Analisis kemungkinan kebangkrutan pada perusahaan tekstil :: Pada masa krisis ekonomi
DEWI, Novy Silvia, Dr. Supriyadi, MSc
2002 | Tesis | Magister ManajemenTujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi kemungkinan terjadinyajinancial distress atau bahkan mengalami kebangkrutan yang dialami oleh perusahaan tekstil dan garment sebagai akibat dari dampak krisis moneter yang melanda Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif pada 24 perusahaan tekstil dan garmen di BEJ. Metode ini menjelaskan dan membandingkan kejadian yang sedang diteliti antara satu variabel dengan variabel yang lain. Tujuannya adaIah untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, sehingga dapat digunakan sebagai indikator dalam menilai keberhasilan atau kegagalan dari suatu perusahaan. Berdasarkan analisis diskriminan, hasil prediksi dalam menentukan posisi perusahaan adalah kategori non bankrupt 5 perusahaan, grey area 4 perusahaan, dan mengarah pada kebangkrutan 15 perusahaan.Terdapat 2 buah rasio keuangan yang paling mempengaruhi, yaitu rasio total assets turnover (TATO) dan earning power of total investment (EPTI). Kategori non bankrupt memiliki TATO lebih dari 1, bankrupt memiliki TATO kurang dari 1. EPTI non bankrupt bernilai positif, dan EPTI bankrupt negatif. Dilihat dari struktur hutang, 19 perusahaan memiliki current ratio dibawah 2, sebanyak 13 perusahaan bankrupt, 3 perusahaan grey area dan 3 perusahaan non bankrupt. Artinya, 19 perusahaan tersebut kesulitan dalam membayar kewajiban jangka pendek yang telah jatuh tempo. Dilihat dari struktur hutang (debt equity ratio) dengan perbandingan 40%: 60%, perusahaan yang memiliki komposisi total hutang dibanding total modal sendiri (40%:60%) sebanyak 2 perusahaan, sisanya 22 perusahaan memiliki komposisi lebih dari 40%: 60%. Perusahaan yang memanfaatkan utang lebih dari 40% terdiri 5 perusahaan non bankrupt, 3 perusahaan grey area, dan 14 perusahaan bankrupt. Dilihat kinerja keuangan perusahaan tekstil & garment dari tahun 1997 sampai dengan 2000 dari sisi laba atau rugi yang diterima perusahaan, rata-rata perusahaan yahg masuk dalam kategori perusahaan yang bankrupt mengalami kerugian.
Purpose of this research is to analyze financial distress or bankruptcy condit,on at Textile and Garment Company that impact of economic crisis in Indonesia. Research methods are descriptive comparative at 24 Textile and Garment Company in Bursa Efek Jakarta. This method explains and compare about fact between one variable with other variables. The purpose is to know which variables (financial ratio) that influenced company financial perfmnance, and finally can be use as an indicator for success or failure of the company. Based on discriminant analysis, prediction results for company positions are 5 companies indicate non-bankrupt, 4 companies indicate Grey area, and 15 companies indicate bankruptcy. 2 financial ratio which influenced are total asset turnover (TATO) and earning power of total investment (EFTI). TATO for non-bankrupt has more than 1, and bankrupt has less than 1. Non-bankrupt has EPTI positive, and bankrupt has EFT1 negative. Based for liability structures, 19 companies have current ratio less than 1. 19 compaiiies consist of: 13 companies indicate bankrupt, 3 companies indicate Giey area, and 3 companies indicate non-bankrupt. It's means that 19 companies difficult to pay current liabilities when the liabilities mature. Based on debt equity ratio (40%:60%), 2 companies have composition of debt equity ratio 40%:60%, and 22 companies have more than 40%:60%. The companies have liabilities more than 40% consists of 5 companies indicate non-bankrupt, 3 companies indicate Grey area, and 14 companies indicates bankrupt. Based on financial performarce (net profifloss) from 1997 until 2000 indicates that textile and garment companies bankrupt have net loss.
Kata Kunci : Kebangkrutan Perusahaan dan Krisis Moneter,Tekstil dan Garmen, bank uptcy, descriptive : comparative, 62.5% companies indicates bankrupt