KEKERASAN ANTAR ETNIS DI MANOKWARI (Kerusuhan antar Suku Biak dan Bugis-Buton-Makassar di Manokwari Tanggal 28-31 Desember 2013)
KRISTOFEL M AJOI, Dr. Eric Hiariej, M.Phil
2016 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalPenelitian ini mengambil judul kekerasan antar etnis di Manokwari dengan studi kasus kerusuhan tanggal 28 desember di Sanggeng. Penelitian tesis ini dilakukan untuk menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan kerusuhan itu terjadi dengan pendekatan sosiologi konflik intersected dan consolidated cleavages untuk menggambarkan pola konfigurasi pemilahan sosial yang terjadi secara obyektif. Peneliti juga bermaksud mengungkapkan apa kepentingan masing-masing pihak dari kasus kerusuhan tersebut. Kekerasan struktural, budaya dan langsung merupakan tolok ukur penting dalam melihat kasus kekerasan tanggal 28 desember di Manokwari. Kondisi dan pemicu yang selalu menempel di belakang kasus kekerasan etnis yang terjadi di Manokwari sangat mempengaruhi kecenderungan pecahnya insiden kerusuhan. Konfigurasi pemilahan sosial seperti segregasi di dalam proses interaksi dan komunikasi pada setiap jenjang kehidupan sosial termasuk di dalamnya. Proses akulturasi dan asimilasi tidak terjadi dalam kelas-kelas menengah ke atas, sehingga ruang konflik maupun kekerasan menjadi terbuka. Kekerasan antar etnis Biak dan Bugis-Buton-Makassar tergolong kasus kekerasan kolektif yang sangat meningkat di Indonesia saat ini. Di Papua sendiri kekerasan seperti ini selalu terjadi dalam waktu dan lokasi yang berbeda tetapi masih dalam koridor masalah yang sama. Berkisar antara isu identitas yang diperdebatkan dalam persaingan politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan konstruktivis dengan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan maupun mendudukan situasi masalah yang sebenarnya pada kosep dan konteks. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang diperoleh melalui penelitian lapangan di Manokwari. Khusus untuk kekerasan di Manokwari, masalah yang terlihat jelas dari gambaran penelitian ini berupa primordialisme, antara etno-nasionalisme (nasionalisme kepapuaan) yang tergambar dalam ingatan penderitaan dan imajinasi senatero penduduk Papua mengenai cita-cita bersama yang hendak diperjuangkan. Tanpa pengecualian, persoalan ketimpangan, monopoli, dominasi para pendatang transmigrasi maupun para migran spontan yang datang dari Sulawesi ini untuk meraub keuntungan ekonomi dan perbaikan hidup di Manokwari, selain juga birokrasi dan politik yang terpolarisasi menurut etnis juga ikut mempengaruhi. Kondisi ini membuka ruang kesenjangan ekonomi antara penduduk Biak dan BBM di Manokwari sehingga dalam beberapa kasus kekerasan etnis di Manokwari selalu mempertemukan dua suku etnis ini. Peran aparat yang sangat memihak salah satu pihak dan tidak professional menangani kasus semakin menjadi pemicu yang luar biasa dampaknya. Termasuk cara �mengelola� konflik dan kekerasan yang cenderung tidak mengarah pada penyelesaian tetapi memicu menunjukan bahwa peran aparat masih sangat jauh dari harapan. Akhirnya semua hasil dari kekerasan tersebut sebenarnya hanya berkisar antara manivestasi politik dan ekonomi di Manokwari karena pada saat itu menjelang pemilu legislatif dan kelompok suku BBM telah mendominasi sektor ekonomi dan politik berdampingan dengan kelompok elit Suku Arfak. Kondisi ini menyebabkan Suku Biak mulai tersingkir perlahan dari sektor-sektor yang dahulunya menjadi andalan. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan pemilahan sosial yang sangat tersegregasi dan menutup interaksi-komunikasi antar kedua etnis. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya kerusuhan di Sanggeng terjadi sebagai pemicu.
The research took the title of inter-ethnic violence in Manokwari with case studies of riot on 28th December in Sanggeng. It aims to describe the factors that led to the riots with a sociological approach of consolidated cleavages and intersected to describe the configuration patterns of social segregation objectively. In addition, it was also intend to disclose the interests of each party of the riot cases. Structural, cultural and directly violence are important milestones in analyzing of violence cases on 28 December in Manokwari. The Conditions and triggers that always stuck behind ethnic violence in Manokwari are greatly influence the tendency of the outbreak of unrest incidents. Configuration of social segregation in the process of interaction and communication occurs at every level of social life. The process of assimilation and acculturation does not occur in the middle classes upwards, so that it becomes violence and open conflict. The violence between Biak ethnic and Bugis-Buton-Makassar (BBM) ethnic is classified as collective violence that increasing in Indonesia today. Such violence in Papua always occurs in a different time and different location but still in the frame of the same problem. Ranging among the contentious of identity is political competition, economic, social, cultural and religious issues.The study uses constructivist approach with qualitative method to describe and illustrate the actual situation on its concept and context. The data obtained through fieldwork observation in Manokwari, interviews, and documentation. This study concludes that the problem, especially for violence in Manokwari, is primordial issue. It is ethno-nationalism (Papuan nationalism) depicted in conditionof suffering, memory and imagination of the Papuan on shared common goal to be fought. Without exception, the issue of inequality, monopoly, the domination of the migrants in transmigration program or spontaneous migrants who came from Sulawesi reaps economic benefits and improvement of their life in Manokwari. In addition, polarization ethnic in bureaucracy and politics also affected. These conditions exposed economic gap between Biak and BBM in Manokwari. So that in some cases of ethnic violence in Manokwari always brings both ethnic groups. Security forces role that favoring one party and unprofessional handling of cases are increasingly becoming a trigger tremendous impact. Including how to "manage" the conflict and violence that is likely to lead to completion but trigger, it shows that the role of security force is still very far from expectations. Finally, all the results of the violence are actually only between political and economic manifestation in Manokwari. It is because at the time legislative elections and BBM ethnic group has dominated the political and economic sectors alongside the elite from Arfak group. This condition causes the Tribe Biak started out slowly from the sectors that used to be the mainstay. This condition is exacerbated by social segregation highly segregated and close interaction-communication between the two ethnic groups.
Kata Kunci : Konflik, kekerasan, etnis, suku, Biak, Bugis, Buton, Makassar