INTERAKSI ANTARA PSEUDOMONAD FLUORESEN DAN TANAMAN NANAS DALAM PENGENDALIAN PATOGEN BUSUK HATI
NIKEN RASMI PARAMITA, Prof. Dr. Ir. Christanti Sumardiyono, SU.; Ani Widiastuti, SP., MP., Ph.D.
2016 | Tesis | S2 FitopatologiIndonesia merupakan salah satu negara pengekspor buah nenas dalam kaleng untuk kebutuhan konsumsi global. Salah satu kendala yang membatasi produksi buah nenas Indonesia adalah penyakit busuk hati. Infeksi terjadi sejak tanaman masih sangat muda. Tindakan perlindungan terhadap patogen menggunakan fungisida kimia secara terus menerus dapat menekan perkembangan penyakit pada awalnya namun dampak lanjutan adalah akumulasi residu pada buah dan tanah, dan timbulnya resistensi patogen terhadap fungisida. Alternatif pengendalian adalah menggunakan agens hayati yang selain dapat menekan perkembangan patogen sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman. Bakteri psedumonad fluoresen dikenal mampu berperan dalam dua aktifitas tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya interaksi pseudomonad fluoresen dengan tanaman nenas dalam pertahanan terhadap patogen busuk hati yang ditunjukkan dengan peningkatan aktivitas peroksidase dan lignifikasi pada akar tanaman. Perlakuan dilakukan dengan menginokulasikan 100 mL suspensi bakteri pseudomonad fluoresen isolat M1 dan TH3 dengan taraf kerapatan sel 104, 108 dan 1016 sel/mL pada masing-masing bibit nanas. Inokulasi dilakukan dua kali yaitu pada saat usia bibit 4 minggu dan 6 minggu. Perlakuan dilanjutkan dengan menginokulasikan 100 mL inokulum patogen pada masing-masing bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwapseudomonad fluoresen isolat M1 dan TH3 menginduksi peningkatan peroksidase dan lignifikasi dibandingkan pada tanaman yang diinokulasi dengan patogen. Isolat M1 berdampak pada perumbuhan tanaman dan panjang daun D dibandingkan dengan isolat TH3. Gejala penyakit busuk hati yang tidak terlihat selama percobaan disebabkan suhu lingkungan yang tinggi dan curah hujan yang rendah yang menghambat perkembangan penyakit.
Indonesia is one of the countries exporting canned pineapple for global consumption. One of the obstacle that restrain pineapple production is heart rot disease. Controlling this pathogen by using chemical fungicides can suppress the disease in the beginning, but the aftermath is not only lead to accumulation of residues, but also evoke a fungicide resistant strain. Another control is by using biological agents that could both suppressing the development of pathogens and also inducing plant resistance. Fluorescent pseudomonads is known to have role in these two activities. The aim of this study is to determine the interaction of pseudomonad fluorescence with pineapple plants against heart rot pathogen shown by the increase of peroxidase activity and thickening of root lignin. The treatment was done by inoculating 100 mL of M1 and TH3 fluorescent pseudomonads suspension with level cell density of 104, 108 and 1016 cell / mL to each pineapple seedling. Inoculation was performed twice, at 4 and 6 weeks after planting. Treatment was followed by inoculating 100 mL of pathogen inoculum to each plant. Results showed that both fluorescent pseudomonads M1 and TH3 isolates induced peroxidase activity and lignification higher than in plants inoculated with the pathogen alone. M1 isolate also gave impact on plant growth and D leaf length compared to TH3 isolate. Symptoms of heart rot disease were not seen during the experiment due to the high temperature with slightly precipitation which lead to the disease on the plants became hampered.
Kata Kunci : Fluorescent pseudomonads, pineapple heart rot, peroxidase, lignifications, plant growth.