STEREOTIP DAN DISKRIMINASI TERHADAP WONG TIMUR: Respon terhadap Mahasiswa Pendatang di Yogyakarta
ENDAH YUSMA PRATIWI, Dr. Setiadi, M.Si
2016 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGICitra Yogyakarta sebagai kota pelajar telah membuat mahasiswa dari berbagai daerah tertarik untuk melanjutkan studi ke Yogyakarta. Hal ini mengakibatkan ruang fisik kampung dipenuhi bangunan-bangunan yang dikomersilkan termasuk bangunan-bangunan untuk kos, rental motor, warung makan, dan bangunan lainnya. Kedatangan mahasiswa pendatang dengan segala perilakunya mengundang warga untuk memberikan stereotip, kemudian stereotip tersebut berpengaruh pada respon warga yang berbentuk sikap resisten. Stereotip yang bermuara pada selektivitas penerimaan mahasiswa pendatang belum banyak diteliti. Studi ini mengkaji stereotip warga Kampung Babarsari terhadap mahasiswa pendatang, mulai dari kemunculan stereotip sampai pada bentuknya. Selain itu studi ini juga mengkaji bagaimana stereotip tersebut berpengaruh terhadap respon warga kampung terhadap mahasiswa pendatang. Tesis ini merupakan studi kualitatif yang saya lakukan di Kampung Babarsari pada tahun 2014 sampai tahun 2015. Pengumpulan data di lapangan saya lakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Dari sini terdapat beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut. Pertama, bentuk-bentuk stereotip warga kampung terhadap mahasiswa pendatang adalah mahasiswa dulu lebih aktif di kampung daripada mahasiswa sekarang, ciri-ciri fisik mahasiswa Papua adalah yang berambut keriting dan berkulit hitam, serta mahasiswa Papua kasar dan pemabuk. Kedua, stereotip muncul dari pengetahuan dan pengalaman warga kampung, yaitu berdasarkan tayangan televisi, konflik yang terjadi di kampung, dan pengalaman interaksi di lingkungan. Ketiga, stereotip mempengaruhi respon yang mengarah pada diskriminasi penerimaan mahasiswa pendatang, namun stereotip bisa mencair dengan alasan ekonomi, kemanusiaan, dan instansi.
Yogyakarta image as a city of students have made students from various regions keen to continue their studies to Yogyakarta. This resulted in a physical space filled village commercialized buildings including buildings for boarding, bike rental, food stalls and other buildings. The arrival of migrant students with behavior invites all villagers to stereotypes, and stereotypes have an effect on the response of the people who shaped the attitude of resistance. Stereotypes that lead to the selectivity of admissions entrants have not been studied. This study examines stereotypes of Kampung Babarsari against migrant students, ranging from the emergence of stereotypes to form. In addition, this study also examines how stereotypes affect the response of the villagers against migrant students. This thesis is a qualitative study I did in Kampung Babarsari in 2014 until 2015. Data collection on the field I do with in-depth interview, participant observation, and documentation. From here there are several conclusions, which are as follows. First, the forms of stereotypes villagers against migrant students are more active first student in the village rather than a student now, the physical characteristics of Papua students are have curlyhair and dark skin, and students of Papua rough and drunks. Second, stereotypes arise from the knowledge and experience of the villagers, which is based on the television, the conflict in the village, and the experience of interaction in the environment. Third, stereotypes affect the response that leads to discrimination acceptance of migrant students, but stereotypes can melt on the grounds of economic, humanitarian, and institution.
Kata Kunci : warga kampung, mahasiswa pendatang, stereotip, diskriminasi, respon, Jawa, Yogyakarta