Jaminan Sosial Pekerja Informal Pengrajin Batik Tulis Giriloyo (Studi Tentang Jaminan Sosial Kelompok Sekar Arum Di Dusun Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten bantul)
BANGUN OKY EFISIANTO, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si.
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Usaha mikro, melalui Industri kecil seringkali menjadi sektor yang dinomorduakan oleh pemerintah. Sebenarnya usaha mikro, kecil, dan menengah maupun home industry adalah bentuk perekonomian rakyat yang potensial. Jika industri rumah tangga lebih diperhatikan, maka sektor tersebut mampu menjadi jalan pemecahan masalah dasar pembangunan di Indonesia. Pengembangan home industry batik tulis tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kendala pola pengembangan homeindustry adalah mengenai permodalan yang minim dan termasuk usaha informal yang tidak memiliki sistem jaminan sosial formal untuk melindungi para pekerjanya. Berkembangnya industri batik seiring dengan pengukuhan oleh dunia membuat peminat batik tulis maupun cap semakin melonjak tajam. Dengan demikian tentunya peningkatan penghasilan dapat dirasakan oleh para produsen. Namun hal tersebut belum tentu dirasakan oleh para pekerja ataupun buruh batik tulis. Status mereka sebagai pekerja informal khususnya pada pengrajin batik membuat mereka memperoleh sedikit kesempatan untuk memiliki jaminan sosial sebagai pekerja. Kondisi dan persoalan tersebut tentunya juga dialami oleh buruh batik di daerah Giriloyo, Wukirsari, Bantul. Salah satu kelompok batik tulis di Dusun Giriloyo, Wukirsari, yaitu Kelompok Sekar Arum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis data dari beberapa informan yang dipilih secara purposive sampling, menggunakan uji kredibilitas, yaitu triangulasi, konfirmabilitas, dan diskusi sebagai teknik pemeriksaan keabsahan datanya. Dari hasil analisis data yang dilakukan, Meskipun sektor informal cepat berkembang dan merupakan sektor yang secara mayoritas mencakup aktivitas dari masyarakat Indonesia, tetapi sektor informal memiliki resiko yang tinggi. Resiko yang sering kali dihadapi oleh para pelaku sektor informal sendiri sering tidak terduga datangnya, dan sering kali beresiko pada kebangkrutan. Belum adanya jaminan sosial formal yang melindungi para pekerja sektor informal sangat disayangkan mengingat keberadaan kelompok-kelompok batik memiliki alternatife dalam mengembangkan perlindungan dan menciptakan jaminan sosial bagi anggota kelompok. Sekar Arum sebagai salah satu kelompok batik digiriloyo merupakan kelompok yang sukses dalam mengembangkan produksi kerajinan batik. Namun peranan kelompok dalam hal ini hanya terbatas pada keberlangsungan kelompok dan belum menyentuh kepada jaminan kelompok terhadap resiko yang mungkin dialami oleh anggota. Tata kelola organisasi dalam kelompok Sekar Arum yang tidak seimbang menempatkan para pengrajin batik sebagai anggota pada kondisi yang semakin rentan. Terlihat belum adanya upaya dari pengurus kelompok untuk memberikan fasilitas perlindungan seperti jaminan sosial terhadap semua anggotanya.
Micro-enterprises, through small industry sector are often under-emphasized by the government. Actually micro, small, and medium or home industry is a potential form of the people's economy. If the domestic industry more attention, then the sector can become the basic troubleshooting development in Indonesia. Development batik home industry is certainly not as easy as turning the palm of the hand. Homeindustry development pattern constraint is the lack of capital and includes informal businesses that do not have formal social security system to protect workers. Batik industry develops in line with the strengthening of the world make batik and stamp enthusiasts increasingly jumped sharply. Thus the increase in revenue would be felt by the producers. But it is not necessarily felt by the workers or laborers batik. Their status as informal workers, especially in batik making them gained less opportunity to have social security as workers. The conditions and the issue must also be experienced by workers in the area Giriloyo batik, Wukirsari, Bantul. One group of batik in Hamlet Giriloyo, Wukirsari, the Group Sekar Arum. This study is a qualitative research with data analysis from several informants chosen by purposive sampling, using a credibility test, namely triangulation, confirmability, and discussion as a technical examination of the validity of data. From the results of data analysis, Despite the fast growing informal sector and a sector that includes the majority of the activities of the people of Indonesia, but the informal sector has a high risk. Risks often faced by informal sector actors themselves often unexpected arrival of, and are often at risk of bankruptcy. The absence of formal social security that protects workers the informal sector is very unfortunate given the existence of groups of batik have alternatives in developing and creating social security protection for members of the group. Sekar Arum as one digiriloyo batik group is a group that is successful in developing batik production. However, the role of the group in this case is limited to the sustainability of the group and has not touched the group guarantees against risks that may be experienced by members. Organizational governance within the group Unbalanced Sekar Arum puts batik craftsmen as members in an increasingly vulnerable conditions. Appear to have the efforts of the group management to provide facilities such as social security protection to all members.
Kata Kunci : Jaminan sosial, Kelompok batik, Pekerja informal/Social security, batik groups, informal workers