Laporkan Masalah

THE DIGITAL SOCIAL MAPPING TO SUPPORT DEVELOPMENT PROGRAMMES IN THE VILLAGE LEVEL

HIDAYATURROHMAN, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MUP.,Ph.D

2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan Daerah

Kebutuhan akan adanya data dan informasi pada tingkat desa dirasakan sangat penting bukan saja untuk mendukung proses pembangunan tetapi juga untuk mendukung keterbukaan informasi. Teknik yang baik dalam pengumpulan dan penyajian informasi akan mempermudah pihak-pihak yang berkepentingan di desa untuk menganalisa program pembangunan sehingga program yang akan diterapkan dapat sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Pemetaan digital yang memadukan partisipasi masyarakat dan teknologi GIS (Geographic Information System) diyakini mampu menawarkan teknik penyajian dan penganalisaan data karena method ini memiliki keunggulan dalam menganalisa berbagai macam jenis informasi disamping itu GIS memiliki kemampuan untuk menampilkan informasi secara visual sehingga bisa mempermudah masyarakat biasa untuk mendapatkan informasi tentang kondisi sosial yang nyata di masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan di dua desa di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam membuat dan mengimplementasikan Pemetaan Sosial Digital. Kedua desa memiliki perbedaan pada awal penerapan dimana Desa Kopang Rembige menerapkan Pemetaan Sosial Digital karena intervensi pihak luar sedangkan Desa Tete Batu Selatan menerapkan Pemetaan Sosial Digital karena adanya kebutuhan akan data dan informasi yang akurat. Aktivitas pembuatan dan pengimplementasian Pemetaan Sosial Digital ini kemudian dibandingkan untuk mendapatkan persamaan dan perbedaannya sehingga didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemetaan sosial digital tersebut. Dalam penelitian ini didapatkan beberapa faktor yang berpengaruh pada pengimplementasian pemetaan sosial digital di tingkat desa. Pertama, pemberdayaan fasilitator yang akan menjadi penghubung dengan masyarakat sebaiknya menggunakan pendekatan kelompok. Kedua, adanya kemampuan dan keinginan untuk belajar sehingga fasilitator desa dapat mengembangkan teknik pemetaan. Ketiga, pemilihan tokoh yang akan menjadi agen penghubung akan mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dan terakhir adalah fasilitator sebaiknya memiliki jaringan atau koneksi dengan berbagai stakeholder yang akan bisa membantu untuk mencapai tujuan dari program.

The need for valid data and information about the real condition at the village level is not only important to support the development programmes but also to support the accountability of the programmes. Adequate and proper technique in the collection and presentation of data and information could facilitate the different parties who concerned in the village development to analyze the need of the community so the programmes that would be implemented could accordance with the real condition in the community. The Digital Social Mapping method combines public participation and GIS (Geographic Information System. This technique may offer a proper method to analyse the data because this practice has an advantage in analyzing various types of information. In addition, GIS has the ability to display information visually so it could facilitate the ordinary people to understand the information about the real conditions in the community. This research was conducted by describing the activities in making and implementing the Digital Social Mapping in two villages on the Lombok Island, West Nusa Tenggara province. Both villages have a difference at the beginning of the project, where the Kopang Rembige village applies the Digital Social Mapping because of external interventions while the Tete Batu Selatan village implements the project because of the need for accurate data and information. Activities to make and to implement the Digital Social Mapping are then compared to find the similarities and differences factors that influence the project. In this research, there are some factors that influence the implementation of the Digital Social Mapping at the village level. First, the approach to empower the facilitator who will become the agent to connect with the public should use a group approach. Second, the person who will become the facilitator should have an ability and willingness to learn so he could develop its mapping techniques. Third, the figures who will be the facilitator would influence the level of public participation and the last is the facilitator should have a network or connection with the various stakeholders which will help the village facilitator to achieve the objectives of the programme.

Kata Kunci : Participation, GIS, Digital Social Mapping

  1. S2-2016-360312-abstract.pdf  
  2. S2-2016-360312-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-360312-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-360312-title.pdf