HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN KEPADATAN KEPITING BAKAU (Sylla serrata) DI TIGA KAWASAN REHABILITASI MANGROVE, PANTAI UTARA KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH
RONI H SIPAYUNG, Prof.Dr. Erny Poedjirahajoe,M.P.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANRehabilitasi hutan mangrove sangat penting untuk menjaga kestabilan ekosistem dan meningkatkan produktivitas hutan mangrove. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove dapat diketahui dengan kerapatan vegetasi mangrove dan peningkatan kepiting bakau. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kerapatan vegetasi mangrove dan kepadatan kepiting bakau pada tahun tanam yang berbeda-beda serta hubungan lingkungan perairan dengan kepadatan kepiting bakau. Penelitian dilakukan pada tiga tahun tanam yang berbeda yaitu tahun tanam 2003, 2005, dan 2006. Tiap tahun tanam terdiri dari zona depan, zona tengah dan zona belakang. Pada setiap zona dibuat petak ukur dengan ukuran 5 x 5 m untuk pengambilan data kerapatan vegetasi, suhu, ketebalan lumpur, salinitas, derajad keasaman, dan oksigen terlarut (DO). Kemudian di dalam petak ukur 5 x 5 m dibuat petak ukur 1 x 1 m untuk pengambilan data jumlah kepiting bakau. Analisis data menggunakan persamaan regresi dan uji beda ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan vegetasi tertinggi berada pada zona belakang tahun tanam 2006 dengan kerapatan sebesar 2160 individu/ha, sedangkan kepadatan kepiting bakau tertinggi yaitu pada tahun tanam 2005 dengan kepadatan sebesar 12111,11 individu/ha. Analisis regresi menunjukkan hubungan variabel suhu, ketebalan lumpur dan salinitas terhadap kepadatan kepiting bakau dengan persamaan Y = 3,447 - 0,044X1 - 0,009X2 - 0,230X3 dengan nilai R = 0,809. Pada uji beda ANOVA hanya ketebalan lumpur yang memiliki perbedaan yang signifikan pada tiga tahun tanam (0,000<0,05).
Rehabilitation of mangrove forests is essential for maintain the stability of the ecosystem and improve the productivity of mangrove forests. The successful of mangrove forests rehabilitation can be known from density of mangrove vegetation and the increase of mangrove crabs. This research was conducted to determine the density of mangrove and mangrove crab density in different years of plantation and also relationship of environmental factors and mangrove crab density. The research was conducted on three years of plantation, namely in 2003, 2005, and 2006. In each year of plantation consists of front zone, medial zone, and rear zone. In each zone made plot with a size of 5 x 5 m for data density of vegetation, water temperature, thickness of the mud, salinity, degree of acidity and dissolved oxygen (DO). Then in the plots with a size 5 x 5 m were made plots 1 x 1 m for collecting data amount of mud crab. The data analysis using regression and ANOVA different test. The results showed that the highest vegetation density is at the rear zone in 2006 year plantation with density value 2160 individuals / ha, while the highest density of mud crab is in the 2005 year plantation with density value 12111.11 individuals /ha. Regression analysis showed the influence of variable temperatures, the thickness of mud and salinity of the mangrove crab density by the equation Y = 3.447 - 0.044X1 - 0.009X2 - 0.230X3 with a value of R = 0.809. At different test ANOVA only the thickness of the mud that had significant differences in the three years of plantation (0,000<0,05).
Kata Kunci : mangrove, kepadatan, kepiting bakau, rehabilitasi