Fenomena Bentor sebagai Sarana Transportasi Publik di Kota Padangsidimpuan
YOGI AKBAR HASIBUAN, Deva Fosterharoldas S, ST., M.Sc., Ph.D
2016 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKota merupakan tempat di mana masyarakat melakukan segala aktivitas dan kegiataannya sehari-hari seperti aktivitas sosial dan ekonomi. Perkembangan suatu kota bergantung pada pertumbuhan penduduknya. Semakin banyak jumlah penduduknya tentu, akan membutuhkan infrastuktur yang lebih lengkap guna menunjang masyarakat dalam melakukan mobilitas dan aktivitasnya. Sektor transportasi sebagai bagian dari infrastrukur mengalami banyak permasalahan seperti kurangnya kuantitas transportasi publik, buruknya kualitas layanan transportasi publik, izin operasional transportasi publik sampai pada masalah kemacetan lalu lintas. Permasalahan transportasi ini dihadapi hampir di semua kota besar maupun kecil. Kota Padangsidimpuan dikenal dengan Bentor-nya yang khas, bahkan identik dengan kota ini. Bentor telah menjadi sarana transportasi yang populer bagi masyarakat kota Padangsidimpuan sehingga menarik untuk diteliti lebih jauh mengenai perkembangan bentor dan apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat keberlanjutan bentor ke depannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan metode kualitatif-eksploratif untuk menggali fenomena bentor di kota Padangsidimpuan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan ditemukan bahwa sejarah perkembangan bentor telah ada sejak tahun 1970-an sementara faktor pendukung keberlanjutan bentor sehingga masih bertahan hingga saat ini di antaranya adalah bentor yang mudah diakses, trayek/rute yang bebas dan fleksibel, kabin bentor yang cukup luas dan sangat diandalkan ketika musim hujan. Adapun faktor-faktor penghambat keberlanjutan bentor di antaranya adalah aturan legalitas operasional yang masih ambigu, karakter pengemudi bentor yang tidak tertib lalu lintas, kondisi mesin yang sering mengalami gangguan, suara bentor yang menimbulkan kebisingan dan tarif/ongkos yang tidak menentu.
A city is the space where people work and engage in their daily activities (social and economic activities). The development of a city depends on the growth of the population. The greater the number of the population, the more extensive the infrastructure is required to support a society in their mobility and doing their activities. The transport sector which is regarded as a part of infrastructure actually has problems, such as the lack of public transports, the poor quality of public transport services, the ambiguity of operating license of public transport operators, and traffic congestion. The problems on transportation are often encountered by large and small cities. Padangsidimpuan is the city known for its unique vehicle used as public transport. People living in Padangsidimpuan call it Bentor (motorized tricycle). Bentor is a popular transport mode in Padangsidimpuan which is very interesting to be explored. The research question for this study are formulated as to answer (1) when Bentor emerge and evolve, and (2) what factors supporting and inhibiting Bentor. The inductive approach was used in this study. Moreover, the qualitative-exploratory method was employed to describe the phenomenon of Bentor in Padangsidimpuan. From the analysis, it was found that the use of Bentor as public transport mode had existed since 1970s; while, the supporting factors of why Bentor�s still survive until today are the easy access, the free and flexible route, and the Bentor�s cabin which is spacious enough and very dependable in rainy season. On the other side, undermining factors of Bentor�s existence are operating license rules, undisciplined behavior of Bentor�s driver, ambiguity of toward the traffic rules, the impaired engine condition, the loud noise of Bentor, and the unfixed Bentor�s fares.
Kata Kunci : Bentor, Legalitas, Perkembangan, Faktor-faktor, Sejarah