Dinamika Pemberdayaan Masyarakat Dalam Program Budidaya Lele Sebagai Komitmen CSR PT Pertamina (Persero) di Desa Kedungsari,Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta
DESINTA W.K, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Pembangunan negara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dalam pelaksanaannya membutuhkan sinergi dari ketiga sektor, yaitu negara, sektor privat, dan masyarakat sipil. Keberadaan sektor privat penting bagi pembangunan suatu negara karena menjaga perekonomian negara dalam kondisi stabil. Di satu sisi bisnis membantu pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja, tetapi di sisi lain bisnis memberikan dampak negatif terhadap masyarakat sekitar bahkan menyebabkan kerusakan lingkungan. Guna mengatasi dampak negatif tersebut, pemerintah membuat kebijakan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau dikenal dengan istilah CSR yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007. Sebagai BUMN yang bergerak dalam bidang migas, Pertamina tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Pertamina melaksanakan pemberdayaan masyarakat sebagai komitmen tanggung jawab sosial, salah satunya melalui program pemberdayaan budidaya lele di Desa Kedungsari, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemberdayaan masyarakat melalui program budidaya lele dalam rangka komitmen CSR Pertamina sehingga dapat dianalisis apa saja permasalahan yang terjadi dan dapat dilakukan upaya perbaikan program sebagai pembelajaran pelaksanaan CSR. Berpijak dari tujuan tersebut maka penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Sasaran program adalah masyarakat miskin. Pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat dalam mengembangkan kemampuan sendiri sehingga bebas dan mampu untuk mengatasi masalah dan mengambil keputusan secara mandiri. Pemberdayaan masyarakat tidaklah dapat dicapai dalam waktu sekejap, tetapi pemberdayaan memerlukan proses. Proses yang dimaksud adalah dengan memberikan kewenangan (authority), aksesibilitas terhadap sumber daya dan lingkungan yang akomodatif. Dalam pemberdayaan yang dilakukan CSR Pertamina terdapat serangkaian kegiatan yang dilakukan seluruh pihak yang terlibat, yaitu tahap perencanaan, pelatihan, pelaksanaan program, hingga dilakukannya evaluasi demi keberlanjutan program. Indikator program pemberdayaan salah satunya adalah terciptanya kemandirian penerima manfaat dan peningkatan kemampuan penerima manfaat dalam budidaya lele. Dilihat dari segi ekonomi, program pemberdayaan ini gagal karena dari hasil panen yang mayoritas mengalami kerugian sehingga untuk saat ini belum bisa menjadikan Kedungsari menjadi sentra penghasil lele. Akan tetapi pada pemberdayaan masyarakat, hal terpenting adalah terjadinya peningkatan kemampuan penerima manfaat setelah dilakukan pelatihan. Jika dilihat dari aspek sosial, program pemberdayaan dalam budidaya lele ini berhasil karena terjadi peningkatan kemampuan penerima manfaat dalam berbudidaya. Peningkatan kemampuan tersebut yaitu mengetahui cara budidaya lele yang baik; cara menghemat biaya produksi melalui pemberian probiotik pada pakan; dan penerima manfaat mendapatkan kegiatan positif sekaligus tambahan pendapatan melalui budidaya lele.
Development of country not only duty of state. The implementation require synergy from three actors, they are state, private sector, and civil society. Existence of private sector is important for development country in order to economic stabilization. At one side, business help economic growth and absorb labour force, yet give negative impacts for society, moreover causing environment damage at another side. In order to handle negative impacts, government determining policy about social and environment responsibility or well-known as Corporate Social Responsibility (CSR) which regulated in UU No. 40/2007. As BUMN who has business focus in oil and gas, Pertamina also gives negative impact to environment. Therefore, Pertamina implements community empowerment as commitment in social responsibility, one of many empowerment programs is catfish cultivation, so can be analysed the matters and attempted some betterments as learning process in CSR realizing. Stand on those goals, this research includes as qualitative research with descriptive analyse. Community empowerment is effort to help people to develop self-ability so can be independent and have an ability to handle their problem and take over decision by their selves. Community empowerment can not accomplish in a short time, still empowerment need a process. The meaning of process is giving an authority, accessibility toward resource and accommodative environment. The empowerment which undertaken by Pertamina, there are chain activity doing by all actors who involved in. The chain activity consist of planning, training, implementation, and evaluation for sustainability. One indicators of empowerment program is independence of beneficiaries and upgrading ability in catfish cultivation. In economic side, this empowerment program failed from harvest result which indicated the major part of beneficiaries lost, so recently the program can not make Kedungsari become central of catfish producer. However, in this community empowerment, the important thing is upgrading ability of beneficiaries after the training. If we concern in social aspect, this empowerment program is succeed because of upgrading beneficiaries ability in catfish cultivation. The upgrading abilities include understand the good way of catfish cultivation, way of economizing cost production through probiotic, the beneficiaries get positive activity, and of course get extra earnings through catfish cultivation.
Kata Kunci : pemberdayaan masyarakat, CSR Pertamina