Laporkan Masalah

PERBANDINGAN FREKUENSI KONTROL KESEHATAN MATA PADA PENDERITA DIABETES DENGAN ATAU TANPA RETINOPATI DI KOTA DAN DESA DI DIY

ATIKA SAFITRI, Prof. dr. Suhardjo, SU, Sp.M (K) ; dr. M. Bayu Sasongko, Sp.M, M. Epi, Ph.D

2016 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTER

Latar Belakang: Retinopati diabetika (RD) adalah komplikasi mikrovaskular dari penyakit diabetes yang dapat menyebabkan kebutaan. Melakukan pemeriksaan mata secara rutin adalah kunci untuk mengurangi risiko kebutaan pada pasien dengan diabetes. Namun, kepatuhan untuk melakukannya masih rendah di beberapa area. Tujuan: Untuk membandingkan frekuensi pemeriksaan mata pada pasien diabetes di kota dan desa DIY, Indonesia Metode: Penelitian ini berbasis populasi dengan metode potong lintang. Karakteristik sosial demografi, frekuensi kontrol ke dokter umum dan mata, riwayat penyakit, dan pemeriksaan mata didapatkan dari wawancara dengan lembar pertanyaan. Fotografi fundus didapatkan pada masing-masing peserta. Analisis statistik dilakukan dengan chi square Hasil: Penelitian ini diikuti 1092 pasien DM tipe 2 yang berasal dari kota sebanyak 488 pasien dan 604 pasien dari desa. Terdapat 83,6% pasien di kota dan 86,9% pasien di desa yang mempunyai RD. Sejumlah 3,3% dari pasien RD di desa dan 2,6% dari pasien RD di kota rutin kontrol mata sebulan sekali, 2,2% pasien RD di kota dan 2,2% pasien RD di desa kontrol mata rutin setiap 3 – 6 bulan. Hampir seluruh pasien diabetes di kota (95,3%) dan desa (95,5%) tidak pernah kontrol untuk memeriksakan matanya ke dokter mata. Secara statistik, frekuensi kontrol kesehatan mata di kota tidak berbeda bermakna dengan frekuensi kontrol kesehatan mata di desa di DIY (P= 0,707). Namun, 83,6% pasien di kota dan 86,9% pasien di desa rutin melakukan kontrol kesehahatan umum atau diabetes setiap bulan ke dokter (p=0,284) Kesimpulan Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam melakukan pemeriksaan mata pada pasien diabetes di desa dan kota DIY. Hampir seluruh pasien diabetes di kota dan desa tidak pernah memeriksakan matanya ke dokter mata. Oleh karena itu, faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pasien di desa dan kota dalam melakukan kontrol kesehatan mata perlu diteliti lebih lanjut.

Background: Diabetic Retinopathy is a microvascular complication of diabetes and the leading cause of blindness. Having annual eye examination routinely is a key to reduce the risk of blindness among persons with diabetes. However, poor compliance is common in many areas. Purpose: to compare the use of eye care among diabetic patients in urban and rural area of DIY, Indonesia. Method: This was a community-based cross sectional study, involving all adults with diabetes type 2. We obtained all socio-demographic characteristics, behavior towards general and eye care, and history of past illnesses through interview. Each patient underwent fundus examination. Chi square was used for statistical analysis. Results: 1092 participants with DM type II were participated and divided into 2 categories, 488 from urban and 605 from rural. There were 38,4% urban participants and 45,9% rural participants were known having retinopathy diabetic (RD). Of these, only 3,3% of urban patients and 2,6% of rural patients reported to have had regular eye check on monthly basis, 2,2% of urban patients and 2,2% of rural patients were on 3-6 monthly basis. Nearly all participants in urban (83,6%) and rural (86,9%) area had never had an eye examination. There were no significant differences regarding the use of eye care in urban and rural population (p=0,707). Meanwhile, nearly all participants in urban (83,6%) and rural (86,9%) visit physician routinely to control their diabetes (p=0,284) Conclusion: There are no significant differences between urban and rural person with diabetes regarding the use of eye care. Nearly all of population with diabetes in urban and rural area of DIY, Indonesia has never used eye care. Thus, barrier to eye care services needs to be identified.

Kata Kunci : Retinopati Diabetika, Diabetes, Kota, Desa, Pemeriksaan Mata