KEBERHASILAN PEREMPUAN MERAIH KEPEMIMPINAN POLITIK DI KOREA SELATAN DALAM ANALISIS DUALITAS STRUKTUR AGENSI
HARDIANA NOVIANTARI, Prof. Dr. Mohtar Mas'oed
2016 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALPenelitian ini menganalisis tentang keberhasilan perempuan meraih kepemimpinan politik di Korea Selatan dengan penekanan yang sama terhadap perubahan struktural dan pengaruh agensi individual sebagai faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Tiga perempuan telah berhasil meraih kepemimpinan dalam sistem politik modern Korea Selatan. Berawal dengan keberhasilan Chang Sang ditunjuk sebagai Perdana Menteri pada tahun 2002. Lalu disusul oleh penunjukkan dan pengangkatan Han Myeong-Sook sebagai Perdana Menteri pada tahun 2006. Park Geun-Hye berhasil menorehkan sejarah baru dengan terpilih sebagai perempuan pertama yang berhasil terpilih menjadi Presiden Korea Selatan setelah memenangkan pemilihan umum di tahun 2012. Dalam pembahasan bagian pertama dijelaskan bagaimana struktur sosial yang secara dominan ditemukan dalam masyarakat Korea seperti patriarki dan Konfusianisme, berperan sebagai medium yang tidak hanya membatasi tetapi dalam konteks tertentu juga memfasilitasi kemunculan perempuan sebagai pemimpin politik. Tidak kalah penting dengan analisis pertama, di bagian kedua akan ditelaah bagaimana tokoh-tokoh perempuan ini memanfaatkan sumber daya dan pengaruh mereka sebagai agen politik untuk meraih posisi kekuasaan yang dapat mengubah status quo. Bagaimana akhirnya mereka secara riil menggunakan kekuasaan tersebut untuk mengubah status quo terutama dalam konteks kesetaraan gender di Korea Selatan, akan menutup pembahasan ini.
The main objective of this research is to analyze women's rise to political leadership in South Korea, with equal emphasis on structural changes and the power of agency as its factors. Three women have risen to political leadership in modern day South Korea. Chang Sang and Han Myeong-Sook appointed as Prime Minister in 2002 and 2006 respectively. Park Geun-Hye won popular election in 2012 and crowned as the first woman to held Presidency. How prominent structures found in Korean society such as Confucianism and patriarchy act as both limiting and enabling structure in shaping their rise to political leadership will be explained in first part of analysis. As important as the first part, how these women utilize their resources to act as agent in advancing their political career and ascent to position in which they apt to make difference in status quo, will be the focus of second analysis. Lastly, analysis on how their leadership actually contributed to enhancement of gender equality in South Korea will conclude this study.
Kata Kunci : women, leadership, gender equality, South Korea, structure, agency