effluent had met the quality standards required by the Regulation of the Governor of DIY No. 7 of 2010. BOD5 removal efficiency of the three WWTP was 25-48%, COD 45-73%, relatively small below the design criteria used, i.e. for BOD5 70%-90% and for COD 65%-90%. Existing Organic Loading Rate (OLR) of the three WWTP was 0.01-0.1 kg. BOD5/m3/day was below the planned OLR which was 0.1-.4 kg. BOD5/m3/day. Average BOD5/COD ratio of the effluent of the three WWTP was 0.3-0.75, within the limit of BOD5/COD ratio 0.3-0.8. Vup and HRT also met the design criteria, the Vup of the three WWTP was 0.13-0.51 m/hour, not above 2m/hour design criterion and the HRT of the three WWTP was 14-51 hour, not below the 8 hours design criterion. Community participation aspect was classified by total score of planning to evaluation stages. Low participation was 0-32, moderate 33-65, high 66-98. Sleman Beteng Sehat WWTP had high household participation (35.56%). Ngaglik Mina Sehat WWTP had high household participation (38.71%). Gamping Rukun Makmur WWTP had high household participation (48.48%). High participation generally didnot guarantee the technical performance of the WWTP because, according to the study, high community participation in the planning stage determined the technical performance of WWTP.

Kata Kunci : Keywords: ABR WWTP Performance, Organic Loading Rate (OLR), Hydraulic Retention Time (HRT), Community Participation.