Laporkan Masalah

Hubungan Antara Status Gizi terhadap Perkembangan Anak Usia 9 sampai 18 Bulan di Kota Yogyakarta

BINTANG KUSUMA PRABOWO, dr. Mei Neni Sitaresmi,Ph.D,Sp.A(K); Prof.dr. Djauhar Ismail,MPH,Ph.D,Sp.A(K)

2016 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Keterlambatan perkembangan merupakan masalah yang sering dijumpai namun sekitar tujuh puluh persen dapat dicegah dengan skrining yang baik. Perkembangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah status gizi anak. Prevalensi status gizi yang tergolong kurus dan sangat kurus di Indonesia sebesar 12,1%. Oleh karena masih tingginya angka status gizi buruk di Indonesia, maka perlu dilakukan adanya skrining perkembangan pada anak untuk mengetahui dan menangani adanya keterlambatan perkembangan. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi anak terhadap perkembangan, proporsi status gizi buruk, dan proporsi keterlambatan perkembangan pada anak usia 9-18 bulan di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah anak usia 9-18 bulan yang tinggal di perkampungan kumuh di Yogyakarta yang berada dalam naungan lima puskesmas (Puskesmas Danurejan I, Puskesmas Danurejan II, Puskesmas Gondomanan, Puskesmas Gondokusuman II, dan Puskesmas Jetis. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen growth chart WHO untuk mengetahui status gizi anak dan formulir Denver II untuk mengetahui tingkat perkembangan anak. Hasil yang didapat kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil : Dari 163 subjek penelitian didapatkan 24 anak (14,7%) mengalami keterlambatan perkembangan, 5 anak (3,1%) tergolong memiliki gizi tidak baik, 32 anak (19,6%) tergolong pendek, dan 24 anak (14,7%) memiliki berat badan kurang. Tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan perkembangan anak p=0,157, OR=4,121 95%CI(0,651-26,080) Kesimpulan: Tidak ada hubungan bermakna antara status gizi dengan perkembangan anak.

Background: Developmental delay is one of common problems, but about seventy percent can be prevented with a good screening system. Development is affected with many factors; one of them is nutritional status. Undernutriton prevalence in Indonesia is about 12.1%. Because of that, a screening system should be done to determine and treat the children with developmental delay. Objective: This research is developed to determine the relationship between nutritional status to the developmental status, the prevalence of undernutrition, and the prevalence of developmental delay in children aged 9-18 months in Yogyakarta. Method: This research is an analytic observational study with cross - sectional design. The subjects were children aged 9-18 months who live in densely populated area in Yogyakarta, including Puskesmas Danurejan I, Danurejan II, Gondomanan, Gondokusuman, and Jetis. Consecutive sampling technique is used to get the sample. This study uses WHO's growth chart instrument to determine the nutritional ststus of the children and Denver II form to determine the developmental status of the subject. The results were analyzed using Chi-square. Result : 24 children (14.7%) out of 163 children have a developmental delay, 5 children (3.1%) have a not good nutritional status, 32 children (19.6%) classified as stunted, and 24 children (14.7%) classified as underweight. There is no significant relationship between the nutritional status and children's developmental status. p=0.157, OR=4.121 95%CI (0.651 to 26.080) Conclusion: there is no significant relationship between the nutritional status and the developmental status of the children.

Kata Kunci : status gizi, perkembangan anak

  1. S1-2016-329255-abstract.pdf  
  2. S1-2016-329255-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-329255-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-329255-title.pdf