ACCESSIBILITY AND REGIONAL COMPETITIVENESS: A STUDY OF REGIONAL ACCESSIBILITY ON REVEALED COMPETITIVENESS OF LANDLOCKED REGIONS IN NORTHERN SUMATERA, INDONESIA
EDWIN SUDHARMA, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP, Ph.D.
2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahBanyak argumentasi yang telah dibangun dalam usaha untuk lebih memahami persoalan yang dihadapi daerah tertinggal. Konsep-konsep yang sudah ada dibangun untuk menggambarkan alasan dibalik kinerja buruk daerah yang posisinya tidak menguntungkan secara geografis. Sesuai fakta penelitian, daya saing wilayah dipengaruhi oleh beberapa faktor, dan aksesibilitas wilayah tercatat sebagai pengaruh paling penting bagi daerah yang terkurung daratan untuk mampu berkinerja baik. Kajian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya saing daerah terkurung laut di sebuah negara berkembang. Kemudian, tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh aksesibilitas terhadap daya saing daerah terkurung laut di Sumatera bagian utara, Indonesia, dimana aksesibilitas di sini merupakan sebuah variabel spasial terhadap kota pelabuhan terdekat. Jenis penelitian ini dirancang sebagai studi berbasis survei yang didasarkan pada dua jenis agregat data: informasi statistik sekunder dan pengukuran bersifat geografis. Pendekatan analisis dari penelitian ini adalah dengan melakukan analisis data kuantitatif dengan menerapkan evaluasi keruangan di beberapa bagian tesis ini. Dalam penyajian temuan penelitian, penulis menggunakan teknik deskriptif dan explanatori. Secara praktis, penelitian ini menggunakan jumlah sampel penelitian yang berbeda. Untuk mengukur daya saing daerah, Penulis menggunakan 56 unit sampel, sedangkan untuk mengevaluasi hubungan kausalitas antar variabel yang berpengaruh, sampel dipersempit hingga hanya mencapai 21 sampel. Dalam perhitungan regresi, peneliti menggunakan perhitungan AICc untuk memilih model regresi yang terbaik. Sebagai temuan penelitian, Medan sebagai sebuah kota pelabuhan utama telah terkonfirmasi sebagai daerah yang paling kompetitif di di Sumatera bagian utara. Dalam daftar urutan 10 teratas, daerah paling kompetitif didominasi oleh daerah perkotaan. Sementara itu, urutan 10 terbawah dalam peringkat daya saing daerah merupakan daerah yang terletak di sisi barat wilayah Sumatera dengan atribut geografis mereka dikategorikan sebagai daerah terkurung daratan dan sebagiannya merupakan daerah kepulauan. Pada konteks daerah yang tidak memiliki akses langsung ke laut, daerah dengan karakteristik ini mayoritas berposisi pada peringkat bawah, meskipun terdapat pula beberapa daerah yang berada di peringkat 10 teratas dalam daftar. Namun dapat dipastikan, daerah yang memiliki daya saing yang lebih tinggi merupakan daerah yang berada di sisi timur Sumatera bagian utara. Daerah dengan akses yang lebih buruk ke Medan pada umumnya memiliki peringkat yang buruk pula. Sebaliknya, daerah yang memiliki akses yang lebih baik, secara linear memiliki peringkat yang lebih tinggi. Selain itu, rasio pengeluaran publik juga secara signifikan mempengaruhi produktivitas daerah sebagai indikator utama daya saing wilayah. Rasio produktifitas lahan, jumlah universitas dan pembiayaan riset dibuktikan memiliki peranan penting bagi peningkatan produktifitas tenaga kerja. Kemudian, Angka Partisipasi Sekolah, rasio lahan basah, dan rasio pengeluaran publik secara simultan berdamapak positif terhadap penciptaan lapangan pekerjaan bagi daerah yang terkurung daratan. Namun sebaliknya, semakin teraglomerasi suatu daerah, maka ada kemungkinan tingkat pengangguran akan lebih tinggi juga. Kesimpulan, penelitian ini membuktikan secara empiris terdapat hubungan erat antara faktor lokasio dan tingkat daya saing. Ini menunjukkan bahwa lokasi geografis suatu daerah masih berperan penting. Kemudian, akses sebuah daerah terkurung darratan ke sebuah daerah yang menyediakan sumber investasi yang besar sangat penting bagi mereka untuk berkinerja lebih baik.
Many arguments have been conceptualized to understand thoroughly towards the problems endured by lagging territories to be competitive. The notions were developed to draw the reasoning behind the poor performance of geographically unfavourable regions. In fact, regional competitiveness was influenced by various determinants, and accessibility was noted as the most critical factor for landlocked regions to perform excellently. This study aimed to analyse the factors that contribute to regional competitiveness of landlocked regions in a developing country. Then, the sub-objective of this research was to explain if there any influences of accessibility on regional competitiveness of landlocked regions in northern Sumatera, Indonesia where accessibility was considered as a main spatial variable to their major port-city. This explanatory research was designed as a survey-based study based on two kinds of data aggregate: secondary statistical information and observed geographical measurement. Then, the analysis approach of this study was by conducting quantitative data analysis and applying spatial evaluation in several parts of the examination. The author used descriptive and explanatory technique in presenting research findings. Practically, this study used different number of sample. For examining competitiveness across regions using 56 sample unit, while for evaluating causality relationships between variables within landlocked regions narrowed down to only 21 sample unit. In regression analysis, researcher used AICc calculation to select the best regression model. As the findings, Medan, a major port city, was confirmed as the most competitive place in the area. The top 10 list was majorly dominated by urban regions labelled as kota. Meanwhile, the bottommost 10 regions were situated in the western side of area with their geographical attributes categorized as landlocked or as island regions. In the context of landlocked regions, these regions majorly positioned at the bottom half in the ranking although some landlocked regions were also be able to be in the top 10 position in the list. However, the regions having the higher competitiveness were mostly located in the east side of northern Sumatera. Regions with worse access to Medan generally placed in the bottom position in the competitiveness ranking list. Meanwhile, the regions that had a better access, linearly, had a higher ranking of competitiveness. Moreover, public expenditure ratio also significantly affected regional productivity as a main indicator of revealed competitiveness. Productive land ratio, university number and R&D expenditure were considerably crucial for the increase of GDP per employment. Then, high school enrolment ratio, wetland ratio, and public expenditure ratio affected simultaneously the performance of those landlocked regions in term of job creation. Conversely, the more agglomerative the region, the probability of unemployment will be higher as well. In conclusion, this research provided the empirical evidence supporting the close linkage between locational factor and competitiveness. First, it showed that geographical location of regions does still matter. Then, accessibility to opportunities was crucially important for landlocked regions to perform better.
Kata Kunci : competitiveness, landlockedness, regional accessibility, revealed competitiveness, regional pyramid