PEMANFAATAN RUANG PADA SISTEM SETTING DAN SISTEM AKTIVITAS KEAGAMAAN DI KAMPUNG KAUMAN SURAKARTA
TIARA RUKMAYA DEWI, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng.; Dyah Titisari Widyastuti, S.T., MUDD
2016 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturSurakarta merupakan salah satu kota yang memiliki Kampung Kauman sebagai bagian dari sejarahnya yang merupakan kota kerajaan. Kampung ini muncul sebagai bagian dari empat komponen pola kota pada masa Kerajaan Mataram Islam yang terdiri dari keraton, alun - alun, masjid, dan pasar. Kampung Kauman Surakarta merupakan kampung para abdi dalem keraton yang memiliki wewenang dalam urusan keagamaan, yakni Agama Islam. Sebuah kota terbentuk dan berkembang secara bertahap sesuai dengan peningkatan kegiatan manusia di dalamnya. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap aktivitas dan lingkungan fisiknya. Begitu juga yang terjadi di Kampung Kauman Surakarta, di mana dulunya dikenal sebagai kampung santri saat ini mulai dikenal dengan identitas baru sebagai kampung wisata batik. Aktivitas perekonomian yang semakin menonjol dikhatawatirkan akan melunturkan nilai - nilai keagamaan yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian yang melihat aspek setting dan juga aktivitas keagamaannya saat ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan rasionalistik. Dilakukan pemetaan dan juga wawancara dalam pengambilan data. Selain itu juga dilakukan pengambilan sample dengan teknik purposive terhadap 6 RW yang ada di Kampung Kauman. Setelah data cukup, dilakukan dengan proses analisis berupa grafik maupun model konseptual dengan penjelasan yang mempermudah pemahaman. Hsil penelitian yang didapatkan adalah sistem setting dan sistem aktivitas keagamaan di Kampung Kauman membentuk hirarki dengan Masjid Agung sebagai hirarki tertinggi. Semakin tinggi hirarki, maka memiliki skala kegiatan tahunan yang besar dan semakin banyak melibatkan pelaku dari luar Kampung Kauman. Di tengah identitasnya sebagai Kampung Batik, aktivitas keagamaannya berjalan beriringan dan terus berkembang. Faktor - faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan ruang dari sistem setting dan sistem aktivitas keagamaan di Kampung Kauman adalah: 1) makna menjadi faktor utama dalam melakukan aktivitas keagamaan di Masjid Agung; 2) aksesibilitas, sosialitas dan kenyamanan menjadi faktor utama dalam melakukan aktivitas keagamaan di langgar dan fasilitas umum; 3) sosialitas dan kenyamanan menjadi faktor utama dalam melakukan aktivitas keagamaan di rumah tinggal dan bangunan lainnya.
Surakarta is a city which has historical small town (village) called Kampung Kauman (Kauman Village). It is known as the royal town of Surakarta. During the period of Islamic Mataram Kingdom, Kampung Kauman (Kauman Village) appeared as part of the four components of the city pattern consisting of the palace (keraton), the square, the mosque, and the market. It is now the home or the village of Surakarta palace's courtiers who have the authority to conduct the practice and the ritual of particular religious teaching namely Islam. Technically, a city is formed and develops gradually in accordance with the increase of human activity in it. This condition further affects the activity and the physical environment of the city. The same condition happens in Kampung Kauman Surakarta which was formerly known as the hometown of Muslim students (santri) and today, it is recognized with the new identity as the batik tourist village called Kampung Batik Kauman. The economic activity of Kampung Batik Kauman is centered to the selling of batik products. However, the growing of economic activity in Kampung Kauman has been becoming the major concern for it will fade the existing religious values. Therefore, a research that particularly observes the setting aspect and the system of religious activity in Kampung Kauman is necessary to be conducted recently. This research is conducted by using descriptive qualitative method with rationalistic approach. The technique of data collection is done by mapping, interviewing, and purposive sampling to six Community Association (RW) in Kampung Kauman. The enough collected data is further analyzed by using graphic method as well as conceptual model with an explanation to ease the understanding about it. The result of the research shows that the system of setting and the system of religious activity in Kampung Kauman form a hierarchy with the Great Mosque as the highest hierarchy. In this case, the higher the hierarchy the greater the scale of big annual events held in Kampung Kauman by involving the participation of many actors from outside the village. The religious activities in Kampung Kauman run in harmony and grow continuously in the midst of its identity as a Batik Village (Kampung Batik). There are factors that bring influence to the space utilization of the system of setting and the system of religious activity in Kampung Kauman. These factors are as follows: 1. The meaning of which becomes the main factor in doing the religious activity in the Great Mosque. 2. Accessibility, sociality, and comfort of which become the main factor in doing the religious activity in small mosque and public facility. 3. Sociality and comfort of which become the main factor in doing the religious activity in the house and other buildings.
Kata Kunci : Sistem setting, sistem aktivitas, perilaku, pemanfaatan ruang